Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

RUANGNEGERI.com – Berbicara tentang Merapi, salah satu gunung api paling aktif di Pulau Jawa bahkan seantero Nusantara ini tidak pernah lepas dari cerita-cerita berbumbu legenda dan mitologi.

Riwayatnya sering kali dikaitkan dengan kepercayaan kuno masyarakat Jawa yang tak jarang masih dipercaya hingga saat ini.

Seperti misalnya, legenda garis imajiner Yogyakarta. Ia merupakan garis lurus yang menghubungkan lima titik tempat sakral dan penting di Yogyakarta, yakni dimulai dari gunung ini hingga Pantai Parangtritis.

Tiga titik lainnya yang berada di tengah adalah Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta dan Panggung Krapyak.

Ada versi yang menambahkan alun-alun Yogyakarta bagian utara dan selatan yang juga dilewati garis lurus imajiner ini. Sehingga menjadi tujuh tempat yang dilalui garis ini.

Hingga kini, masyarakat di kota Gudeg khususnya, banyak yang mempercayai bahwa ada makna filosofis tersembunyi dari garis lurus imajiner ini.

Tapi, sebenarnya sejarah Gunung Merapi menyimpan kisah historis lebih dari sekedar cerita-cerita legenda dan mitologi.

Gunung api ini berada di dalam wilayah administratif empat kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), Magelang, Boyolali dan Klaten yang berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Terdapat beberapa perbedaan pendapat dari para ahli mengenai pembagian periodisasi sejarah historis Merapi. Ada yang berpendapat pembabagian sejarah Merapi terdiri atas dua fase. Tetapi, ada pula yang membaginya dalam empat fase.

Buku Geological Map of Merapi Volcano Central Java (1989) membagi periodisasi Merapi dalam dua fase, yaitu Fase Merapi Muda dan Fase Merapi Tua.

Namun penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Berthomier (1990), Newhall & Bronto (1995) serta Newhall, dkk (2000), membagi sejarah Merapi dalam empat fase.

BACA JUGA: Ragam dan Pesona Wisata Tanah Flores

Di antaranya adalah Fase Pra Merapi, Fase Merapi Tua/Purba, Fase Merapi Pertengahan dan Fase Merapi Baru.

Pertama adalah fase pra-Merapi. Berthommier memperkirakan fase Pra Merapi terjadi sekitar 700.000 hingga 400.000 tahun yang lalu.

Pada masa itu, Merapi belum ada. Yang ada pada saat itu di lokasi Merapi sekarang adalah sebuah gunung bernama Gunung Bibi setinggi 2.025 meter di atas permukaan laut (mdpl). Persisnya berada di bagian timur dari puncak Merapi.

Gunung Bibi memiliki karakteristik lava basaltik andesit. Lava ini memiliki kandungan sekitar 55% silika. Ia merupakan jenis lava yang memiliki tingkat viskositas (kekentalan) yang sedang.

Tidak terlalu kental, juga tidak terlalu encer. Berbeda halnya dengan jenis lava di Gunung Merapi yang merupakan jenis lava basalt yang encer sehingga mudah mengalir mengikuti permukaan bumi, dan mampu menjangkau tempat yang jauh.

Fase kedua adalah Merapi Tua atau Merapi Purba. Ini merupakan fase awal terbentuknya Merapi setelah hancurnya Gunung Bibi. Kejadiannya diperkirakan 60.000 hingga 8.000 tahun yang lalu. Tetapi pada waktu itu Merapi belum berbentuk kerucut.

Sisa-sisa Fase Merapi Purba ini dapat ditemui di Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang berada di bagian selatan Merapi. Tepatnya di wilayah administratif Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kedua bukit tadi terbentuk dari jenis lava yang encer atau disebut dengan basalt.

Fase Merapi selanjutnya adalah Fase Merapi Pertengahan atau disebut juga Fase Merapi Muda. Fase ini berlangsung sekitar 8000 hingga 2000 tahun yang lalu.

Berlangsungnya fase ini ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi dari lelehan lava andesit yang membentuk Bukit Batulawang dan Gajah Mungkur di sisi utara dari puncak Merapi.

Proses pembentukan ini ditandai dengan awan panas, serta adanya breksiasi dan aliran lava.

Pada masa ini, letusan Merapi telah bersifat efusi (lelehan) dan eksplosif (ledakan). Bahkan, diperkirakan terjadi letusan eksplosif yang reruntuhan materialnya membentuk morfologi tapal kuda sepanjang 7 km, lebar 1 – 2 km.

Kawah Merapi yang dikenal dengan nama Kawah Pasar Bubar pun diperkirakan terbentuk pada fase ini.

Puncak Merapi seperti yang dapat kita lihat sekarang ini terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, sebelum puncaknya belum berbentuk seperti sekarang, telah terjadi beberapa kali letusan yang bersifat eksplosif.

Tercatat, skala VEI-nya (Volcanic Explosivity Index) mencapai 4 dari skala maksimum 8.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Fase keempat dalam pembagian sejarah terbentuknya Merapi ini disebut dengan Fase Merapi Baru. Periodisasi waktu Fase Merapi Baru ini mulai 2000 tahun lalu hingga sekarang.

Hal ini ditandai dengan terbentuknya kerucut pada puncak Merapi yang kini disebut dengan Gunung Anyar. Puncak baru tersebut muncul di bekas kawah Pasar Bubar yang mulai terbentuk sejak 2000 tahun lalu.

Karakteristik Merapi sejak tahun 1953 adalah lavanya mendesak ke puncak kawah disertai dengan runtuhnya kubah lava secara berkala. Kemudian membentuk awan panas yang dapat meluncur menuruni lereng gunung atau sebaliknya, bergerak ke atas.

Tipe letusan seperti ini tidak mengeluarkan suara ledakan, melainkan suara resistan. Kubah puncak Merapi yang ada sampai tahun 2010, sebelum letusan dahsyatnya pada tahun tersebut, merupakan hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas pada tahun 1969.

Pada tahun 2006 silam, para pakar geologi mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Gunung Merapi yang sifatnya dapat menghambat gelombang getaran gempa bumi.

Material yang seperti lumpur itu diperkirakan merupakan kantung magma yang terbentuk akibat aktivitas tektonik atau pergerakan lempeng batuan di dalam bumi.

Yakni menghunjamnya lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia.

Letusan Dahsyat Tahun 1006 yang Mengubah Peradaban Jawa

Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa - Candi Borobudur

Gunung yang baru-baru ini tercatat mengalami erupsi pada 2 Mei 2020 lalu pernah menumpahkan isi perutnya hingga meluluhlantakkan Tanah Jawa. Letusan tersebut banyak diyakini menjadi penyebab berubahnya sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa.

Kisah ini diperkirakan terjadi pada 1006 M dan merupakan salah satu letusan yang terjadi pada fase Merapi Baru, meskipun terjadi beberapa perdebatan terkait letusan Merapi pada 1006 Masehi ini.

Setidaknya, menurut penelitian yang berjudul Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006 yang ditulis oleh Supriati Dwi Andreastuti dkk (2006), menyebutkan bahwa letusan itu memang telah berdampak besar di Pulau Jawa, seperti berikut ini.

Letusan besar tersebut ditengarai banyak kalangan sebagai penyebab perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari sebelumnya berpusat di Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Analisis itu berdasarkan pada penemuan Prasasti Pucangan yang dibuat oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang menunjukkan tahun 1041 M.

Menurut H. Kern dalam Een-Oud Javaansche steeninscriptie van Koning Er-Langga (1913), bahwa di dalam Prasasti Pucangan tersebut disebutkan telah terjadi pralaya (bencana besar) di Kerajaan Mataram Kuno pada 928 saka atau 1006 M.

Kerajaan Mataram Kuno atau disebut juga Mataram Hindu merupakan kerajaan yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan yang memiliki dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.

Kedua dinasti tersebut dikenal mewariskan peninggalan sejarah berupa Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Pada tahun 928 saka, rajanya, yaitu Mpu Sindok memindahkan Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke wilayah Medang (sekarang wilayah Jombang), Jawa Timur akibat letusan Gunung Merap.

Versi lain ada yang menyebutkan akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya dan upaya untuk mencari lokasi kerajaan baru yang lebih strategis.

Riwayat tersebut sesuai dengan hasil penelitian R.W Van Bemmelen di The Geology of Indonesia (1949). Bemmelen menyimpulkan bahwa letusan Gunung Merapi pada tahun 1006 telah mengakibatkan dipindahkannya Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur.

Dia juga menambahkan bahwa perpindahan tersebut terjadi pada era Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa atau Mpu Sindok.

Letusan Gunung Merapi pada 1006 itu telah mengganggu jalannya pemerintahan, bahkan merusak peradaban Kerajaan Mataram Kuno.

Aliran lahar dingin Merapi menyebabkan Sungai Progo terbendung, kemudian membentuk Perbukitan Gendol yang terletak di sebelah barat Gunung Merapi.

Diperkirakan pula, aktivitas vulkanik itu disertai dengan getaran gempa bumi yang merusak sebagian Candi Borobudur dan Candi Mendut yang dibangun pada abad ke-9.

Mengubur Candi Sambisari

Kompleks candi ini terletak 23 km di selatan Gunung Merapi atau sekitar 12 km di timur Kota Yogyakarta. Tidak jauh dari kawasan Candi Prambanan atau tepatnya sekarang berada di wilayah Kalasan, Sleman, Yogyakarta telah ditemukan sebuah bangunan yang terkubur 6,5 meter di bawah tanah yang merupakan timbunan lahar dingin Merapi.

Temuan ini tercantum dalam Jurnal Geologi Indonesia pada tahun 2006 yang kemudian mengubah namanya menjadi Indonesian Journal on Geoscience sejak 2014 lalu.

Candi Sambisari merupakan kompleks candi umat Hindu yang dibangun pada era Kerajaan Mataram Kuno di bawah kepemimpinan Rakai Garung.

Candi ini ditemukan pertama kali pada tahun 1966, berada di bawah timbunan lahar dingin Gunung Merapi.

Sebelumnya, diduga permukaan tanah di sekitar Candi Sambisari tidak lebih tinggi daripada tempat candi dibangun. Namun, material batu, tanah dan pasir yang terdapat di aliran lahar dingin dari letusan Merapi tahun 1006 telah menimbun kompleks candi tersebut.

Adanya material berupa batu-batu khas vulkanik di sekitar kompleks candi menjadi salah satu bukti empiris yang memperkuat kejadian adanya letusan gunung yang menimbun candi tersebut.

Laporan Pertemuan Ilmiah Arkeologi di Cibulan pada tanggal 21 hingga 25 Februari 1977 yang diterbitkan pada tahun 1980 oleh Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan bahwa Candi Sambisari diperkirakan dibangun pada dekade kedua abad ke-9.

Dua abad sebelum Merapi erupsi tahun 1006. Pada masa itu, Candi Sambisari merupakan wilayah dari kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya di bawah rajanya yaitu Rakai Garung (828 – 846 Masehi).

Bagaimana? Menarik bukan sejarah Gunung Merapi dari sisi ilmiah yang dilakukan oleh para ahli geologi?

Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk menghadirkan sisi lain dari sejarah gunung paling aktif di Indonesia itu. Bukan berarti meniadakan kisah-kisah legenda dan mitologi yang berkembang terkait gunung ini di tengah masyarakat Jawa selama ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *