Jenis Perilaku Parenting Sesuai Teori, Mana yang Tepat?

RUANGNEGERI.com – Parenting dapat dipahami sebagai perilaku yang dilakukan oleh orang tua untuk mengasuh anak-anaknya. Perilaku yang dipilih oleh tiap orang tua mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak sama antara orang tua satu dengan orang tua lainnya. Perbedaan perilaku ini membuat tiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda.

Semua orang tentu setuju jika pola asuh orang tua sangat berpengaruh besar pada kepribadian anak. Setiap anak yang terlahir akan lebih banyak terbentuk seperti apa yang orang tua berikan padanya.

Begitu besarnya pengaruh perilaku orang tua terhadap anak ini membuat orang tua harus belajar bagaimana bertindak dengan tepat.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menjelaskan bahwa sebagai orang tua, kita membebaskan diri kita dari ilusi bahwa hal tersebut adalah tempat kita untuk menyetujui siapa sebenarnya anak-anak kita.

Anak-anak ini harus tahu bahwa hanya dengan berada di bumi ini, mereka memiliki hak untuk disetujui siapa diri mereka sebenarnya secara intrinsik.

Hal tersebut dapat dipahami bahwa setiap anak yang terlahir di dunia ini mempunyai hak yang sama seperti para orang tua.

Masing-masing anak mempunyai hak untuk mengungkapkan pikiran mereka, mengungkapkan perasaan mereka dan mewujudkan semangat mereka.

BACA JUGA: Pengasuh Non-Parental, Apa Plus Minusnya?

Perilaku Parenting dalam Teori

Parenting mempunyai makna yang bermacam-macam sesuai dengan apa yang dipahami oleh setiap orang. Namun secara keseluruhan, perilaku parenting dimaknai sebagai perilaku yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, entah itu perilaku yang baik atau buruk.

Perilaku parenting ada banyak macamnya. Seseorang tidak bisa hanya menggunakan satu perilaku untuk mendidik anaknya hingga menjadi dewasa.

Jika ada pertanyaan mengenai perilaku parenting mana yang paling tepat sesuai dengan teori? Maka jawabannya adalah tergantung dengan situasi dan kondisi. Mengapa bisa demikian?

Hal itu adalah karena suatu perilaku parenting dapat disebut sebagai perilaku yang paling tepat jika sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Misalkan saja sebuah perilaku yang berupa teguran dapat mengatasi permasalahan anak yang membandel. Namun, teguran tersebut belum tentu dapat mengatasi anak yang menangis.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2011) dalam bukunya The Whole-Brain Child : 12 Revolutionary Strategies To Nurture Your Child’s Developing, mengungkapkan bahwa orang tua dapat membantu anak-anak menjadi lebih terintegrasi. Dengan begitu, mereka dapat menggunakan seluruh otak mereka secara terkoordinasi.

Integrasi yang dimaksudkan adalah horizontal dan vertikal. Secara horizontal, logika otak kiri dapat bekerja dengan baik dengan emosi otak kanan mereka.

Adapun integrasi vertikal adalah bagian fisik yang lebih tinggi dari otak mereka. Sehingga anak dapat mempertimbangkan tindakan dengan cermat, bekerja lebih baik dengan mementingkan insting, reaksi dan kelangsungan hidup.

Untuk mewujudkan dua integrasi tersebut, Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson (2014) dalam bukun lainnya berjudul No-drama Discipline : The Whole-Brain Way To Calm The Chaos And Nurture Your Child’s Developing Mind, menegaskan bahwa orang tua harus terhubung dengan anaknya.

Perilaku tenang, penuh kasih dan mengasuh dengan sabar akan membantu untuk mendisiplinkan anak Anda. Nada suara yang keluar saat orang tua memulai percakapan tentang perilaku anak yang ingin diubah sangat efektif untuk memberikan efek besar pada sikap anak.

Perilaku tersebut merupakan wujud dari sikap tegas dan konsisten dalam disiplin sambil tetap berinteraksi dengan anak untuk memberikan kehangatan, cinta, rasa hormat dan kasih sayang. Perilaku pengasuhan ini harus hidup berdampingan dengan teratur agar dapat memberikan dampak baik pada anak.

Semua tindakan baik serta model parenting tersebut haruslah dibiasakan. Melalui pembiasan, sesuatu akan lebih mudah tertanam pada diri anak.

Perilaku parenting tidak akan terputus meski anak sudah beranjak dewasa. Seperti yang dijelaskan oleh March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, menyatakan bahwa hubungan orang tua-anak adalah masalah hubungan seumur hidup.

Alih-alih berhenti ketika anak-anak dikeluarkan dari keluarga, hubungan ini akan bertahan dengan pola interaksi, dukungan dan pertukaran yang seringkali rumit di tahun-tahun dewasa.

Namun, adanya perubahan tren dalam masyarakat moderen saat ini telah membuat masalah ini menjadi berbeda dan lebih kompleks. Kebiasaan anak serta lingkungan sekolah dan bermain anak juga semakin menambah kerumitan tersendiri.

BACA JUGA: Mengajarkan Kemandirian Anak lewat Pekerjaan Rumah, Bagaimana Langkahnya?

Perilaku Parenting Paling Tepat

Perilaku parenting tergantung dari kondisi yang sedang terjadi. Perbedaan dampak pada anak untuk setiap perilaku parenting ini tentu dirasakan orang tua. Para orang tua tidak bisa berperilaku sama terhadap anak mereka kapanpun mereka mau.

Orang tua harus mengerti bahwa usia anak yang berbeda maka membutuhkan perilaku yang berbeda pula. Bahkan mereka juga harus paham dengan keadaan anak yang berbeda juga memerlukan perilaku yang berbeda.

Martin Maldonado-Duran, M.D (2002) dalam bukunya Infant and Toddler Mental Health Models of Clinical Intervention With Infants and Their Families, mengatakan bahwa wanita tanpa anak tidak sama dengan wanita yang mempunyai anak.

Seorang wanita tidak hanya perlu mengembangkan perilaku baru untuk dapat merawat calon bayinya. Namun ia juga harus menegosiasikan seluruh perubahan dalam cara dia memandang dirinya sendiri.

Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa setiap orang tua harus bisa menyesuaikan keadaan dirinya dengan kondisi anaknya.

Sebelum melakukan langkah parenting, seseorang yang sudah memiliki anak harus mengerti siapa dirinya. Bagi pasangan baru yang sebelumnya biasa hidup melajang, tentu harus mengubah pola pikirnya terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *