Kilang Minyak Arab Saudi Diserang Kelompok Houthi Yaman

RUANGNEGERI.com – Kelompok Houthi dari Yaman dikabarkan kembali menyerang pusat kilang minyak Aramco milik Arab Saudi untuk yang kedua kalinya dalam sepekan terakhir. Serangan kali ini terpusat di kota penyulingan Jazan, kota di wilayah selatan Arab Saudi.

Melansir Reuters (15/04/2021), penyerangan dilakukan dengan menggunakan pesawat tanpa awak dan rudal pada hari Kamis, 14 April 2021.

Salah satu sasaran utamanya, kilang minyak raksasa Aramco, mengalami kebakaran. Belum ada konfirmasi resmi dari Kerajaan Saudi tentang serangan Houthi kali ini.

Namun koalisi yang dipimpin oleh Saudi yang memerangi Houthi di Yaman sebelumnya menyatakan beberapa puing dari empat drone serta lima rudal balistik yang berhasil dicegat pada malam harinya, pagi hari berikutnya telah mendarat di lapangan Universitas Jazan.

Baca juga: Myanmar Memanas, 2 Demonstran Penolak Kudeta Militer Ditembak Mati

Serangan kelompok Houthi sebelumnya terjadi pada awal Maret lalu. Tepatnya di Ras Tanura, Provinsi Timur yang merupakan situs lepas pantai terbesar di dunia, sekaligus pengekspor minyak bumi.

Serangan tersebut dilaporkan tidak menimbulkan korban luka, tewas maupun kehilangan harta benda. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyatakan bahwa tindakan dari kelompok militer Houthi ini sebagai “serangan teroris pengecut.”

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan telah mencegat pesawat tanpa awak yang datang dari laut sebelum mengenai sasaran. Pecahan peluru dan rudal balistik jatuh di dekat kompleks perumahan warga di Dhahran, Provinsi Timur.

“Salah satu area tangki minyak di Pelabuhan Ras Tanura di Wilayah Timur yang merupakan salah satu pelabuhan minyak terbesar di dunia telah diserang dari laut oleh pesawat tanpa awak pagi ini,” demikian pernyataan kementerian yang dirilis oleh Agen Pers Saudi sebagaimana melansir Aljazeera (07/03/2021).

Baca juga: AS Kembali Masuk ke Paris Agreement, Bagaimana Pendanaannya?

Sikap AS Terhadap Kelompok Houthi

Kelompok Militer Houthi telah melakukan intervensi di Yaman pada tahun 2015 setelah mereka menggulingkan pemerintahan Yaman dan ibu kota Sanaa. Secara luas, konflik ini dilihat pada wilayah tersebut sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran.

Juru bicara kelompok militer Houthi, Yahya Sarea mengatakan pada hari Minggu bahwa kelompok mereka telah menembakkan 14 pesawat tanpa awak dan 8 rudal balistik. Serangan tersebut dinamai oleh kelompok mereka sebagai “operasi besar di jantung Arab Saudi”.

Baru-baru ini, Houthi meningkatkan serangan lintas batas ke Arab Saudi pada saat Amerika Serikat dan PBB mendorong gencatan senjata. Gencatan senjata ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali negosiasi politik yang gagal untuk mengakhiri peperangan, melansir Reuters (07/03/2021).

Baca juga: Israel Gempur Pemukiman Desa di Palestina Hingga Rata

Mantan Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah melabeli kelompok ini sebagai kelompok teroris. Pernyataan dari Trump ini didukung oleh Arab Saudi. Namun pada pertengahan Februari lalu, pemerintahan baru AS di bawah Joe Biden sempat mencabut label teroris terhadap kelompok Houthi.

Akibatnya, pencabutan tersebut dinilai malah menggiring kelompok militer ini menjadi lebih berani dalam melakukan aksinya. Washington pun akhirnya mengumumkan penghentian dukungan tersebut dan akan membantu Arab Saudi dalam hal pertahanan.

Bulan Maret lalu, Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi pada kelompok ini. Sanksi tersebut dijatuhkan kepada dua pemimpin militer Houthi sekaligus menjadi sanksi pertama yang dilakukan AS pada kelompok militer ini.

Baca juga: Iran dan AS Siap Negosiasi Nuklir ‘Tahap Awal’

Iran Dituduh Berada di Balik Layar

Serangan ke titik kilang minyak di Arab Saudi sejauh ini memang banyak diklaim oleh kelompok Houthi sebagai aktor utamanya. Namun pemerintah Kerajaan Saudi menilai bahwa serangan itu tidak serta-merta berasal dari Yaman.

Akibat serangan tersebut, Arab Saudi harus menutup lebih dari separuh produksi minyak mentahnya. Langkah penutupan kemudian diikuti oleh melonjaknya harga minyak. Arab Saudi menuduh Iran sebagai dalang di balik serangan ini, tetapi Iran telah membantahnya.

“Tindakan sabotase seperti ini tidak hanya menargetkan Kerajaan Saudi, tetapi juga keamanan dan stabilitas pasokan energi dunia serta ekonomi global,” ungkap juru bicara pemerintah di hadapan awak media.

Juru bicara Kementerian Pertahanan dan pimpinan koalisi militer Saudi, Kolonel Turki al-Maliki menyatakan bahwa kementerian akan mengambil “semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi aset negara,” tegasnya.

Nur Fauziyah Pradita

Alumnus Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menaruh minat pada isu-isu internasional dan pembangunan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *