Bagaimana Industri Hiburan Bisa Bertahan di Masa Depan?

RUANGNEGERI.com – Pandemi Covid-19 yang merebak sejak akhir tahun 2019 di seluruh dunia secara langsung telah banyak mengubah perilaku konsumen. Dari yang awalnya melakukan kegiatan sehari-hari di luar rumah, selama beberapa bulan harus melakukan berbagai aktivitas dan bekerja dari rumah.

Kondisi ini membuat perekonomian dunia terkontraksi dan masuk ke jurang resesi ekonomi. Hal ini juga secara langsung banyak berdampak ke dunia hiburan. Konsumen diminta untuk melakukan banyak hal, seperti belanja dan menonton film dari rumah.

Para pelaku bisnis tentu saja dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat atas perubahan tersebut. Situasi ini menjadi sebuah tantangan bagi berbagai industri hiburan, baik di Indonesia maupun juga di dunia. Sebab, industri ini sangat bergantung dengan kepuasan konsumen atau consumer satisfaction.

Mengingat pangsa pasarnya begitu besar, maka industri hiburan ini juga memberikan kontribusi bagi perekonomian suatu negara. Lantas, bagaimana industri ini tetap mampu bertahan ke depannya?

Baca juga: Melihat Tantangan dan Peluang Diplomasi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

Covid-19 dan Industri Hiburan

Nuno Fernandes (2020) dalam tulisan berjudul Economic Effects of Coronavirus Outbreak (COVID-19) on the World Economy, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia hingga akhir tahun 2020 lalu menurun rata-rata 2,8 persen setiap bulannya.

Kebijakan lockdown yang terjadi di berbagai negara dunia telah banyak mengakibatkan efek spillover (limpahan) terhadap seluruh rantai pasokan dalam perekonomian. Kondisi ini tentulah berpengaruh terhadap industri media dan hiburan.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa industri hiburan hingga kuartal pertama tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 32 persen di pasar modal. Sedangkan industri perjalanan dan leisure (termasuk industri hiburan) menurun hingga 40 persen.

Kebijakan lockdown akibat Covid-19 telah menyebabkan proses produksi dan distribusi konten media dan hiburan terhambat. Jaringan bioskop di seluruh dunia juga tutup selama beberapa bulan. Akibatnya, pendapatan dari penjualan tiket bioskop dan iklan, baik dari TV maupun bioskop juga menurun.

Baca juga: Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

Catatan penurunan pendapatan ini terjadi di banyak negara. Tiongkok misalnya, penurunan penjualan tiket film tercatat hingga nyaris 100 persen. Sementara industri bioskop di Jepang dan Korea sampai akhir 2020 mengalami kerugian masing-masing sebesar 46,2 dan 65,3 persen.

Namun, ada yang justru mendapatkan keuntungan signifikan selama masa pandemi. Netflix misalnya, sebagai penyedia konten layanan hiburan melalui streaming berbayar, tercatat meningkat sangat tajam dibandingkan dengan masa sebelum Covid-19.

Sepanjang tahun 2020, Netflix terus membukukan peningkatan pendapatan perusahaan. Hingga pertengahan tahun, Forbes (19/10/2020) mencatat kentungan perusahaan yang berpusat di California, Amerika Serikat ini menembus angka US$100 miliar. Netflix juga mendapatkan tambahan subscriber hingga 200 juta orang dari seluruh dunia.

Baca juga: Menelaah Urgensi Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Pembatalan Events dan Kontrak Kerja

Di sisi lain, pembatalan dan kontrak kerja selama masa pandemi Covid-19 secara masif banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Billboard.com merilis data jumlah konser, festival dan event musisi dunia yang harus dibatalkan atau ditunda akibat pandemi.

Tercatat lebih dari 100 pembatalan dan penundaan offline event musisi dunia. Termasuk juga tur konser DJ Marshmello dan NCT 127 di Amerika Serikat. Tidak hanya acara musik, perubahan tanggal rilis dan produksi film pun banyak yang tertunda.

Sekuel live-action dari Jepang, Rurouni Kenshin misalnya, harusnya dirilis pada bulan Mei dan Agustus 2020, namun ditunda hingga tahun 2021. Namun, beberapa produksi film justru menyelesaikan proses pengambilan gambar di tengah pandemi. Sebut saja film Avatar 3 besutan James Cameron dan sekuel dari the Lord of the Ring.

Kedua film tersebut berhasil menyelesaikan proses shooting di tengah pandemi dengan mengambil latar pengambilan gambar di Selandia Baru. Negara ini memang santer diberitakan telah mendeklarasikan diri bebas dari Covid-19 beberapa waktu lalu.

Selain penundaan dan pembatalan berbagai events, pemutusan kontrak kerja massal atau unpaid leave juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar di Negeri Paman Sam.

Melansir Business Insider (09/10/2020), perusahaan-perusahaan besar di AS banyak yang terpaksa melakukan pemutusan kontrak secara masif. Tak terkecuali industri media dan hiburan.

DC Comics misalnya, telah memecat 600 karyawan, termasuk pejabat tinggi untuk menghemat biaya. Ada juga Cineworld, salah satu pemilik jaringan bioskop terbesar di AS ini telah memecat hingga 40.000 orang karyawan.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

Tantangan Industri Hiburan di Era Digital

Sebuah krisis dapat mengubah pola industri media dan industri hiburan secara permanen. Krisis yang diakibatkan oleh macetnya kredit perumahan secara masif (subprime mortgage) di Amerika Serikat pada tahun 2008-09, banyak diyakini sebagai pemicu perubahan medium iklan.

Perubahan dari medium tradisional seperti banner dan lain lain, kini telah berubah menjadi iklan dengan medium digital. Begitu pun halnya dengan krisis akibat Covid-19. Tidak menutup kemungkinan bahwa krisis ini akan mempercepat perubahan teknologi di industri media dan hiburan.

Laporan dari Deloitte, sebuah jaringan penyedia jasa bidang teknologi media dan komunikasi multinasional yang berpusat di London, Inggris, memprediksi bahwa krisis akibat pandemi juga akan membuat banyak perusahaan di industri hiburan.

Distribusi film yang sebelumnya melalui bioskop, akan banyak berubah ke platform digital. Contoh paling mudah adalah dari kasus ini adalah perilisan film Mulan (2020) yang sempat tertunda di bulan September 2020 lalu. Akhirnya, pihak Disney memutuskan untuk menayangkan film tersebut melalui platform OTT (over the top) miliknya yaitu Disney+.

Selain film, beberapa konser musik tahun ini juga diselenggarakan secara daring. Misalnya Beyond Live yang merupakan kerja sama antara manajemen artis ternama dari Korea Selatan (SM dan JYP Entertaiment) dan Naver, situs pencarian terbesar di negeri ginseng tersebut.

Baca juga: Kesenjangan Gender pada Gerakan ‘Ramah Lingkungan’

Dengan menggelar konser online, musisi tetap bisa menjangkau penonton dari seluruh dunia dan mendulang pendapatan. Di Indonesia sendiri, meskipun masih harus menghadapi serangkaian restrukturisasi, industri media dan hiburan di Indonesia memiliki aspek fundamental yang kuat.

Terlebih dalam beberapa tahun ke belakang, industri perfilman Indonesia sedang banyak diminati. Namun, perubahan besar dari perilaku konsumen di negeri ini juga harus diperhatikan.

Dengan pertumbuhan pengguna smartphone dan koneksi internet yang signifikan khususnya di masa pandemi, pendapatan dari subscription video on demand akan jauh meningkat dibanding pendapatan dari layar bioskop dalam beberapa tahun ke depan.

Hingga 2024, pertumbuhannya diprediksi akan terus meningkat signifikan. Tantangannya adalah bagaimana menghadapi perilaku konsumen yang cepat berubah seiring dengan perkembangan teknologi digital.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *