Kawah Ijen, Kisah tentang Kerasnya Kehidupan Para Penambang Belerang

RUANGNEGERI.com – Kawah Ijen merupakan bagian paling dasar dari Gunung api setinggi 2.368 mdpl, tak lain adalah Gunung Ijen. Kawah ini sekaligus merupakan salah satu primadona wisata Indonesia yang terletak di bagian paling timur Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi.

Berbicara mengenai kabupaten yang satu ini, ia merupakan daerah wisata yang tak pernah mati. Sebab, ia menjadi salah satu destinasi yang selalu diminati oleh pengunjung, baik lokal maupun mancanegara.

Bahkan, Banyuwangi dinobatkan sebagai kawasan wisata dengan tagline “The Sunrise of Java” karena keindahan matahari terbitnya di Kawah Ijen yang tiada tara.

Selain Kawah Ijen, Banyuwangi memiliki banyak destinasi wisata unggulan lain yang tak kalah menarik. Misalnya, Taman Nasional Baluran, Pulau Merah, Teluk Hijau dan Taman Nasional Alas Purwo.

Tetapi, dari seluruh destinasi wisata yang ada di Banyuwangi, rasa-rasanya belum ada yang mampu mengalahkan popularitas dari Kawah Ijen dengan Blue Fire-nya yang fenomenal.

Pemandangan ini hanya dapat ditemukan di dua tempat dari seluruh dunia. Di Kawah Ijen Banyuwangi dan di negara Islandia, Eropa.

BACA JUGA: Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan

Perjuangan Para Penambang Belerang di Balik Keindahan Kawah Ijen

Kawah Ijen, Kisah tentang Kerasnya Kehidupan Para Penambang Belerang - Penambang Belerang
Potret salah satu penambang belerang saat hendak membawa belerang ke bawah, Sumber: Instagram/muchson_ali

Tetapi, tahukah kamu di balik keindahan panorama alam yang menakjubkan itu, Kawah Ijen menyimpan cerita kerasnya kehidupan para penambang belerang di sana?

Ratusan penduduk lokal di sekitar Gunung Ijen berprofesi sebagai penambang belerang. Tiap harinya, mereka harus naik turun gunung untuk mengangkut pecahan-pecahan batu belerang yang sekali angkut beratnya bisa mencapai 50 – 80 kg. Tergantung tingkat kekuatan punggung penambang.

Untungnya, beberapa tahun belakangan ini mereka bisa menggunakan gerobak untuk mengangkut batuan belerang yang sangat berat itu. Sehingga, setidaknya pundak dan punggung mereka tak menanggung beban kerja berlebihan seperti sebelum-sebelumnya.

Gerobak itu, selain mereka gunakan untuk mengangkut bongkahan belerang, juga mereka manfaatkan untuk membuka jasa mengangkut wisatawan yang kelelahan mendaki hingga ke atas.

Wisatawan ini ditarik menggunakan gerobak hingga ke atas kawah. Tentu dengan ongkos yang sebanding dengan kerja keras pemberi jasa.

Para penambang belerang ini mulai mendaki ke puncak Ijen sejak dini hari sekali dengan hanya menggunakan outfit sederhana, yaitu jaket tipis, senter di kepala dan sarung tangan. Tak semua penambang menggunakan masker.

Perjalanan ke puncak Ijen dilalui sejauh kurang lebih 3 km dan dalam waktu dua jam. Setelah sampai di puncak, para penambang ini kemudian menuruni lereng terjal menuju bagian dasar kawah.

Di sinilah mereka mengambil bongkahan belerang. Tentu mereka harus memecahkannya menjadi beberapa bagian yang dapat mereka angkut.

Dulu, sebelum adanya gerobak, mereka memanggul dua keranjang penuh berisi bongkahan belerang di pundak mereka. Kembali meniti jalan terjal ke puncak kawah untuk kemudian menuruni gunung dan menimbang hasil belerang yang dapat mereka angkut ke bawah.

Di tengah perjalanan, sesekali mereka berhenti untuk beristirahat. Bagi mereka sendiri, meskipun telah terbiasa, tetaplah tak mudah melakukan pekerjaan sebagai penambang belerang.

Belum lagi, ketika liburan mereka harus berbagi jalan yang sudah terjal dan sempit itu dengan para wisatawan.

Sebenarnya ada alternatif jalan lain yang bisa mereka pilih selain menggunakan jalur seperti yang digunakan wisatawan. Yaitu dengan menyeberangi danau menggunakan perahu.

Namun jalur ini terlalu berbahaya. Tak ada lagi penambang yang berani menggunakannya. Pernah ada kejadian di mana beberapa penambang hilang di tengah danau dan mayatnya tidak pernah ditemukan.

Tak sedikit penambang yang jatuh ke cairan belerang yang amat panas di dalam kawah.

Hal itu terjadi baik karena memang kurang hati-hati, maupun seperti kepercayaan penduduk lokal, yaitu karena mereka tidak mengubur kepala kambing di area penambangan. Sehingga, tiba saatnya dimintai ‘jatah’ atau tumbal.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Risiko Pekerjaan Menghirup Asap Beracun

Kawah Ijen, Kisah tentang Kerasnya Kehidupan Para Penambang Belerang - Hasil Tambang Belerang
Banyaknya belerang yang harus dibawa para penamban, Sumber: Instagram/suka_senja

Risiko itu belum termasuk ancaman bahaya dari pekatnya asap belerang yang harus mereka hadapi ketika turun ke kawah untuk mengambil bebatuan belerang.

Mereka harus berjibaku dengan asap beracun yang tingkat bahayanya mencapai 40 kali lipat di atas batas aman bagi pernapasan. Jangankan protokol kesehatan, masker dan pelindung kulit saja hanya mereka pakai seadanya.

Hanya masker kain yang menutupi sebagian wajah dan hidungnya sekedar untuk meringankan napas mereka agar tidak menghirup gas beracun secara langsung. Itu pun tidak semua menggunakannya.

Tentu saja masker kain yang tak seberapa itu tak mampu menghalau bau pekat belerang yang menusuk hidung, terasa hingga saluran pernapasan dalam. Selain masker, para penambang juga mengenakan sarung tangan kain, sepatu boot atau sandal jepit dan jaket yang tak bisa dibilang tebal untuk menutupi kulitnya dari paparan gas belerang yang beracun.

Masih ada penambang yang menggunakan sandal jepit alih-alih sepatu boot. Entah apa alasannya. Kamu bisa bayangkan sendiri betapa licinnya naik turun gunung tanpa menggunakan sepatu anti slip, melainkan hanya sandal jepit.

Padahal, tidak seperti para pengunjung yang hanya sekali naik sekali kemudian turun. Para penambang ini mesti berkali-kali naik turun gunung untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk anak – istrinya di rumah.

Dalam sehari, mereka bisa 2 hingga 3 kali bolak-balik mengambil belerang ke atas.

Beberapa dari mereka juga menggunakan head lamp sebab ketika mengambil bongkahan belerang di dasar kawah, asap tebal akan mengepul di sekitarnya sehingga tak bisa melihat dengan jelas.

Ditambah lagi, pandangan mata akan menjadi perih akibat paparan gas belerang.

BACA JUGA: Ragam dan Pesona Wisata Tanah Flores

Alasan Para Penambang Tetap Menjalankan Pekerjaan

Kawah Ijen, Kisah tentang Kerasnya Kehidupan Para Penambang Belerang - Penambang Belerang
Seorang penambang sedang membawa belerang di pundaknya, Sumber: Instagram/gothil2992

Paparan gas belerang sejak pagi hingga malam hari yang dialami oleh para penambang membuat mereka sering kali mengalami penyakit paru-paru. Seorang penambang menyatakan mereka tidak takut terjangkit penyakit atau risiko kematian, mereka lebih takut jika anak – istrinya mengalami kelaparan.

Ada banyak versi yang menyebutkan mengenai berapa penghasilan yang mereka dapatkan dari pekerjaan menambang batuan belerang setiap harinya.

Ada yang menyebutkan setiap kilo belerang yang berhasil mereka kumpulkan dan ditimbang oleh pengepul, mereka mendapatkan Rp. 800. Ada juga yang menyebutkan Rp. 1500 dan Rp. 2500 per kilo belerang.

Berdasarkan hal itu, jika dalam sehari setidaknya mereka mendapatkan 70 – 80 kg belerang, paling sedikit mereka bisa mendapatkan kisaran Rp. 56.000 hingga Rp. 64.000.

Melansir dari BBC.com (26/05/2016), disebutkan bahwa kisaran penghasilan para penambang dalam sehari adalah sekitar Rp. 150.000 hingga Rp. 250.000 dengan membawa sekitar 80 – 100 kg belerang. Dan uang itu langsung mereka dapatkan setelah menimbang dan menyerahkan belerang ke pengepul.

Jumlah itu merupakan jumlah yang besar bagi mereka. Sebab, lima kali lipat lebih besar dari pada bekerja di kebun yang hanya mendapatkan penghasilan Rp. 30.000 hingga Rp. 50.000 dalam sehari.

Oleh karena alasan inilah yang membuat mereka tetap memilih menjadi penambang belerang. Meskipun, banyak ancaman bahaya dan risiko yang harus mereka hadapi setiap harinya.

Beberapa keluhan yang mereka alami di antaranya adalah sesak napas, sakit punggung, sakit pinggang, sakit dada, pundak menebal seperti kapalan karena membawa beban berat di pundak dan sebagainya.

Untuk napas, menurut mereka itu tergantung kesehatan. Jika mengeluhkan sesak napas, mereka langsung minum susu sesampainya di rumah.

Tetapi yang lebih parah menurut mereka adalah sakit seperti linu di dengkul, pundak dan paha karena naik turun gunung.

Meskipun begitu, tak sedikit dari mereka yang mengakui bahwa pekerjaan ini merupakan panggilan jiwa dan jalan hidupnya. Bukan karena perkara penghasilan, menurut mereka itu adalah rezeki dari yang di atas.

Bukan juga karena tak ada jalan lain alias kepepet. Jika mau, mereka bisa menjadi petani di kebun. Tetapi, sebagian besar dari mereka lebih menikmati menjadi penambang belerang.

Banyak dari mereka yang telah melakukan selama puluhan tahun hingga akhir hayatnya.

BACA JUGA: Budaya Pandalungan: Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur

Tips Mendaki ke Puncak Kawah Ijen

Kawah Ijen, Kisah tentang Kerasnya Kehidupan Para Penambang Belerang - Pemandangan Sunrise di Kawah Ijen
Pemandangan Sunrise di Kawah Ijen, Sumber: Instagram/kawahijenindonesia

Jika kamu hendak pergi mendaki ke Kawah Ijen, ada beberapa tips sekaligus rules yang hendaknya kamu patuhi, seperti berikut ini:

  1. Dalam perjalanan ke puncak gunung, kamu akan menemui banyak penambang belerang, terlebih jika kamu mendaki pada dini atau pagi hari. Jalan menuju puncak terbilang terjal dan sempit, sehingga dahulukan para penambang. Dengan begitu, kamu bisa sedikit meringankan pekerjaan mereka.
  2. Jagalah sikap sopan santun kepada sesama pendaki, terlebih pada para penambang belerang.
  3. Jika ingin menyaksikan fenomena api biru sekaligus melihat aktivitas penambangan belerang di bibir kawah, jaga jarak aman. Jangan berdiri terlalu dekat dengan bibir kawah. Gunakan masker jenis respirator agar kamu tetap bisa bernapas dengan normal. Asap belerang di sekitar kawah cukup pekat sehingga bisa membuat sesak napas.
  4. Bawa juga air mineral dan masker pengganti yang cukup. Air mineral selain untuk membasahi tenggorokan jika kamu haus di tengah perjalanan, juga untuk membasahi masker agar zat racun dan kotoran menempel di masker yang basah. Sehingga tidak terhirup ke dalam rongga pernapasan.
  5. Siapkan juga kacamata bening untuk melindungi mata kamu dari risiko iritasi dan mata pedih akibat terkena pekatnya asap belerang.
  6. Siapkan senter atau perlengkapan penerangan yang memadai untuk melakukan pendakian pada malam hari.
  7. Mendakilah sesuai kemampuan tubuhmu. Jangan terlalu memaksakan diri hanya agar sampai di puncak. Ambillah istirahat sesuai kebutuhan tubuhmu. Sebaiknya, lakukan persiapan fisik sebelum melakukan pendakian ke Kawah Ijen.

Hidup memang tak pernah mudah. Terlebih bagi para penambang belerang di Kawah Ijen.

Alam yang luar biasa indah berada di satu sisi. Namun, kehidupan keras serta perjuangan hidup dari para penambang belerang berada di sisi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *