Impulse Buying dan Pentingnya Literasi Keuangan Generasi Muda

RUANGNEGERI.com – Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah pola hidup masyarakat khususnya kalangan muda dalam bidang ekonomi. Meningkatnya impulse buying atau pembelian impulsif secara online di masa pandemi bahkan terkesan sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan.

Pengertian impulse buying adalah pembelian yang dilakukan dengan tidak rasional, cepat atau spontanitas dan tanpa perencanaan matang. Tindakan ini juga sering kali diikuti dengan adanya rasa ketakutan maupun dorongan emosional.

Selain itu, Ching‑Torng Lin, dkk (2018) melalui penelitian berjudul The influence of impulse buying toward consumer loyalty in online shopping: A regulatory focus theory perspective, menyimpulkan bahwa tingginya perilaku impulse buying melalui online juga didorong oleh “loyalitas konsumen” itu sendiri.

Semenjak menjamurnya platform jual-beli e-commerce, perilaku impulse buying ini memang sudah marak terjadi. Bukan hanya terjadi di masa pandemi saja, namun sudah terjadi sebelumnya. Faktor kenyamanan, kepraktisan dan keterbukaan info terkait produk banyak menjadi alasan tingginya ‘loyalitas konsumen’ dalam berbelanja.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

Hingga akhir tahun 2018 lalu misalnya, sebanyak 88,6 persen orang Amerika tercatat melakukan impulse buying. Adapun di Inggris dan Kanada, masing-masing sebesar 78,4 dan 63 persen. Angka tersebut meningkat secara signifikan di masa pandemi Covid-19.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Semenjak merebaknya Covid-19 khususnya, perilaku konsumsi masyarakat banyak berubah dan cenderung meningkat.

Nielsen Indonesia, sebagaimana melansir Kompas.com (23/12/2020), mencatat bahwa nilai transaksi digital yang terjadi pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di bulan Desember 2020 adalah senilai Rp11,6 triliun.

Direktur Nielsen Indonesia, Rusdy Sumantri, menyatakan bahwa konsumen masyarakat Indonesia pada saat pandemi dinilai masih banyak yang memiliki daya beli cukup tinggi. Hal itu terbukti dengan tingginya euforia belanja online di masyarakat.

Rentang usia konsumen terbanyak adalah kelompok umur 15-24 tahun dan 25-34 tahun. Porsi dari masing-masing kelompok tersebut berturut-turut adalah sebesar 36 dan 34 persen. Survei tersebut mengambil sampel sebanyak 1.156 orang berusia 15 tahun ke atas dari 56 kota di Indonesia.

Baca juga: Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

Literasi Finansial bagi Milenial

Mengacu dari survei yang dilakukan Nielsen Indonesia tersebut, diketahui bahwa sebanyak 70 persen konsumen adalah generasi milenial. Sebagian lagi sudah termasuk ke dalam kategori generasi Z.

Generasi milenial atau juga biasa disebut generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Adapun generasi Z adalah yang lahir setelahnya hingga tahun 2010.

Direktur Nielsen Indonesia, Rusdy Sumantri, menyatakan bahwa konsumen masyarakat Indonesia pada saat pandemi dinilai masih banyak yang memiliki daya beli cukup tinggi. Hal itu terbukti dengan tingginya euforia belanja online di masyarakat.

Salah satu faktor yang disebutkan oleh salah satu penelitian dari Sun & Wu (2011) sebagaimana dikutip dari penelitian berjudul Impulse Purchase In Virtual Environment And Price Sensitivity Of Young Consumers: Results Of Empirical Research, menyebutkan bahwa impulse buying disebabkan karena kurangnya self-regulation (regulasi diri).

Padahal, penting untuk mengelola keuangan sejak dini dengan mengetahui financial-literacy. Literasi finansial sendiri termasuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pengelolaan uang.

Yakni kemampuan seseorang untuk menyeimbangkan buku cek, mengelola kartu kredit, menyiapkan anggaran, mengambil pinjaman maupun membeli premi asuransi secara tepat. Hal ini merupakan langkah awal untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada kondisi keuangan kita.

Dengan adanya perencanaan yang matang, perilaku keuangan kaum muda akan menjadi landasan untuk kesejahteraan keuangan di masa yang akan datang. Pengelolaan keuangan yang buruk dan cenderung boros akan meningkatkan konsekuensi pada diri kita sendiri.  

Ainur Rohmah (2020) melalui tulisan berjudul Pandemi Covid-19 dan Dampaknya Terhadap Perilaku Konsumen di Indonesia, menyebutkan bahwa hanya sekitar 50 persen mahasiswa yang menjawab benar mengenai literasi keuangan. Hal ini juga banyak mempengaruhi kemampuan mereka dalam membuat perencanaan serta keputusan tepat terkait urusan keuangan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagaimana melansir Kontan.co.id (05/12/2020), menyebutkan bahwa literasi keuangan di Indonesia mengalami kenaikan hampir dua kali lipat. Di mana pada tahun 2013 angkanya hanya 21 persen, kemudian meningkat hingga mencapai 40 persen di akhir tahun 2020.

Kenaikan tersebut banyak dinilai menjadi angin segar bagi pemangku kepentingan untuk terus berupaya meningkatkan literasi finansial di Indonesia secara lebih merata. 

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Perlu Kurikulum tentang Literasi Keuangan

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia masih cukup jauh dari angka ideal. Sebab masih terdapat lebih dari setengah masyarakat belum memahami sektor keuangan dengan benar.

“Banyaknya masyarakat yang belum terliterasi ini menjadi peluang bagi pelaku investasi bodong,” jelas Eko selaku Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), sebagaimana dilansir Kontan.co.id.  

Membiasakan pengelolaan keuangan sejak dini merupakan skills yang berkaitan dengan manajemen uang. Termasuk juga dalam hal kemampuan untuk menggunakan buku kas, mengatur kartu kredit, mempersiapkan anggaran dan perencanaan tertentu hingga mengambil pinjaman serta membeli asuransi. 

Impulse buying merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari secara spontan. Terlebih di era ekonomi digital saat ini yang penuh kemudahan dalam melakukan berbagai transaksi secara online.

Meski jika dilihat dari sisi ekonomi, impulse buying dapat meningkatkan transaksi perdagangan drastis, dan tentu saja meningkatkan perputaran roda perekonomian. Namun pemahaman literasi keuangan seyogyanya juga dilakukan melalui jalur pendidikan.

Sekolah dan kampus dalam hal ini bisa memberikan kurikulum terkait keuangan. Tujuannya agar generasi milenial dan Z khususnya, tidak terjebak ke perilaku konsumtif secara berlebihan.

Ni Luh Lovenila Sari Dewi

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *