Indonesia Alami Resesi, Benarkah Ekonomi Mulai Bangkit?

RUANGNEGERI.com – Berdasarkan pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) terkait realisasi pertumbuhan ekonomi, Indonesia telah resmi dinyatakan resesi. Artinya dalam dua kuartal berturut-turut, Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami pertumbuhan ekonomi secara negatif.

Melansir dari Kompas.tv tanggal 05 November 2020, Kepala BPS, Suhariyanto, menyampaikan data nilai PDB pada kuartal III/2020 di periode Juli hingga September yang mengalami kontraksi minus 3,49 persen secara tahunan.

Pada kuartal sebelumnya II/2020, Indonesia tercatat minus 5,32 persen secara yearonyear (yoy). Angka itu berbanding terbalik pada kuartal II/2019 sebesar 5,05 persen. Jika dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi, hanya konsumsi pemerintah yang berada di jalur positif, yaitu 9,76 persen.

Sementara pertumbuhan konsumsi rumah tangga minus 4,04 persen, investasi minus 6,48 persen, ekspor minus 10,82 persen, impor minus 21,86 persen serta konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) minus 2,21 persen.

Meski terjadi kontraksi tahunan, Suhariyanto mengatakan bahwa perekonomian pada kuartal ketiga justru menunjukkan perbaikan dari tiga bulan sebelumnya di semua sektor.

Presiden Joko Widodo cukup mengapresiasi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 dalam tren positif, dikarenakan lebih baik dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Sebelum BPS mengumumkan data PDB, pada pembukaan sidang kabinet paripurna awal bulan November, Presiden Jokowi telah memperkirakan ekonomi dalam negeri pada kuartal III di tahun ini akan minus sekitar 3 persen.

Meskipun begitu, menurutnya kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Sebab kebanyakan negara mencapai kontraksi pada dua angka, sedangkan Indonesia masih satu angka.

Dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN misalnya, kontraksi yang dialami Indonesia memang terlihat jauh lebih baik.

Tercatat pada kuartal II/2020, Malaysia sampai mengalami kontraksi hingga minus 17,1 persen, Filipina minus 16,5 persen, Singapura minus 13,2 persen dan Thailand minus 12,2 persen.

Oleh sebab itu, presiden dan jajaran menterinya terus menyampaikan kabar bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja walaupun sedang mengalami resesi.

Untuk kuartal IV/2020, Presiden Jokowi meminta seluruh kementeriannya untuk terus meningkatkan belanja. Hal itu adalah bertujuan untuk dapat mendorong permintaan masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga bisa membaik pada akhir tahun.

Baca juga: Indonesia dalam Bayang-bayang Resesi Ekonomi, Ini Strategi Pemerintah

Dampak Negatif dari Resesi Ekonomi

Resesi yang terjadi di Indonesia saat ini menjadi resesi untuk pertama kalinya sejak krisis ekonomi pada tahun 1998. Perbedaannya pada resesi tahun ini adalah disebabkan oleh pandemi global Covid-19.

Hal itu tentu saja bukan hanya di Indonesia saja, namun laju pertumbuhan ekonomi dunia juga melambat. Walaupun pemerintah terus melakukan sugesti bahwa resesi di Indonesia masih jauh lebih baik, namun dampak negatif dari resesi ekonomi tidak lagi bisa dihindari, terutama bagi masyarakat kecil.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, sebagaimana dikutip dari laman Detik.com (06/11/2020), menilai bahwa ketika suatu negara sudah memasuki resesi, kriminalitas bakal semakin meningkat

“Kalau seandainya (ancaman resesi) tidak diselesaikan dalam waktu cepat, misalnya masalah kriminalitas yang meningkat itu bukan tidak mungkin juga bisa terjadi dengan adanya resesi,” ungkapnya.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

Ia juga menambahkan bahwa kriminalitas yang meningkat akibat resesi juga dikarenakan berkurangnya lapangan kerja. Pemutusan hubungan kerja (PHK) marak terjadi di masa pandemi.

Hal tersebut membuat pendapatan masyarakat semakin menurun, dan ujungnya mereka yang rentan secara ekonomi akan masuk ke kategori masyarakat miskin. Dampak buruk lainnya adalah penambahan jumlah pengangguran, kemudian meningkatnya angka kemiskinan serta dampak sosial non-ekonomi lainnya.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, berpendapat bahwa resesi ekonomi akan menyebabkan lonjakan masyarakat miskin.

“Yang jelas adalah kemiskinan akan meningkat cukup tajam. Nah ini kan agak berat, kemiskinan ini kan ditandai oleh orang yang pendapatannya turun banyak itu mulai terjadi lebih lama dari biasanya,” ujarnya.

Baca juga: Sektor Strategis yang Dinilai Cepat Bangkit Pasca New Normal

Optimisme Pemerintah

Melansir dari laman CNBC Indonesia (14/12/2020), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa tren dari resesi ekonomi akan segera membaik.

Ia optimis bahwa pada kuartal IV ini, ekonomi akan berada di kisaran minus 2 persen hingga 0,6 persen. Prediksi pertumbuhan ini tentu saja lebih tinggi jika dibandingkan saat awal-awal penyebaran pandemi Covid-19, yakni di kuartal II dan III berturut-turut adalah minus 5,32 persen dan 3,49 persen.

Tahun 2021 diprediksi menjadi tahun pemulihan ekonomi. Bahkan, menteri yang juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar tersebut optimis bahwa tahun depan akan bisa mencapai angka positif hingga 5 persen.

Hal itu mengacu pada berbagai indikator makro yang semakin menunjukkan tren positif, khususnya di bulan November hingga Desember.

Pemerintah pusat juga meyakini bahwa peluang ekonomi di tahun 2021 akan semakin terbuka. Hal itu diharapkan akan mampu menggerakkan roda perekonomian nasional yang sempat lesu sebagai akibat dari Covid-19.

“Ekonomi kita telah melewati titik nadir,” ungkap Airlangga sebagaimana dilansir di laman CNBC Indonesia.

Firdhausy Amelia

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *