Gundala, Sosok Pejuang Kaum Buruh

RUANGNEGERI.com – Sancaka hidup di jalanan sejak ditinggal ayah dan ibunya. Menghadapi hidup yang keras, ia belajar untuk bertahan hidup dengan tidak peduli kepada orang lain dan hanya mencoba untuk mendapatkan tempat yang aman bagi dirinya sendiri.

Ketika situasi kota semakin tidak aman dan ketidakadilan merajalela di seluruh negeri, Sancaka harus buat keputusan berat. Tetap hidup di zona amannya atau keluar sebagai Gundala untuk membela orang-orang tertindas.

Cerita Gundala merupakan adaptasi dari cerita pahlawan pada tahun 1969 berjudul ‘Gundala’ karya Harya Suraminata. Cerita ini kemudian diadaptasi menjadi film pada tahun 2019 oleh seorang sutradara dan penulis naskah, Joko Anwar.

Film Gundala merupakan produksi bersama Screenplay Films, Legacy Pictures, Ideosourse Entertainment dan pemilik hak cipta Bumilangit Studios. Film ini akan menjadi awal dari Jagat Sinema Bumilangit.

Baca juga: My Lecturer My Husband: Kisah Cinta Mahasiswa dengan Dosen Killer

Sancaka Si Manusia Petir

Film ini mengisahkan tentang Sancaka yang merupakan anak seorang buruh pabrik miskin. Ayahnya terlibat dalam demo buruh dan menjadi pentolan para buruh tersebut.

Ayah Sancaka menjadi pemimpin demo untuk menuntut kenaikan upah buruh. Pada demo kedua, ayah Sancaka ditikam oleh rekannya sendiri yang juga merupakan sesama buruh. Kejadian tersebut terjadi di depan matanya langsung.

Emosi Sancaka tidak terkendali pada saat itu. Dia berteriak dan pada saat bersamaan petir tiba-tiba bergemuruh. Saat itu pula petir dari dalam tubuhnya keluar. Hal itu kemudian membuat orang-orang di sekitarnya terpelanting.

Sancaka merupakan seorang anak kecil yang takut dengan petir seketika kaget. Dia juga seorang yang sangat mahir dengan kabel dan listrik, namun merasa petir selalu mengincar dirinya. Itulah alasan mengapa Sancaka sangat takut dengan petir.

Kematian ayah Sancaka mendorong ibunya untuk mencari pekerjaan di kota. Ibunya meninggalkan Sancaka ke kota dan berjanji untuk pulang pada keesokan harinya, namun kepulangan yang dijanjikan itu tidak pernah terjadi.

Sancaka ditinggalkan berhari-hari oleh ibunya hingga kelaparan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari ibunya ke kota. Sancaka hidup dengan menjadi anak jalanan.

Pada saat ia menjadi anak jalanan di kota, ia bertemu dengan Awang. Awang mengajarkan Sancaka ilmu bela diri. Namun, pertemuan mereka sangat singkat. Pada suatu hari, Awang meninggalkan Sancaka sendiri karena Sancaka tidak bisa mengikuti pergerakan Awang.

Sancaka tumbuh dewasa dan bekerja di percetakan sebagai penjaga keamanan. Ia kemudian bertemu dengan seorang wanita yang tinggal sebagai tetangganya di rumah susun. Tetangganya bernama Wulan.

Wulan merupakan seorang aktivis yang membela dan melindungi pedagang pasar dari praktik premanisme yang masih berlangsung di pasar tersebut. Suatu hari, Sancaka membantu Wulan untuk menghalau para preman, namun preman-preman tersebut berusaha untuk membalas Sancaka.

Sancaka diserang oleh para preman yang berusaha untuk membunuhnya. Ia sempat jatuh dari atas, namun tiba-tiba ada petir menyambar tubuh Sancaka, lalu ia hidup kembali.

Baca juga: Bagaimana Kpop Menjadi Hiburan Bernilai Jutaan Dollar?

Intrik Kekuasaan dan Mafia Legislatif

Di sisi lain, dunia yang tampak jauh dari dunia Sancaka, pemerintahan dikendalikan oleh seorang mafia bernama Pengkor. Pengkor merupakan seorang mafia dengan cacat fisik, namun memiliki pengikut setia yang sangat banyak.

Pengkor memimpin pasukan anak yatim yang dibesarkan sebagai pasukannya. Anak-anak yatim tersebut disekolahkan sesuai dengan minat dan bakatnya. Mereka akan dipanggil bila Pengkor membutuhkannya. Anak-anak yatim tersebut memanggil Pengkor dengan sebutan “Bapak”.

Karena suatu hal, Sancaka bersinggungan dengan suatu Pengkor. Ia menunjukkan kekuatannya dan hal tersebut terdengar oleh Pengkor. Sifat kepahlawanan Sancaka ini membuat Pengkor ingin menghabisinya. Ia tidak ingin rencananya berantakan karena keberadaan anak tersebut.

Anak-anak Pengkor kemudian menyerang Sancaka. Mereka menggunakan segala cara. Sancaka hanya membela yang benar, ia berada di sisi anggota legislatif musuh Pengkor.

Pengkor dikisahkan sebagai sosok yang ingin menguasai dan mengendalikan Indonesia. Ia juga membuat rumor tentang beras yang telah diberi racun yang menargetkan para bayi. Tujuannya adalah agar generasi selanjutnya tidak memiliki dapat mengetahui mana yang baik dan buruk.

Pemerintah bersusah payah untuk membuat vaksin penawar. Pada saat pemerintah telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang terkait dengan vaksin penawar tersebut, ternyata justru vaksinnya yang berbahaya.

Baca juga: Bagaimana Industri Hiburan Bisa Bertahan di Masa Depan?

Alur yang Relate dengan Indonesia

Cerita Gundala pasti telah melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Dari latar belakang penulis dan pengalaman valid penulis sebagai warga negara dengan sedikit dibumbui oleh imajinasi membuat alur cerita Gundala menjadi sangat hidup.

Kisah tentang gerakan kaum buruh dan pengkhianatan sesama buruh juga merepresentasikan keadaan dan kesejahteraan buruh saat ini. Sancaka merupakan representasi anak buruh yang memiliki kehidupan miskin.

Cerita tentang intrik dan kekuasaan juga relate dengan keadaan Indonesia saat ini. Film ini juga menggambarkan tentang anggota legislatif yang dijadikan pion kekuasaan. Sekaligus juga anggota legislatif visioner dan memiliki kepribadian kuat.

Realitas kehidupan para buruh hingga pejabat tergambar secara epic di dalam film yang dibintangi oleh Abimana ini. Aktor pilihan untuk membintangi film ini juga tidak main-main. Komunikasi di antara para aktor dan aktris profesional menjadikan film ini sangat layak untuk ditonton.

Film ini telah tayang pada pertengahan 2019 lalu juga telah ditayangkan di Netflix. “Gundala udah ada di Netflix. Februari akan ada juga di Disney+Hotstar,” tweet Joko Anwar pada 30 Januari lalu. Belum ketinggalan untuk menonton film ini, kok!

Delvi Alpha Faliha

Alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Jember, seorang ekstrover yang canggung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *