Kasus Covid-19 di AS Masih Tinggi, Warganya Dilarang Memasuki Eropa

RUANGNEGERI.com – Negara-negara Eropa akan membuka kembali perbatasan pada tanggal 1 Juli 2020 mendatang. Hal ini dilakukan untuk mendorong kembali aktivitas ekonomi dan mengaktifkan beberapa sektor, terutama pariwisata.

Wisatawan dari seluruh dunia kembali bisa bersiap mengunjungi Eropa. Namun, hal itu tidak berlaku bagi warga asal Amerika Serikat.

Melansir dari Associated Press (24/06/2020), diberitakan bahwa kian meningkatnya kasus infeksi Covid-19 di AS menjadi alasan utama negara-negara Eropa menolak kunjungan wisatawan AS.

Alasan lainnya adalah disebabkan oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang melarang warga negara-negara Eropa memasuki wilayah AS.

Pertengahan Maret lalu, Trump mengatakan bahwa penularan virus yang tidak terdeteksi kemungkinan besar disebutnya berasal dari mereka yang berasal dari Schengen area. Area ini merupakan kesepakatan dari 26 negara Eropa yang telah menghapus kebijakan visa dan segala restriksi perbatasan.

Sebab, kedatangan warga Eropa tersebut dianggap akan “mengancam keamanan nasional, sistem transportasi dan infrastruktur kita.”

Pernyataan tersebut dibalas dengan tindakan yang sama oleh benua biru tersebut. Yakni larangan bagi warga AS yang ingin ke Eropa setelah periode lockdown dibuka.

Setiap tahunnya, diperkirakan ada sekitar 15 juta warga AS bepergian ke Eropa, sementara 10 juta warga Uni Eropa mengunjungi AS.

Warga AS juga disebut sebagai penyebab munculnya klaster baru di Spanyol. Otoritas Menorca di Pulau Mediterania membenarkan sepasang wisatawan AS positif corona. Keduanya menjalani swa-karantina sejak tiba di pulau tersebut minggu lalu.

Jumlah kasus baru Covid-19 di AS bertambah 34.700 kasus per hari Selasa, 23 Juni lalu. Dengan total kasus lebih dari 2,3 juta dan 121.000 kematian. Kondisi ini adalah yang tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Situasi ini menjadi penguat keputusan Eropa untuk menolak kunjungan dari warga AS.

BACA JUGA: Covid-19 Makin Mengganas, Begini Kondisi Penerbangan AS

Uni Eropa Bersiap Memasuki New Normal

Negara-negara Uni Eropa (UE) berencana membuka perbatasannya secara penuh untuk negara-negara di benua tersebut mulai Juli mendatang. Dengan pelaksanaan prosedur Covid-19 yang ketat, kunjungan dari warga negara di luar Eropa akan diatur dengan rinci.

Pembukaan perbatasan akan dilakukan secara penuh, semua lini bisnis akan berjalan kembali. Termasuk bar, restoran, toko dan pusat perbelanjaan.

UE berharap ekonomi negara-negara anggotanya akan segera membaik dengan dihapusnya kebijakan lockdown. Termasuk sektor pariwisata di Yunani, Spanyol dan beberapa negara lain yang nyaris kolaps di masa pandemi.

Sementara jumlah infeksi meningkat di beberapa negara, Eropa justru mengalami penurunan kasus baru. Kecuali adanya kasus tambahan di Jerman Barat.

Secara umum, penyebaran Covid-19 di Eropa melambat termasuk di 26 negara yang berada di Schegen area. Inggris masih menjadi negara Eropa dengan kasus tertinggi, yaitu 308.336 kasus. Disusul Spanyol, Italia dan Perancis.

Peraturan yang ditetapkan UE mengatur kunjungan dari negara-negara dengan populasi infeksi di bawah 100.000. Selain itu, warga di luar Eropa yang ingin berkunjung juga harus berasal dari negara dengan tingkat penanganan yang baik.

Hal itu terkait dengan respon pemerintahnya terhadap perawatan pasien dan pengadaan tes. Pengadaan sarana kesehatan yang baik dan data kasus yang lengkap.

Melihat peraturan ini, maka warga dari negara dengan jumlah infeksi tinggi seperti Brazil, Rusia dan India juga dilarang memasuki benua tersebut.

UE mengklaim berusaha menetapkan peraturan yang adil dan ketat mengenai pembukaan perbatasan ini. Hal tersebut agar lonjakan kasus baru tidak terjadi.

Penetapan warga negara mana saja yang boleh dan tidak boleh memasuki Eropa juga akan direvisi setiap dua minggu. Sesuai dengan kriteria jumlah infeksi Covid-19 di negara asalnya.

Negara-negara anggota UE berharap pembatasan kedatangan tidak menghambat mereka yang merupakan para pekerja ahli dan mahasiswa. Serta tidak tercampurnya pertimbangan keselamatan dengan intrik politik antar negara.

BACA JUGA: Industri Utama AS Terancam Bangkrut, Ini Kebijakan dari Pemerintahan Trump

Lonjakan Infeksi Baru di AS

AS menghadapi lonjakan infeksi Covid-19 yang tidak main-main dalam sepekan terakhir. Hal itu diduga akibat banyaknya warga yang tidak memakai masker dan menjaga jarak.

“Epidemi ini masih merangkak menuju angka yang lebih tinggi,” ujar Dr. Michael Ryan dari WHO sebagaimana disebutkan Associated Press (23/06/2020). Sementara, kebanyakan warga AS merasa penyebaran virus sudah bisa dikendalikan dan beraktivitas seperti biasa.

Acara dan kegiatan yang menyebabkan kerumunan juga ditengarai memberi andil dalam peningkatan penyebaran Covid 19. Termasuk aksi protes Black Lives Matter serta kampanye Trump di Tulsa pada Sabtu lalu.

Meskipun ternyata tidak banyak yang menghadiri kampanye Trump tersebut, namun tercatat 23 orang dari pendukungnya menjalani tes dan hasilnya positif.

Penyebaran tampaknya terjadi secara random, dengan angka yang fantastis di beberapa negara bagian. Florida mencatat kenaikan 100.000 kasus baru.

Klaster baru juga ditemukan di Orlando, yakni terdapat 152 kasus terjadi pada pengunjung sebuah bar di dekat University of Central Florida.

Satu dari 5 orang yang menjalani tes di Arizona juga terbukti positif. Georgia mendapat kenaikan 1.000 kasus. Secara total, kematian akibat Covid-19 di AS telah mencapai 120.000 kasus. Angka tersebut merupakan tertinggi di dunia.

Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat sarana kesehatan kolaps, dan tidak sanggup menampung banyaknya pasien. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dan pemerintah gagal mengatasinya, kekacauan sosial di AS tidak akan bisa terelakkan.

“Seperti bola salju,” ujar Dr. Marc Boom, CEO dan Presiden Direktur Houston Methodist Hospital. “Kita harus waspada pada situasi ini,” lanjutnya.

Di Maryland Fort Washington Medical Center sendiri, para tenaga medis kewalahan menghadapi lonjakan pasien. Termasuk frustasi menghadapi warga yang tidak percaya terhadap bahaya adanya pandemi Covid-19.

”Banyak yang berpikir pandemi sudah berakhir, padahal belum,” ujar Kevin Cole, salah satu terapis di RS tersebut. “Masalahnya, orang-orang yang seperti ini membuat pandemi tetap berlangsung.”

Peningkatan kasus yang drastis ini memicu ketakutan dan keresahan di AS. Peringatan dini yang telah diungkapkan oleh para ahli kesehatan di AS nampaknya tidak terlalu digubris oleh Presiden Trump.

Hingga saat ini, laporan kasus terbesar terjadi di Suffolks County, New York City (NYC). Total infeksi hingga berita ini diturunkan telah mencapai angka lebih dari 200,000 orang.

Ironisnya, NYC justru sedang persiapan menuju tahap new normal, di mana restoran dan semua lini bisnis dibuka. Termasuk taman bermain untuk anak-anak mulai. Pembukaan kembali direncanakan mulai hari Senin besok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *