Kesenjangan Gender pada Gerakan ‘Ramah Lingkungan’

RUANGNEGERI.com – Kejadian yang kerap kita jumpai di sehari-hari, jika ingin mengurangi dampak dari pilihan konsumen terhadap lingkungan, satu-satunya pilihan adalah menggunakan tas belanja sendiri.

Melansir dari The Guardian (02/10/2020), memberitakan bahwa belakangan ini, perbelanjaaan yang berwawasan lingkungan dipenuhi dengan pilihan “hijau”. Salah satunya adalah munculnya pembalut yang dapat digunakan kembali (menstrual cup).

Saat ini, produk tersebut bisa bebas plastik. Wadah kosmetik juga semakin banyak yang dibuat dari bahan kaca dan aluminium. Berbagai merek kaus kaki juga banyak yang menggunakan kain dari bahan yang lebih ramah lingkungan.

Mengingat banyaknya kerusakan planet ini salah satunya juga akibat dari ola konsumsi manusia. Kita menyadari bahwa dorongan untuk melestarikan ekosistem keberlanjutan adalah dimulai dari perubahan diri sendiri.

Tetapi sebagai seorang laki-laki, saya melihat bahwa sebagian besar produk ramah lingkungan masih lebih banyak dipasarkan untuk kaum hawa.

Ada alasan yang jelas (dan menyedihkan) untuk hal ini. Perempuan bukan hanya konsumen yang lebih kuat, tetapi juga dinilai masih lebih bertanggung jawab terhadap ranah domestik. Hal ini yang dimaksudkan sebagai bentuk “kesenjangan gender.”

Jack Duckett (2018), seorang analis senior tentang gaya hidup konsumen, mengatakan bahwa perempuan masih cenderung bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumah tangga, berkutat dengan cucian, bersih-bersih rumah dan aktivitas domestik lainnya .

Akan tetapi, dengan kampanye ramah lingkungan dan klaim bahwa produk sebagian besar ditujukan untuk audiens perempuan, pengiklan justru dinilai justru berisiko menyampaikan pesan bahwa keberlanjutan adalah pekerjaan perempuan.

Ide tersebut berbahaya karena kesan yang muncul adalah penggambaran terus-menerus bahwa perempuan sebagai ‘pengasuh’ planet ini.

BACA JUGA: Diskriminasi Gender Lowongan Kerja di Tiongkok: Seksisme yang Melanggeng

Janet K Swim, seorang profesor psikologi di Pennsylvania State University yang telah melakukan penelitian ekstensif tentang konsekuensi sosial dari perilaku ramah lingkungan.

Dia merujuk ke sebuah kartun politik yang menunjukkan Theodore Roosevelt, Presiden AS dari tahun 1901 hingga 1909, mengenakan celemek, “berusaha mengaku diri mengejeknya sebagai feminin” karena kebijakan konservatifnya.

Perempuan lebih cenderung green life style dari pada laki-laki sudah terlihat di awal 90-an. Kesenjangan gender tersebut disebabkan oleh perbedaan kepribadian.

Penelitian dari pertengahan 90-an hingga awal 2000-an menunjukkan kecenderungan perempuan yang lebih besar untuk menjadi pro-sosial, altruistik dan empatik. Selain itu juga untuk melakukan perawatan yang lebih kuat dan memiliki perspektif yang berfokus pada masa depan.

Rachel Howell, seorang dosen dalam pembangunan berkelanjutan di Inngris, menyebutkan bahwa perempuan memiliki tingkat sosialisasi yang lebih tinggi untuk peduli terhadap orang lain. Selain itu juga dinilainya lebih bertanggung jawab secara sosial.

Sikap itu kemudian mengarahkan mereka untuk peduli terhadap masalah lingkungan dan bersedia mengadopsi perilaku lingkungan.

Subjek penelitian yang dilakukannya adalah banyak mahasiswa perempuan di tingkat sarjana di University of Edinburgh, tempatnya mengajar.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa feminitas dan “greenness” telah dikaitkan secara kognitif (oleh laki-laki dan perempuan) dan hasilnya sebagian besar laki-laki enggan melakukan itu.

BACA JUGA: Menggagas Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Berkelanjutan

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2019 lalu di jurnal Sex Roles, Swim dan rekan-rekan peneliti di Penn State menemukan bahwa laki-laki bisa saja segan membawa tas belanjaan yang dapat digunakan kembali.

Atau mendaur ulang serta melakukan kegiatan ramah lingkungan apa pun yang telah diasosiasikan sebagai feminin. Hal itu terjadi karena takut dianggap sebagai gay atau banci.

Demikian pula, sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Consumer Research (2016), menemukan bahwa laki-laki mungkin termotivasi untuk menghindari atau bahkan menentang perilaku ‘hijau’ untuk melindungi identitas gender mereka.

Pun partisipasi mereka dapat didorong dengan melemahkan hubungan antara sikap yang feminim dan pola hidup keberlanjutan. Lebih baik ‘kelihatan’ maskulin dari pada meski menggunakan dan melakukan aktivitas green life style.

Freedom dan Package Free Shop misalnya, dua peritel online tanpa limbah populer menyebutkan bahwa mereka berusaha untuk memasarkan produk yang netral gender. Tetapi keduanya mengatakan bahwa sekitar 90% pelanggannya adalah perempuan.

Uniknya, analisis dari Kantor Statistik UK (2016), menunjukkan bahwa wanita melakukan rata-rata 60% lebih banyak pekerjaan yang ridak dibayar dibandingkan dengan pria. Terkait hal ini, saran Howell mungkin lebih menarik.

Bahwa untuk menutup kesenjangan gender, dalam hal siapa yang mencuci, berbelanja dan siapa yang bersih-bersih di rumah. Selain itu, singkirkan ide-ide bias tentang seperti apa produk yang berkelanjutan. Laki-laki dapat sambil membawa ransel, tote bag atau tumbler yang dapat digunakan kembali dan produk-produk ramah lingkungan lain.

Ini sekaligus menjadi pengingat agar para produsen menaruh perhatian pada keberlanjutan. Yakni mesti meluas dan netral gender di setiap produknya, bukan hanya yang menarik konsumen.

Lebih jauh lagi, kita juga harus berpikir bahwa dampak dari pilihan individu tersebut tidak ada apa-apanya jika perusahaan terus mengebor minyak dan gas dan mengeksploitasi alam.

Howell mengatakan bahwa meskipun tindakan individu itu penting, tanggung jawab individual itu masih terlalu jauh. Kita harus melihat keseluruhan dan mencoba melakukan sesuatu di tingkat masyarakat. Bahkan argumen tentang tindakan yang berarti untuk mencegah krisis iklim pun harus memperhatikan garis gender.

Studi lain oleh Janet K. Swim, dkk (2028) yang berjudul Gendered Discourse About Climate Change Policies, menyimpulkan bahwa laki-laki lebih menyukai argumen yang berpusat pada sains dan bisnis.

Selain itu, mereka juga cenderung “mengaitkan sifat-sifat feminin sebagai suatu yang negatif”. Laki-laki yang berargumen berdasarkan etika dan keadilan lingkungan, biasanya dianggap melakukan hal-hal yang feminim.

Perempuan cenderung kurang percaya pada institusi, kata Howell, yang mungkin berarti mereka kurang percaya pada kemampuan sains, teknologi dan pemerintah untuk mengatasi masalah yang kita hadapi.

Kaum laki-laki, bagaimanapun, secara historis dilayani dengan baik oleh status quo.

BACA JUGA: Fenomena Lockdown dan Perubahan Iklim

Lebih cenderung untuk percaya bahwa jika mereka menerima ada masalah, maka seseorang atau beberapa teknologi akan menyelesaikan semuanya. Kita tidak perlu mengubah gaya hidup kita ”.

Howell juga menjelaskan bahwa banyak problem secara historis diciptakan lebih banyak oleh laki-laki. Hal itu karena mereka memiliki lebih banyak ‘kekuatan’.

Di sisi lain, kadang-kadang perempuan nampak semakin putus asa dalam mencoba menyelesaikannya. Atau mungkin memiliki lebih sedikit ‘kekuatan’ untuk melakukan hal-hal yang banyak dilakukan oleh kaum pria.

Tetapi dunia sedang berubah. Para milenial dan generasi Z (mereka yang lahir antara awal 80-an dan pertengahan 00-an) kini banyak terbukti selaras secara luas pada krisis iklim.

Berdasarkan laporan data terbaru yang dikumpulkan di AS oleh Pew Research Center menunjukkan bahkan kaum muda lebih cenderung mengatakan bahwa pemerintah perlu berbuat lebih banyak.

Gerakan untuk menyadarkan masyarakat terkait iklim banyak diinisiasi oleh para pemuda. Di antaranya banyak laki-laki yang memiliki concern atau kepedulian tinggi untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *