Ketahui 6 Teori Perkembangan Balita Menurut Teori Neuropsikoanalitik

RUANGNEGERI.com – Perkembangan balita terus berlangsung hingga mereka menjadi dewasa. Proses ini bahkan akan terus berlangsung hingga mereka menjadi dewasa dan menua.

Perkembangan tiap manusia mulai dari balita dipelajari dalam ilmu psikoanalisis. Yaitu ilmu yang mempelajari tentang fungsi dan perilaku psikologis manusia. Teori dalam bidang ini berkembang menjadi neuropsikoanalitik.

Neuropsikoanalitik adalah ilmu yang menggabungkan antara ilmu saraf dengan psikologi manusia. Kolaborasi keduanya akan menghasilkan pemahaman konsep yang lebih terintegrasi dan dinamis.

Meski merupakan gabungan antara ilmu saraf dan psikoanalisis, namun dalam neuropsikoanalitik membahas bidang neuropsikologi secara lebih luas. Hubungan otak manusia dengan fungsi dan perilaku psikologis sangatlah erat dan tidak dapat disangkal.

Kesimpulan itu sejalan dengan konsep Cognitive Psychology and Cognitive Neuroscience, yang menerangkan bahwa neuropsikologi memetakan hubungan antara fungsi otak dan perilaku manusia.

Neuropsikologi juga meneliti disosiasi dan asosiasi. Yakni dengan menggunakan metode penelitian teknologi untuk membuat gambar fungsi otak.

Jadi, neuropsikoanalitik mempunyai pengaruh yang besar pada perkembangan setiap manusia, khususnya pada masa balita.

BACA JUGA: Mengenalkan Angka pada Anak? Gunakan Alat-alat Sederhana Ini

Perkembangan Balita Dalam Teori Neuropsikoanalitik

Dalam dunia psikoanalitik, nama Sigmund Freud sudah dikenal luas oleh siapapun. Teori yang dikemukakannya senantiasa berdasarkan fakta yang ada pada perkembangan manusia, khususnya pada masa balita.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting (Volume 1), menyebutkan bahwa ahli teori neopsikoanalitik seperti Spitz dan Mahler mengatakan teori yang mencakup tiga tahun pertama kehidupan.

Masa balita kemudian dibagi lagi menjadi dua atau tiga fase. Proses perkembangan ego selama masa bayi yang melibatkan dua untaian saling terkait disebutnya dengan pemisahan dan individuasi.

Masa ini melibatkan tiga tahap latihan, pemulihan hubungan dan individuasi seperti rasa keterpisahan dari ibu ditambah dengan perasaan yang seimbang kekuatan dan ketergantungan pribadi.

Seperti halnya otonomi, seorang anak dibantu menuju individuasi oleh seorang ibu yang secara fleksibel menanggapi tuntutan yang saling bertentangan.

Dalam teori neuropsikoanalitik yang berlandaskan pemikiran Sigmund Freud, perkembangan balita dibagi menjadi enam fase atau tahapan.

Pertama adalah Fase Infantil. Fase ini berlangsung sejak anak lahir. Pada tahap awal ini, naluri seks menjadi fokus utama dalam pembentukan kepribadian anak.

Kedua adalah Fase Oral (0-1 tahun). Tahap ini membuat seorang anak suka memasukkan segala sesuatu melalui mulutnya.

Ketiga yaitu Fase Anal (1-3 tahun). Pada tahap ini, kesenangan seorang anak akan didapat dari aktivitas buang air besar. Sebab, hal itu dapat menghilangkan rasa tertekan dan tidak nyaman pada tubuh.

Keempat adalah Fase Falik (3-5 tahun). Pada fase ini, seorang anak memperoleh kesenangan melalui organ kelaminnya seperti memandang ibu atau ayah sebagai sumber rasa sayangnya.

Kelima yakni Fase Laten (5-12 tahun). Fase yang juga dikenal dengan pubertas. Yaitu ditandai dengan mulai timbulnya kepentingan aspek moral dan mampu memilih kesenangan lain yang sifatnya non-seksual.

Keenam adalah Fase Genital (12 tahun-dewasa). Pada fase terakhir ini, seseorang akan menyalurkan keinginan seksual mereka melalui objek luar. Orientasi hidupnya juga mengalami perubahan cenderung menjadi sosialis dan realistis.

Lebih lanjut lagi, Bornstein mengatakan bahwa dalam teori yang dinyatakan oleh Adelson dan Dorman, proses individuasi yang dimulai selama masa bayi dan berlanjut hingga akhir masa remaja, melibatkan penajaman bertahap dan progresif dari rasa diri seseorang yang terpisah dari orang tua.

Pola asuh yang ditoleransi dan dibiarkan lepas akan mempengaruhi perkembangan psikososial adaptif pada setiap anak.

Seorang anak yang sebelumnya patuh dan penuh hormat, kemungkinan akan berubah menjadi pendendam, menentang dan berbagai tindakan yang tidak dapat diprediksi lainnya.

BACA JUGA: Agar Si Kecil Mandiri, Ajarilah Skema Problem Solving Ini

Psikoanalitik dalam Perkembangan Balita

Ketika seorang balita tumbuh dan berkembang, maka bagian dalam segi otak biologis dan psikologis juga akan ikut berkembang. Perkembangan ini akan berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.

Setiap orang tua harus bisa mengawasi dan mendampingi perkembangan anak sesuai dengan tahap atau fase  perkembangannya.

Tujuannya adalah agar apa yang seharusnya didapat anak dari orang tua tidak didapat dari orang lain yang tidak jelas asalnya.

Jika orang tua sampai salah langkah dalam pengasuhan anak, maka anak akan bisa mengalami perubahan perkembangan ke arah yang salah.

Martin Maldonado-Duran, M.D (2002) dalam bukunya berjudul Infant and Toddler Mental Health Models of Clinical Intervention With Infants and Their Families, menyebutkan bahwa menurut pemahaman psikoanalitik, tempat untuk bayi berkembang dalam kondisi normal berawal dari pikiran pengasuh bayi.

Tahapan itu merupakan ruang interaksi psikososial. Yakni dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas ketika anak-anak mulai berpartisipasi dengan cara yang melampaui batas keluarga.

BACA JUGA: Didik Anak Secara Optimal dengan Teori Kognitif Piaget

Perilaku Anak Sesuai Teori Psikologi

Secara psikologis, anak akan berperilaku sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dalam otaknya. Apa saja yang masuk ke otak dan mereka pikirkan maka akan mempengaruhi kondisi psikologi setiap anak.

Hal inilah yang menjadi dasar kewajiban tiap orang tua untuk memahami tahapan perkembangan anak sejak dari bayi.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2014) dalam bukunya No-drama Discipline : The Whole-Brain Way To Calm The Chaos And Nurture Your Child’s Developing Mind, menegaskan bahwa koneksi antar neurologis akan memperkuat serat penghubung antara otak lantai atas dan bawah.

Dengan demikian, maka bagian otak yang lebih tinggi dapat berkomunikasi secara lebih efektif dengan menggunakan impuls yang lebih rendah dan lebih primitif.

Jadi, orang tua harus mengerti apa yang harus mereka berikan pada setiap perkembangan anak yang sejalan dengan perkembangan otaknya. Sebab hal itu akan berpengaruh pada kondisi kejiwaannya.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menyebutkan bahwa salah satu aspek terindah dari perjalanan menjadi orang tua yaitu proses dalam membesarkan anak dengan kesadaran penuh.

Selain itu juga diperlukan komitmen psikologis, emosional dan spiritual yang diperlukan untuk membesarkan seorang anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *