Kenali Efek Model Interaksi dalam Skema Parenting

RUANGNEGERI.com – Interaksi dapat dikatakan sebagai hubungan yang dilakukan oleh seseorang. Hubungan ini dapat terjadi antara sesama manusia atau terhadap lingkungan sekitar, baik secara langsung maupun tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi antara orang tua dan anak hampir selalu terjadi. Apapun bentuk interaksi yang dilakukan, tentulah akan memberikan efek atau dampak pada perkembangan anak.

Apa yang terjadi dalam kehidupan anak, mayoritas mendapatkan pengaruh dari keluarga. Mengingat, keluarga adalah tempat pertama setiap anak mendapatkan pengasuhan.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting (Volume 1), menyatakan bahwa interaksi langsung, identifikasi serta pengetahuan tentang anggota keluarga adalah tiga cara keluarga mempengaruhi anak-anak.

Interaksi memiliki pengaruh yang paling besar terhadap perkembangan kognitif dan karakter anak. Sedangkan identifikasi dan pengetahuan memiliki pengaruh yang lebih besar pada kepercayaan diri atau keraguan tentang bakat anak.

Setiap anak akan mempunyai harapan tentang masa depan melalui interaksi dan kolaborasi yang mereka lakukan. Hal ini tentu tak lepas dari peran keluarga yang memberi pengaruh pada kondisi mental anak, persahabatan sebaya, kualitas sekolah, peristiwa hingga berbagi tugas dalam keluarga.

BACA JUGA: Kecerdasan Linguistik atau Word Smart untuk Optimalisasi Kecerdasan Anak

Efek Interaksi Terhadap Perkembangan Si Kecil

Sebuah hubungan yang terjadi selalu memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, entah itu besar atau kecil. Untuk itu, setiap orang tua harus dapat mengenali dengan baik mengenai model interaksinya.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, mengatakan bahwa hanya dengan mewujudkan esensi dalam interaksi sehari-hari, orang tua dapat membantu anak-anaknya menemukan jalan kembali ke rasa lega.

Hal itu memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi sesuatu dengan baik dalam setiap situasi. Orang tua mungkin akan merasa bersalah jika tidak menempatkan kebutuhan anak setara dengan kebutuhannya. Namun, tetap harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan yang adil.

Model interaksi yang berbeda, akan memberikan dampak yang berbeda pula. Untuk mendapatkan dampak yang positif, maka orang tua harus memilih untuk melakukan interaksi yang sesuai dengan keadaan si kecil.

Mary Eming Young & Linda M. Richardson (2007) dalam bukunya Early Child Development From Measurement to Action, mengatakan bahwa perkembangan anak usia dini bergantung pada tingkat interaksi pengasuh dengan anak dan juga dukungan sosial.

Orang tua atau pun pengasuh yang mempunyai waktu interaksi cukup lama dengan anak akan memberikan dampak yang luar biasa pada perkembangan anak. Setiap anak akan cenderung terbentuk dari apa yang diperolehnya secara konsisten.

Seorang anak yang terbiasa melihat orang tuanya terus-menerus merendah dengan mengorbankan kebutuhannya sendiri untuk orang lain, maka mereka akan belajar untuk merendahkan diri demi orang lain.

Namun, jika anak melihat orang tuanya ragu-ragu atau sulit untuk menerima kehidupan dalam bentuk apa pun yang dihadirkannya, maka mereka pun akan meniru keraguan tersebut.

Selain itu, pengetahuan moral dan spiritual kepada anak-anak ketika mengembangkan kemampuan juga penting untuk menjaga emosinya sendiri. Sebab, pola pikir pola pikir tersebut akan tertanam hingga dewasa nanti.

BACA JUGA: Reinforcement Positif pada Anak: Pengertian, Contoh dan Fungsinya

Membentuk Interaksi Parenting untuk Si Kecil

Sebelum anak-anak tumbuh menjadi dewasa, mereka akan melewati berbagai proses yang begitu cepat berubah. Perubahan ini terus bergerak hingga memasuki situasi sosial formal atau informal, seperti kelompok bermain dan sekolah.

Meski terlihat sebagai selayaknya dunia mereka, namun anak-anak akan merasa kesulitan jika tidak memiliki pengetahuan awal mengenai hal tersebut. Melalui pengalaman yang didapatkan langsung dari interaksi di keluarga, anak-anak akan memahami dengan baik bagaimana seharusnya dirinya bersikap di lingkungan lebih luas.

Stephanie Petrie & Sue Owen (2005) dalam bukunya Authentic Relationships in Group Care for Infants and Toddlers, mengatakan bahwa pendidikan orang tua dalam format diskusi sangatlah diperlukan.

Caranya bisa dikombinasikan dengan hubungan antara orang tua dengan anak maupun juga interaksi antar sesama bayi. Melalui model interaksi ini, orang tua akan menemukan banyak hal tentang anak mereka. Selain itu, anak juga sekaligus akan tahu tentang diri mereka sendiri.

Untuk memulai interaksi tersebut, orang tua dan anak haruslah responsif. Interaksi ini dapat dibentuk misalnya saja disaat anak bebas bergerak, sedangkan orang tua tetap diam di satu tempat. Untuk beberapa saat, anak akan bergerak menemukan orang tuanya.

Namun, orang tua harus tetaplah mengawasi dengan baik. Pengawasan ini dapat membantu mengantisipasi dan mencegah si kecil menyakiti orang lain secara tidak sengaja.

Contoh langkah-langkah lain dalam membangun model interaksi parenting yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membentuk kelompok kecil (enam – delapan ibu, ayah atau pengasuh dan bayi lainnya)
  • Menentukan waktu yang lama dan tidak tergesa-gesa (seminggu sekali selama satu setengah – dua jam)
  • Ruang aman yang disiapkan dengan baik
  • Seorang pendidik/ fasilitator yang terlatih
  • Suasana berbagi yang santai

Dalam model interaksi ini, anak dan orang tua dapat saling menghargai. Secara natural, anak juga akan merasa dihargai karena bisa berpartisipasi.

Dengan begitu, maka orang tua akan menjadikan pertemuan keluarga sebagai kesempatan yang sangat khusus untuk membangun hubungan dengan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *