Harga Emas Dunia Turun, Permintaan di Asia Justru Meningkat

RUANGNEGERI.com – Harga emas dunia yang terus merosot mendekati level terendah selama sembilan bulan terakhir ini justru menarik pembeli perhiasan terutama dari pasar Asia. Tingginya permintaan emas membuat pedagang membeli lebih banyak logam mulia untuk dijual kembali.

Melansir Bloomberg (23/03/2021), investor retail di Korea Selatan kini tengah mengumpulkan emas batangan. Sementara di Tiongkok meminta adanya dorongan penjualan yang lebih tinggi selama Tahun Baru Imlek.

Dengan tingginya permintaan emas ini diharapkan dapat menghentikan tren penurunan harga. Hal itu karena berakibat meningkatnya imbal hasil obligasi serta arus keluar dari dana yang diperdagangkan di bursa emas batangan.

Pada awal bulan Maret, harga emas jatuh di bawah US$1.700 per troy ons ke level terendahnya sejak bulan Juni tahun lalu. Hal ini mendorong lebih banyak pembelian dari konsumen yang sempat terhalang karena harga emas naik di angka US$2.075,47 pada bulan Agustus 2020 lalu.

Spot emas menurun hingga 0,7 persen menjadi US$1.726,76 pada hari Selasa, 23 Maret 2021. Bursa emas berjangka di Amerika Serikat (AS) di tutup pada angka 0,8 persen lebih rendah, yaitu senilai $1.725,10 per troy ons.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

“Kami melihat pasar emas lemah dengan premis bahwa tergantung pada hari tertentu kami melihat kekuatan dorongan atau tarikan,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menambahkan bahwa kenaikan dolar di tengah harapan pemulihan ekonomi membuat harga logam mulia kuning batangan ini tertekan.

Dolar menyentuh level tertingginya sejak 9 Maret lalu, sedangkan imbal hasil obligasi AS merosot. Mata uang AS tersebut mengakibatkan naiknya harga emas batangan untuk konsumen di belahan dunia lainnya, melansir Reuters (23/03/21).

“Ketika investor keuangan tidak membeli “pasar fisik menjadi semakin penting dalam menetapkan dasar harga,” kata Suki Cooper, seorang analis logam mulia di Standard Chartered Bank. “Harga dasar emas mulai terlihat membaik,” lanjutnya.

Ketua Fed Chair Jerome Powell mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa ia memperkirakan inflasi akan meningkat sepanjang tahun. Akan tetapi hal itu menurutnya “tidak terlalu besar atau terus menerus.”

Di antara logam mulia lainnya, harga perak turun menjadi 2,7 persen menjadi US$25,08 dan platinum turun 1,1 persen menjadi US$1.170,01. Selain itu, harga paladium naik 0,2 persen menjadi US$2.620,51.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

Pembelian Emas di India dan Tiongkok Meningkat

Para pengusaha perhiasan di India melihat momentum ini akan bertahan hingga bulan Mei mendatang. Salah satu pengusaha emas di Mumbai, Kumar Jain berharap penjualannya dapat meningkat dua kali lipat pada periode Januari sampai Maret dari tahun sebelumnya.

Ia juga optimis terhadap kuartal yang akan datang. Pemotongan bea masuk juga membuat harga logam mulia lebih murah di India, di mana mereka mengimpor hampir semua emas.

“Kami telah melihat permintaan terbaik dalam sebulan terakhir sejak munculnya ketakutan akan virus pada Maret tahun lalu, seiring dengan para pelanggan yang membeli (perhiasan) untuk pesta pernikahan karena mengira harga (emas) akan semakin tinggi,” katanya.

Turunnya harga emas membuat pembeli kian tertarik untuk berinvestasi, seperti Seema B yang merupakan seorang ibu rumah tangga.

Baca juga: Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

“Harga (emas) telah sedikit menurun dan kekhawatiran mengenai virus juga mereda,” katanya. Perempuan berusia 35 tahun ini mengatakan bahwa ia pergi ke Mumbai untuk mendapatkan gelang baru setelah berbulan-bulan menunda.

Di Tiongkok, konsumsi emas akan naik sebesar 28 persen pada tahun ini, dengan sebagian besar lonjakan akan ada pada kuartal pertama karena pemulihan pasca Covid-19.

Zhang Yongtao, Sekretaris Jenderal di China Gold Association, menyebutkan bahwa penjualan perhiasan di toko retail di kota besar meningkat dua kali lipat.

Kenaikan tersebut terjadi selama liburan Tahun Baru Imlek dibandingkan dengan penjualan pada tahun lalu. Penjualan emas batangan juga meningkat di Singapura, Hong Kong dan Thailand sejak bulan Februari 2021.

Baca juga: Melihat Tantangan dan Peluang Diplomasi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

Dampak Covid-19 Terhadap Harga Emas

Pemerintah di seluruh dunia akan berjuang untuk membalikkan kebijakan fiskal yang diperkenalkan sebagai tanggapan terhadap pandemi Covid-19.

CPM Group, sebuah konsultan keuangan dan pasar komoditas independen berbasis di New York, AS, menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah dunia. Pandemi selama setahun terakhir juga disebutnya membuat beberapa masalah yang ada menjadi lebih buruk, termasuk dengan harga emas.

“Pandemi pada akhirnya akan berlalu dan berakibat adanya perubahan pada dunia. Pada kenyataannya mempersulit dan memperburuk beberapa faktor terhadap harga emas,” demikian pernyataan dari CPM Group.

Penggerak terbesar yang akan mendukung emas pada saat pemulihan dunia termasuk di antaranya adalah hutang sektor swasta dan negara, defisit serta kebijakan moneter yang sangat longgar.

Baca juga: Bagaimana Kpop Menjadi Hiburan Bernilai Jutaan Dollar?

Dalam buku tahunan emas (gold yearbook) CPM Group menyebutkan bahwa, “Skenario tersebut memosisikan emas dengan baik untuk mendapatkan keuntungan lebih lanjut dalam jangka menengah hingga panjang.”

“Pandemi telah memperdalam masalah ini dan akan sulit untuk memutar-balikan beberapa masalah ini, yang akan membantu menjaga investor tertarik pada logam. Tren suku bunga AS tampaknya akan menjadi faktor utama yang akan menggerakkan harga emas lebih tinggi dan lebih rendah selama tahun 2021. Tingkat nominal rendah dan tingkat inflasi yang disesuaikan dengan inflasi negatif akan membuat investor jangka panjang tertarik pada emas.”

Penggunaan emas sebagai diversifikasi portofolio diharapkan tumbuh pada tahun ini dan akan membantu harga bergerak naik. Permintaan investor juga akan tetap kuat di tahun ini namun pendekatan investor terhadap emas di tahun 2021 akan berbeda dari tahun lalu.

Bank sentral di seluruh dunia diproyeksikan tetap menjadi pembeli emas tahun ini. “Banyak bank sentral, terutama di banyak negara berkembang, ingin terus mendiversifikasi aset mereka dari Dolar AS dan Euro serta kemungkinan akan terus menambah kepemilikan mereka di masa mendatang,” demikian catatan dari CPM Group.

Total pasokan emas diperkirakan naik menjadi 131,2 juta ons pada tahun 2021 dengan didahului oleh meningkatnya produksi tambang.

Nur Fauziyah Pradita

Alumnus Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menaruh minat pada isu-isu internasional dan pembangunan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *