Gita Wirjawan dan Butet Bicara Soal Keuangan Atlet Setelah Pensiun

RUANGNEGERI.com – Ketua Umum PBSI periode 2012-2016, Gita Wirjawan, berbincang dengan peraih emas Olimpiade Rio, Liliyana Natsir dalam sebuah podcast bertajuk “Endgame” yang diunggah di Youtube milik Gita Wirjawan.

Liliyana Natsir yang resmi memutuskan untuk gantung raket dari dunia tepok bulu pada Januari 2019, kini menekuni dunia bisnis. Langkah menjadi seorang pengusaha rupanya sudah ditempuh sejak ia masih berstatus pemain.

Pada tahun 2016 lalu, wanita kelahiran Manado tahun 1985 ini diketahui telah mulai membuka usaha pijat refleksi bernama Nine Family Reflexology di Gading Serpong, Tangerang.

Butet, sapaan akrabnya beralasan bahwa dirinya mengaku senang refleksi. Sebagai seorang atlet yang sering ditangani fisioterapis, ia tahu betul jenis pijatan yang enak dan menyegarkan tubuh.

Mengutip Indosport.com (28/02/2016), hanya bermodal sebuah ruko dan delapan orang terapis, Liliyana menawarkan beragam jenis pijat seperti Refleksi, Thai Massage, Shiatsu, dan lain-lain.

Dua tahun sebelumnya, yakni 2014 ia juga mulai menggeluti dunia properti. Ketertarikannya bermula berkat pengalaman paman dan teman-temannya yang sudah lebih dulu berkecimpung di sektor itu.

Liliyana membangun area perumahan dengan ukuran tipe 48 untuk tanah seluas 80 meter persegi sebanyak dua kompleks kecil. Satu kompleks berisi sekitar 14 sampai 15 rumah.

Hunian seharga Rp 500 juta hingga Rp 600 juta itu berlokasi di wilayah Bekasi dan Jakarta. Dua kompleks di Kawasan Kranggan Bekasi, yaitu Bale Sampurna.

Sementara itu, Bale Jati Raden terletak di timur Jakarta. Sebab, “harga tanah di sana masih murah dan daerahnya masih mudah diakses,” tutur peraih perak Olimpiade Beijing ini sebagaimana dilansir Tempo.co (29/01/2019).

Kepada Gita Wirjawan, ia mengemukakan alasan lain memilih daerah itu. Secara geografis, lokasinya berdekatan dengan asrama pelatnas Cipayung, tempat ia dulu memoles kemampuan gebuk raketnya.

BACA JUGA: Langkah Indonesia Usai Mundur dari Thomas Uber 2020

Ingat Pesan Ibu dan Pelatih

Sepanjang 24 tahun berkarir sebagai pebulutangkis, Butet terbilang memiliki gelar juara yang lengkap. Sebut saja, emas Olimpiade (2016), tiga kali All England (2012, 2013, 2014), empat kali Kejuaraan Dunia (2005, 2007, 2013, 2017).

Subur akan prestasi juga sejalan dengan kucuran bonus yang ia dapat baik dari pemerintah, klub, maupun sponsor. Saat meraih gelar All England 2012, dirinya mendapat Rp 200 juta, dan Rp 300 juta (2014).

Sementara untuk gelar juara dunia 2013 dan 2017, bonus yang diterimanya masing-masing Rp 400 juta dan Rp 500 juta. Puncaknya, usai jadi jawara Olimpiade Rio 2016, ia diguyur bonus sebesar Rp 5 miliar.

Bermandikan bonus yang mengalir tak lantas menjadikan mantan atlet jebolan PB Djarum jumawa. Sang ibunda, Olly Maramis, tak henti-henti mengingatkan sang buah hati untuk selalu memikirkan masa depannya.

Butet menyebutkan bahwa terkait semua bonus yang ia terima “mama selalu ngingetin, kalau punya duit jangan dipegang lama-lama, langsung diinvestasikan,” baik berupa rumah, ruko, tanah, emas, maupun uang mata asing.

Olly juga berpesan untuk mendepositokannya bila ia masih bingung dengan sederet pilihan tadi. Selain itu, ada juga peran pelatih, yakni Richard Mainaky. Pria berdarah Ambon ini berpesan bahwa kehidupan atlet yang sebenarnya adalah setelah mereka pensiun.

Kepada mantan Menteri Perdagangan era SBY itu, ia mengaku apa yang diinvestasikan tadi berbuah ketenangan hidup usai gantung raket.

BACA JUGA: Inggris Krisis Keuangan, All England 2021 Kemungkinan Batal Digelar

Prihatin dengan Nasib Para Atlet Pendahulunya

Selain sukses di dunia bulutangkis, Liliyana juga mempunyai keinginan untuk berhasil di luar itu. Ia tidak mau senasib dengan para mantan atlet yang dulunya bergelimang prestasi, namun menjalani masa tua yang sulit.

“Karena tidak bisa mengelola uangnya dengan benar, akhirnya (dia) setelah main itu nothing. Dalam arti, harusnya di standardnya prestasi dia, harusnya sudah mapan,” ujarnya tanpa merinci siapa saja orang yang ia ceritakan.

Siapa yang dimaksud Butet? Tak usah jauh-jauh. Sebelum sukses dengan bisnis peralatan bulutangkisnya, Susi Susanti dan Alan Budikusuma pun pernah mengalami masa sulit setelah berhenti dari bulutangkis.

Kendati pernah dianugerahi bintang Mahaputra oleh Presiden Soeharto, pengantin emas Barcelona 1992 ini terkesan harus mengetuk satu persatu pintu untuk menawarkan produk mereka.

Mantan pebulutangkis era Rudy Hartono, Tati Soemirah juga tak kunjung mujur. Meski terus mencoba bekerja mulai dari pelatih, karyawan perusahaan minyak pelumas, sampai kasir apotek, salah satu penentu kemenangan tim Uber Indonesia pada 1975 ini tetap hidup pas-pasan hingga tutup usia pada 13 Februari lalu.

Selain itu, ada pula seorang mantan atlet yang hidupnya terbilang jauh lebih tragis. Adalah Yuni Astuti. Mantan juara PON 1986 itu terpaksa pensiun dini akibat kecelakaan yang membuat kaki kanannya lumpuh.

Kini, ia terpaksa bekerja sebagai penyanyi kafe dan pengamen di banyak terminal bus di Surabaya.

BACA JUGA: Optimistis di Awal, Indonesia Tiba-tiba Mundur dari Piala Thomas Uber 2020

Hidup Sejahtera di Masa Tua

Butet, tak ingin mendengar sebuah skenario seorang Liliyana Natsir, peraih emas Olipiade, Kejuaraan Dunia, dan All England setelah pensiun ternyata “hidupnya seperti ini.”

Ngenes banget rasanya. Dulu kebanggaan bangsa, dielu-elukan, hidup kita jauh dari kata layak,” ujarnya berapi-api.

Ia ingin menggapai kehidupan yang mapan di usia 50-an. Di usia itu, ia tak mau hidupya masih “morat-marit panas-panasan di jalan” kendati sudah berusaha keras.

Meski terkesan serius, ia mendambakan kehidupan hari tua yang cukup dengan berkelakar, “ibarat kata cukup. Cukup beli mobil ada, cukup beli rumah ada, cukup beli helikopter ada, serba cukup,” ungkapnya disambut tawa Gita.

Pemilik Ancora Group itu menanggapi secara optimistis ucapan Liliyana. Ia melihat srikandi bulutangkis Indonesia ini sangat mind over body. Setelah menyimak kehidupan yang dilakukan mantan pemain No. 1 dunia itu, Gita Wirjawan mendorongnya untuk tidak segan berbicara lebih banyak kepada rekan-rekan atlet mengenai strategi mengelola keuangan usai pensiun.

Menurutnya, perlu disusun sebuah pedoman dan seminar seputar financial management oleh kalangan profesional kepada atlet di seluruh cabang olahraga. Tujuannya adalah agar mereka memahami bahwa “ke depannya mereka bukan megang raket saja, bukan lari saja,”

“Kalau misal saya butuh dan seneng banget. Saya punya target nih. Saya harus juara dulu biar saya (bisa) beli, biar saya semangat,” tambahnya.

Podcast perbincangan Liliyana Natsir dan Gita Wirjawan terbagi menjadi tiga episode. Tiap episode berdurasi sekitar 30 menit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *