Inggris Krisis Keuangan, All England 2021 Kemungkinan Batal Digelar

RUANGNEGERI.com – Ketua Pelaksana Badminton England, Adrian Christy mengutarakan kemungkinan tidak adanya Kejuaraan All England pada 2021 mendatang. Indonesia sendiri telah mundur dari gelaran tahun 2020 ini.

Pemerintah Britania Raya sejauh ini memutuskan untuk menghentikan gelaran olahraga karena masih merebaknya pandemi Covid-19.

Melansir dari BBC.com (22/09/2020), Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, pekan lalu mengeluarkan beberapa larangan baru di negara tersebut.

Salah satunya adalah membatalkan rencana untuk mengizinkan para penonton menyaksikan pertandingan secara langsung mulai 1 Oktober.

Perdana Menteri kelahiran tahun 1964 tersebut juga menambahkan bahwa tersebut bakal berlaku paling tidak sampai enam bulan mendatang.

“Kita harus mengakui penyebaran virus ini sekarang mempengaruhi kemampuan kita untuk membuka kembali pertandingan-pertandingan besar,” ungkapnya.

Sayangnya keputusan tersebut, jelas memungkinkan turnamen All England “tidak digelar untuk kali pertamanya sejak Perang Dunia II,” tulis Adrian dalam keterangan yang dilansir di situs Allenglandbadminton.com.

Kejuaraan All England merupakan penopang keuangan utama bagi Badminton England. Tahun ini, kerugian tercatat sebesar £1.7 juta (sekitar 32.5 miliar Rupiah) akibat Covid-19. Sebab, momentum ini tidak mampu mendatangkan banyak penonton.

Adrian, bersama 100 pimpinan asosiasi olahraga lainnya menyurati PM pengganti Theresa May untuk meminta bantuan darurat dari pemerintah. Pasalnya, Covid-19 berpotensi mengakibatkan hilangnya generasi olahraga.

Badminton England sendiri telah meminta kucuran dana sebesar £1 juta (sekitar Rp 19.2 miliar) untuk menjaga keberlangsungan Kejuaraan All England. Selain itu juga bertujuan untuk meredakan tekanan pada cabang olahraga ke-12 teratas di negara itu.

Dengan kondisi keuangan saat ini, banyak muncul dugaan bahwa pemerintah Inggris sedang mengalami masalah finansial yang besar.

BACA JUGA: Langkah Indonesia Usai Mundur dari Thomas Uber 2020

Turnamen Prestisius

Kejuaraan All England adalah salah satu dari tiga turnamen BWF Super 1000 yang sudah ada sejak 1899. Wimbledon-nya dunia tepok bulu ini juga sempat dua kali ditiadakan, 1915-1919 akibat Perang Dunia I, dan 1940-1946 karena Perang Dunia II.

Semenjak PD II hingga sebelum merebaknya Covid-19 ini, turnamen tersebut secara rutin digelar. Nilai sejarah dan prestise turnamen juga sangat tinggi. Tidak heran jika begitu banyak dimimpikan banyak pemain.

Salah satunya adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo. Ia sukses meraih gelar All England pertamanya pada 2017 lalu. Melalui ibunya, jadi juara All England “sejak kecil dicita-citakan Kevin,” kata Niawati sebagaimana dilansir Jawa Pos.

Begitu pula dengan Liliyana Natsir. Bersama Tontowi Ahmad, ia meraih gelar All England tiga kali beruntun pada 2012, 2013, dan 2014.

Pemain tuan rumah pun merasakan hal yang tidak jauh berbeda. Gail Emms mengatakan bahwa memenangkan gelar All England betul-betul melegakan. Pada 2005, ia dan Nathan Robertson mengakhiri puasa gelar Inggris di turnamen besar itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *