Kamala Harris, Wanita Keturunan Asia-Afrika Pilihan Joe Biden dalam Pilpres AS

RUANGNEGERI.com – Teka-teki tentang siapa calon pasangan Joe Biden untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat tanggal 3 November mendatang terjawab sudah. Ia adalah senator berusia 55 tahun, Kamala Harris yang akhirnya digandeng Biden.

Melansir dari laman BBC (12/8/2020), pengumuman tersebut disampaikan secara resmi oleh Biden pada Selasa kemarin. Biden mengaku “merasa terhormat” dapat berpasangan dengan Harris.

“Dia adalah pejuang tanpa rasa takut dan salah satu pelayan publik terbaik negeri ini,” pujinya.

Harris dan Biden pernah menjadi rival pada pemilihan bakal calon presiden dari Partai Demokrat pada tahun lalu. Namun santer diberitakan sebagai balon wapres belakangan, ia mendukung Joe Biden sebelum akhirnya dipilih menjadi partnernya.

Biden mengemukakan beberapa alasan mengapa ia memilih Harris. Salah satunya mengenai kinerja Harris saat menjadi Jaksa Agung di California.

Harris bekerja sama dengan putra Biden, Beau dalam berbagai bidang. Termasuk “perlindungan wanita dan anak dari kekerasan, ekonomi dan lainnya. saya bangga bisa menjadi partnernya dalam pemilihan ini,” pungkas Biden.

Kampanye perdana mereka sebagai pasangan capres dan cawapres akan dilaksanakan hari Rabu waktu setempat. Di Wilmington, Delaware.

Mengenal Lebih Dekat Kamala Harris

Kamala Harris lahir di Oakland, California. Ibunya kelahiran India dan ayahnya berasal dari Jamaika, sebuah negara kecil di Amerika Tengah yang banyak dihuni oleh keturunan Afrika. Setelah perceraian kedua orang tuanya, ia dibesarkan oleh ibunya dengan nilai-nilai Hindu.

Namun sang ibu juga mengadopsi budaya Afro-Amerika dalam membesarkan anaknya. Di bawah budaya yang plural itu, Kamala tumbuh sebagai “wanita kulit hitam yang bangga akan identitasnya.”

Ia juga merasa bahwa dirinya “merupakan orang Amerika.” Harris juga merasa bahwa politik tidak seharusnya dikotak-kotakkan atas warna kulit. Hal yang membuatnya konsisten pada perjuangan anti rasisme.

Harris kuliah di Howard University, California. Pada tahun keempatnya di Howard, ia juga mendapatkan gelar Sarjana Hukum di University of California.

Kamala Harris mengawali karir di Kantor Kejaksaan Distrik Alameda County. Kariernya di sana berkembang pesat. Pada tahun 2003, ia menjabat sebagi Jaksa Wilayah di San Fransisco.

Harris juga merupakan wanita berdarah Asia-Afrika pertama yang menjadi Jaksa Agung di Caliornia. Setelah menjabat selama dua periode, tahun 2017 Harris mulai memasuki ranah politik praktis.

Di tahun tersebut, ia mengikuti pemilu dan mencalonkan diri sebagai senator junior AS di California. Harris adalah salah satu bintang di Partai Demokrat saat itu.

Di awal 2019, ia mencoba peruntungannya dengan mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden dari Demokrat.

BACA JUGA: Presiden Trump Rayakan Hari Kemerdekaan di Gunung Bersama Ribuan Warga AS

Saingan Yang Menjadi Partner

Sebelum menjadi cawapres Joe Biden, Harris adalah salah satu saingan terberatnya. Ia berkali-kali terlibat pertentangan dengan Biden dalam debat bakal calon presiden.

Harris bahkan pernah menyebut Biden sebagai “pro-rasis” dan mengkritik hubungannya dengan senator lain yang cenderung mendukung rasisme.

Pencalonannya sebagai bakal calon presiden awal tahun lalu sebenarnya cukup dinanti publik Demokrat. Namun, ia gagal mempertahankan pendapat saat debat.

Jawaban Harris terkait kebijakan publik dinilai sangat rancu. Ia juga lebih sering meninggikan kemampuannya sebagai jaksa dan menyerang lawan secara terbuka. Kebanyakan serangannya diarahkan pada Joe Biden.

Namun saat akhirnya ia gagal, Harris memutar haluan. Maret lalu, ia menyatakan akan “mendukung siapapun dari Demokrat yang akan menjadi capres.”

BACA JUGA: Ketika Kampanye Trump Dikalahkan Pengguna TikTok dan Fans K-Pop

Reaksi terhadap Pasangan Biden-Harris

Berbagai reaksi didapat pasangan tersebut dari berbagai pihak. Melansir berita dari Reuters (12/8/2020), Susan Rice yang juga sempat digadang-gadang menjadi cawapres Biden, mengucapkan selamat.

Menurutnya, pilihan tersebut sangat tepat. Mengingat Kamala Harris adalah “pemimpin yang ulet dan luar biasa dan akan menjadi partner yang hebat.”

Menurut Profesor Hukum dari Universitas San Fransisco, Lara Bazelon, Kamala Harris tidak terlalu progresif. Sikapnya lebih pada “menghindari pertikaian mengenai hal-hal yang sensitif.”

Termasuk di dalamnya mengenai isu LGBT serta reformasi kepolisian dan hukum AS. Padahal pada awal-awal kampanyenya, ia sangat menyerukan perubahan anggaran dan perbaikan terhadap institusi kepolisian.

Adapun tim sukses Donald Trump menganggap pemilihan Harris sebagai pasangannya adalah membuktikan bahwa Biden serupa “kerang kosong yang dijejali agenda ekstrim dan radikal.”

Mereka juga menyoroti bagaimana Harris selalu melawan Biden saat debat kampanye. Standar moral Harris sebagai mantan Jaksa Agung juga dikatakan akan terguncang.

Namun, Harris beranggapan sebaliknya. Identitas Afro-Amerika yang disandangnya membuatnya dapat menjalankan program yang lebih ramah terhadap para migran.

Dibalik semua hal yang memungkinkan pasangan ini untuk bentrok, Demokrat optimis terhadap peluang kemenangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *