Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

  • Whatsapp
Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi - Grebeg Maulud
Sumber: Instagram/pakmaidi

RUANGNEGERI.com – Grebeg Maulud merupakan tradisi yang digunakan untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad saw yang diadakan setiap tanggal 12 pada Bulan Mulud (Rabiul Awwal). Tradisi ini adalah kegiatan yang telah lama adanya.

Awal terbentuknya tak lepas dari kedatangan para pedagang dan ulama Islam dalam menyebarkan agama Islam di bumi Mataram. Proses Islamisasi di Nusantara dilakukan oleh para penyiar agama dan para pedagang dilakukan dengan cara yang halus, yakni dengan memasukkan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan masyarakat yang telah ada sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Ahmad Adib & Kundharu Saddhono (2018) dalam tulisan berjudul Paradigma Budaya Islam-Jawa dalam Grebeg Maulud Keraton Surakarta, menyebutkan bahwa proses tersebut dilakukan karena masa itu telah ada agama Hindu, dan Budha. Selain itu juga terdapat aliran kepercayaan Dinamisme serta Animisme.

Cara ini memang terkesan akan terlihat agama Islam tidak murni lagi karena adanya akulturasi kebudayaan. Namun demikian, cara ini dilakukan agar masyarakat mudah menerima ajaran baru dengan baik.

Di Jawa khususnya Kasunanan Surakarta, Islam banyak tercampur dengan ajaran sebelumnya seperti Hindu dan Budha. Percampuran tersebut banyak dikenal dengan Islam Kejawen.

Islam Kejawen ini merupakan agama Islam yang telah bercampur dengan konsep-konsep Hindu-Budha. Ciri khas yang paling mudah kita saksikan adalah adanya unsur mistis serta ritual dan tradisi yang berasal dari generasi sebelumnya.

Baca juga: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Sejarah Grebeg Maulud

Istilah grebeg atau garebeg berasal dari kata gumrebeg, yang berarti memiliki arti luas keramaian atau perayaan. Grebeg Maulud dilaksanakan pada tanggal 12 Bulan Maulud, tujuannya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw.

M.B. Rahimsyah (1997) dalam bukunya yang berjudul Biografi & Legenda Wali Sanga dan Para Ulama Penerus Perjuangannya, menguraikan bahwa setelah berdirinya kerajaan Demak dan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga dengan para wali lainnya menyebarkan Islam dengan cara menerapkan kesenian yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa, seperti Karawitan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *