Jangan Salah! Ini Perbedaan Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal

RUANGNEGERI.com – Setiap anak terlahir dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Ada beragam kecerdasan yang bisa ditemukan pada anak, seperti intrapersonal dan interpersonal.

Sayangnya, banyak orang menganggap kecerdasan hanya terpaku pada akademik. Seorang anak dianggap pintar, jika nilai kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) diatas rata-rata.

Pernyataan tersebut telah diluruskan oleh Howard Gardener (1999) melalui buku berjudul Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century, yang menyebutkan adanya kecerdasan lain.

Fatemeh Behjat (2012), melalui tulisan berjudul nterpersonal and intrapersonal intelligences: Do they really work in foreign-language learning?, memperkenalkan 8 macam kecerdasan (multiple intelligences). Semua jenis kecerdasan tersebut dapat dikembangkan oleh tiap anak selama hidup.

Sepanjang proses pembelajaran dan pendidikannya tepat, anak bisa menguasai lebih dari satu kecerdasan sekaligus. Pengembangannya akan sangat tergantung pada pola asuh serta pola didik dari lingkungan terdekatnya, yakni keluarga dan sekolah.

Perbedaan Intrapersonal dan Interpersonal

Perbedaan Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal - Siswa Siswi Berseragam Pramuka
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dari 8 kecerdasan tersebut, dua di antaranya berhubungan erat dengan interaksi sang anak, yaitu intrapersonal dan interpersonal. Sesuai namanya, intrapersonal merujuk ke arah dalam atau diri anak sendiri.

Kecerdasan intrapersonal memungkinkan anak mengenal dan memahami dirinya sendiri lebih baik. Ia bisa tahu kelebihan serta kekurangan yang dimilikinya untuk bisa menjalani hidup.

Anak akan lebih peka menerima situasi yang dialaminya. Ini membuat mereka tak gampang tersulut emosi. Kemampuan anak dalam mengendalikan emosi bisa diacungi jempol. Mereka akan terlihat lebih tenang dalam menghadapi situasi apapun.

Dalam buku berjudul Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran, Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat (2009) menyatakan bahwa beberapa anak dengan kecerdasan intrapersonal cenderung suka menyendiri.

Mereka akan memanfaatkan waktu untuk merenung dan melakukan introspeksi. Hal-hal yang dirasa mengganggu akan dicari jalan keluar beserta solusinya.

Tak perlu heran pula kalau intuisi anak akan cenderung lebih tajam dan terarah. Ini disebabkan oleh proses tumbuh kembang yang memperkuat kemampuan mengenal dan mengedepankan kemampuan diri sendiri.

Berbeda dari intrapersonal, interpersonal justru berkaitan dengan orang sekitar. Kemampuan ini disebut pula social intelligence atau kemampuan sosial.

Pada dasarnya, anak mengenali lingkungannya dari usia balita. Saat anak bertemu dengan orang lain diluar keluarga inti, anak mulai belajar mengelola rasa serta empati yang dimiliki.

Sayangnya, tak semua anak memiliki kecerdasan interpersonal yang baik. Begitu pula halnya dengan kecerdasan intrapersonal. Meskipun begitu, kedua macam kecerdasan tersebut bisa dikembangkan dan terus terasah saat anak beranjak dewasa.

Untuk kecerdasan interpersonal atau antar pribadi, anak akan memperlihatkan kepekaannya dengan lingkungan sekitar. Dengan kecerdasan ini, anak akan mudah menangkap dan memahami suasana hati, temperamen, maupun hasrat orang lain.

Pemahaman tersebut akan membantu mereka melakukan komunikasi dan menjalin hubungan baik dengan orang sekitar. Gardener sendiri tak begitu setuju dengan aspek emosi, namun lebih menekankan kognisi atau pemahaman dalam interpersonal.

Meskipun demikian, Gardener menyetujui proses pembentukan kecerdasan dalam diri seorang anak. Melalui proses mediasi dan pengalaman, anak belajar meningkatkan kecerdasan intrapersonal maupun interpersonal.

Walaupun hanya menguasai satu kecerdasan di awal, anak tetap bisa memupuk kecerdasan lainnya.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

Cara Melatih Kecerdasan Intrapersonal

Untuk membentuk dan mengembangkan kecerdasan intrapersonal maupun interpersonal, orang tua dan para pendidik perlu melakukan berbagai cara.

Salah satunya melakukan kegiatan pembelajaran sedini mungkin, sejak anak menginjak usia 0 tahun. Langkah ini akan memaksimalkan daya tangkap dan kecerdasan anak di masa mendatang.

Guna meningkatkan dan mengasah kecerdasan intrapersonal pada anak, beberapa permainan edukatif berikut bisa digunakan untuk melatihnya;

1. Role Playing

Bermain peran bisa membantu anak mengenal sesuatu yang mereka sukai maupun yang tidak disukai. Para ibu khususnya, bisa mengajarkan sisi baik dan buruk dari setiap peran.

Dengan begitu, anak tahu menempatkan emosi mereka saat diberi peran tertentu.

Kegiatan ini juga bisa melatih anak mengenal beragam karakter dalam kehidupan, seperti profesi. Role playing bisa dilakukan secara sederhana, misalnya mengulang kalimat tertentu dengan penekanan.

2. Story Telling

Mani Jouzdani & Reza Biria (2016) dalam jurnal berjudul The Relationship between Interpersonal and Intra-personal Intelligences and Vocabulary Learning Strategies Used by EFL Learners, menyatakan bahwa aktivitas membacakan cerita atau story telling jadi medium tepat untuk anak berimajinasi sekaligus refleksi.

Cerita akan mengasah imajinasi anak untuk terus berkembang dan kian mumpuni. Di masa mendatang, cerita ini pula yang akan membantu kemampuan akademik mereka di berbagai bidang.

Dengan aktivitas cerita tersebut, maka anak akan bisa mengimajinasikan sesuatu yang didapatkan melalui cerita tersebut.

3. Memilah dan Memilih

Biarkan anak melakukan apa yang disukai ataupun tidak disukai. Beri kepercayaan kepada anak untuk melakukan permainan yang mereka sukai. Jangan lupa untuk menelaskan serta menanyakan perasaan mereka ketika memainkan permainan tersebut.

Cara ini efektif untuk memperkenalkan naluri dan insting dasar pada anak. Mereka akan lebih percaya diri saat menentukan suatu hal di kemudian hari.

4. Educational Toys

Melatih kecerdasan intrapersonal bisa dibantu dengan permainan edukasi atau educational toys. Beragam permainan edukasi dapat ditambahkan dalam aktivitas sehari-hari.

Ketika bermain, orang tua bisa mengevaluasi tahap perkembangannya. Langkah ini jauh lebih efektif daripada penjelasan tanpa alat di depan mereka.

Cara Melatih Kecerdasan Interpersonal

Selain melatih kecerdasan intrapersonal, interpersonal pun perlu diperhatikan. Pada masa tumbuh kembang, sebaiknya lakukan beberapa permainan yang dirasa optimal mengasah kemampuan interpersonalnya.

Jill Englebright Fox (2007) melalui tulisan berjudul Back-to-Basics: Play in Early Childhood, menyebutkan bahwa anak bisa mempelajari social intelligence antara lain adalah melalui:

1. Mengobrol dengan Orang Tua

Tahap mengenal orang lain di luar diri anak sendiri bisa dimulai dengan komunikasi bersama orang tua. Setiap hari, ajak mereka membicarakan berbagai topik ringan yang mudah dicerna.

Sebagai contoh, beri anak gambar sampah yang berserakan. Tanyakan apa pendapat mereka tentang peristiwa tersebut. Apakah hal itu benar atau salah? Dari situ akan muncul interaksi yang erat antara orang tua dengan anak.

2. Bermain Bersama Teman

Kreativitas dan imajinasi anak terkadang sulit dibendung oleh para orang tua. Pada usia 3 tahun awal atau golden age, rasa ingin tahu mereka berkembang sangat pesat. Anak akan mempertanyakan dan melakukan semua hal yang diinginkan.

Manfaatkan momen tersebut dengan membiarkan anak bermain bersama teman sebaya. Tugas orang tua hanya mengawasi dan memberi saran terkait permainan maupun solusi.

Selebihnya, biarkan anak dan teman-temannya memutuskan hal-hal yang harus dan ingin dilakukannya.

3. Wawancara

Minta anak mewawancarai orang-orang yang ada di sekitar mereka. Topik yang dibahas sebaiknya sesuatu yang menarik minat mereka. Misalnya saja, olahraga atau permainan favorit.

Temukan narasumber atau expert yang tepat untuk bisa diwawancarai. Ketika berhadapan dengan narasumber, latih anak untuk bertanya kritis. Cara ini akan menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga anak tak gampang minder.

Sebagai penutup, beragam variasi permainan yang bisa melatih kemampuan intrapersonal dan interpersonal anak bisa dimodifikasi oleh orang tua. Para orang tua harus mampu memikirkan dan menemukan cara kreatif, agar anak mau mengikuti.

Dengan begini, manfaat dari permainan pun akan lebih terasa dan terlihat dalam diri anak. Namun perlu ditekankan juga bahwa output dari setiap kegiatan tergantung pada orang tua maupun si anak.

Sejauh mana orang tua bisa melakukan permainan secara fair. Jika orang tua tak berperan penuh dalam proses tersebut, anak justru akan kehilangan minat. Ini akan berpengaruh besar pada kepribadian dan karakter anak di masa mendatang.

Lebih dari itu, anak juga akan tumbuh menjadi pribadi tertutup dan temperamen yang rawan mengalami bullying.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *