Girls Power Ala Film Harley Quinn: Birds of Prey

RUANGNEGERI.com – Birds of Prey merupakan film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelum Covid-19 menyebar ke seluruh Indonesia. Sinema yang disutradarai Cathy Yan tersebut tayang awal tahun 2020.

Saya pikir Birds of Prey akan nyambung dengan film Joker yang tayang di bioskop Oktober 2019 lalu. Namun, perkiraan saya meleset besar. Sinema tersebut lebih nyambung dengan film Suicide Squad (2016).

Film Harley Quinn: Birds of Prey bercerita tentang spin off atau sempalan cerita cinta Harley Quinn pada bagian pertama. For your information, buat yang tidak mengenal Harley Quinn, dia adalah kekasih Joker versi Jared Leto.

Sinema ini mengisahkan kisah move on ala Harley Quinn. Pada scene awal, Harley Quinn yang diperankan oleh Margot Robbie galau karena baru putus dengan Joker.

Harley Quinn paham betul bahwa ia tidak boleh sembarangan dengan status barunya. Karena, banyak penjahat Gotham City yang ingin membalas dendam atas kelakuan Joker dan dirinya di masa lalu.

Dahulu, penjahat-penjahat tersebut tidak ada yang berani menyentuh Harley Quinn karena ada Joker yang mem-backing. Status baru Harley tersebut otomatis akan mengundang para penjahat untuk membalas dendam karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya.

Berita putusnya Harley Quinn dengan Joker menyebar dengan cepat di seantero Gotham City. Ia ingin melanjutkan hidup dengan normal tanpa bayang-bayang Joker. Dirinya juga ingin memutus semua ketergantungan di masa lalunya dengan mantan kekasihnya itu.

Harley Quinn dengan bangga meresmikan status barunya saat ia sedang mabuk. Tidak cukup hanya itu, ia juga mendeklarasikan status single-nya dengan cara yang gila. Tindakan gilanya berujung petaka bagi dirinya.

Kegilaan Pasca Putus dengan Joker

Harley Quinn melakukan kegilaan dengan meledakkan pabrik kimia yang menjadi simbol cinta Mr. J alias Joker dan dirinya. Tragedi tersebut secara tidak langsung mengumumkan status barunya.

Tak hanya itu, tindakan Harley lantas menggemparkan seisi kota. Ia menjalani hidupnya yang baru dengan perasaan free alias bebas. Ia pun mulai diintai orang-orang yang pernah disakitinya di masa lalu.

Para penjahat kembali menemui Harley Quinn untuk membalaskan dendamnya. Di masa lalu, ia dan Mr. J banyak menyakiti orang lain. Mereka merasa wanita itu tak punya power tanpa Mr. J.

Namun, ternyata para penjahat tersebut terlalu meremehkan kemampuan Harley Quinn. Pikiran yang cenderung patriarki membuat mereka berpikir bahwa Harley tak bisa hidup tanpa Joker.

BACA JUGA: Rotasi dan Revolusi: Kisah Cinta dari Pikiran ke Pikiran

Teror dari Para Penjahat

Pasca Harley Quinn meledakkan pabrik kimia, ia banyak diteror. Dirinya diikuti penguntit, dicelakai, hingga diteror. Tapi, perempuan itu tetap stay cool.

Setelah putus, ia hidup dengan cara yang tidak lazim. Ia memutuskan untuk memelihara hewan. Harley memilih Hyena yang ia beri nama Bruce untuk menjadi binatang peliharaannya.

Ia juga dapat melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan atau menunggu persetujuan Mr. J. Namun, seorang pemilik klub sekaligus orang yang pernah disakitinya menginginkan Harley mati.

Pemilik klub bernama Roman Sionis/Black Mask diperankan oleh Ewan McGregor. Ia sangat bernafsu untuk membunuh Harley Quinn.

Roman Sionis menangkap wanita itu, lalu menyekapnya. Harley Quinn sudah sangat desperate dengan keadaan yang menimpanya. Harley pikir ia dapat meng­-handle teror-teror yang datang padanya, tapi ternyata tidak.

Di dalam keadaan yang sangat terdesak itu, ia mengetahui bahwa Roman Sionis sedang kehilangan suatu barang. Roman kehilangan berlian yang sangat penting dan sangat berharga.

Roman dan bawahannya, Victor Zsasz yang diperankan oleh Chris Messina dan Black Canary (Jurnee Somllet-Bell) kesulitan menemukan benda tersebut. akhirnya, Harley Quinn menawarkan diri untuk mencarinya.

BACA JUGA: Romantisme dan Kesabaran di Hujan Bulan Juni

Pembentukan Girls Gank, Birds of Prey

Harley diberi tenggat waktu untuk menemukan orang yang mencuri berlian itu. Benda berharga milik Roman Sionis tersebut ternyata dicuri oleh pencuri jalanan, Cassandra Cain yang diperankan oleh Ella Jay Basco.

Harley Quinn menangkap pencopet cilik tersebut, lalu membawanya ke rumahnya. Ia mengiming-imingi gadis itu perlindungan dari polisi. Namun, niat sebenarnya yaitu menyerahkan Cassandra Cain kepada Roman Sionis.

Sementara itu, jalan yang dilewati Harley Quinn tidak selalu mulus. Ia juga harus menerima banyak teror sambil terus menjalani hidup. Fyi, jika Harley Quinn berhasil mendapatkan berlian Roman Sionis, ia akan mendapat jaminan perlindungan dari lelaki tersebut. That’s why Harley getol untuk membantunya.

Namun semakin lama, Harley merasa semakin terikat secara emosional dengan Cassandra Cain. Lantas, dirinya pun menjadi ragu untuk menyerahkan gadis cilik itu pada Roman Sionis. Akhirnya, ia mengumpulkan tim yang terdiri dari detektif Montoya (Rosie Perez), Huntress (Mary Elizabeth Winstead), dan Black Canary (Jurnee Smollet-Bell).

BACA JUGA: Kota di Balik Tembok, Romantisme dalam Labirin Distopia

Perempuan dan Isu Ketimpangan Gender

Isu ketimpangan gender di film ini lumayan banyak. Namun, yang paling saya kagumi adalah bagian yang diperankan detektif Montoya.

Montoya merupakan seorang detektif di kepolisian Gotham. Ia selalu melakukan pekerjannya dengan sangat baik. Sayangnya, rekan-rekannya di kepolisian selalu menganggapnya tidak spesial.

Tiap kali detektif Montoya melakukan suatu pencapaian, apresiasi yang diberikan rekan-rekannya biasa saja. Bahkan, ia tidak diberi jabatan yang tinggi dengan alasan karena dirinya wanita.

Detektif Montoya geram. Ia bertanya-tanya apa salah menjadi wanita? Dirinya merasa telah memilih jalan yang baik untuk menjadi polisi. Namun, lingkungan kerjanya terasa sangat toxic dan diskriminatif.

Karena suatu hal, ia akhirnya mengikuti genk Harley Quinn. Dia juga butuh afirmasi dan pengakuan bahwa wanita juga bisa menjadi sesuatu. Ditambah dengan dirinya yang juga pernah bermasalah dengan Roman Sionis.

Begitu pula dengan Black Canary. Ia awalnya merupakan seorang penyanyi klub yang memiliki suara magis. Tidak hanya itu, Canary juga memiliki kemampuan untuk bertarung.

Akhirnya, ia direkrut menjadi anak buah dari Roman Sionis. Ia menjadi tangan kanan lelaki itu bersama Victor. Namun, Black Canary melakukan pekerjaannya tidak dengan sepenuh hati.

Perempuan tersebut merasa apa yang ia kerjakan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ia kemudian mengikuti suara hatinya dan bergabung dengan Harley Quinn.

Kalau Huntress, dia punya dendam masa lalu akibat orang tuanya yang pernah dibunuh. Saat itu, ia masih kecil dan tidak berdaya untuk melawan. Dirinya kemudian diselundupkan dan belajar cara memanah.

Ia kembali lagi untuk membalaskan dendamnya dan kemudian bergabung dengan Harley Quinn. Perempuan tersebut mencari keadilan untuk keluarganya yang dibunuh di masa lalu.

BACA JUGA: Mariposa: Kupu-kupu yang Sulit Digapai

Grafik yang Memanjakan Mata

Selama menonton film ini, mata saya merasa sangat dimanjakan dengan grafiknya. Warna yang digunakan pas. Nuansa Gotham City yang dark dipadukan dengan Harley Quinn yang identik dengan colorfull stuff menurut saya menarik.

Warna-warna yang digunakan di film Birds of Prey memikat mata. Misalnya saat Harley mengebom pabrik atau saat ia menggunakan senapan yang mengeluarkan warna dan sparkle.

Sinema ini seperti menggunakan filter ala-ala lightroom, aplikasi yang banyak digunakan oleh selebgram. Warna yang dihasilkan pun jadi lebih apik.

Tampilan grafik tersebut dipengaruhi juga dengan pencahayaan atau lighting. Pencahayaan pada film ini jika saya deskripsikan terasa dark, blink-blink, sekaligus colorfull.

Nuansa dark didapatkan dari sorotan lampu yang minim. Nuansa blink-blink dan colorfull didapat dari pernak-pernik yang digunakan oleh Harley Quinn.

Namun, film ini perlu mendapat perhatian penonton karena memuat adegan-adegan kekerasan. Tidak baik untuk ditonton anak dibawah umur. Girls Power ditunjukkan adegan-adegan ini.

Di sisi lain, salah satu pesan yang ingin disampaikan yaitu wanita tidak bisa diremehkan. Wanita yang hidup di lingkungan yang masih patriarki akan cenderung diremehkan. Kenyataan sosial tersebut dituangkan dalam film Birds of Prey ini.

BACA JUGA: KKN di Desa Penari: Cerita KKN yang Berujung Kutukan

Kekurangan Film Birds of Prey

Menurut saya, film ini memiliki banyak sekali kekurangan. Banyak adegan yang menurut saya gak masuk alias gak penting-penting amat. Juga banyak hal-hal yang menurut saya tak nyambung dengan inti cerita.

Adegan-adegan tersebut memberi kesan tidak penting, sekaligus membuat saya penasaran. Apa sih hubungannya sama film ini atau serial film DC selanjutnya?

Adegan yang menurut saya ganjil yaitu ketika Black Mask atau Roman Sionis menunjukkan koleksi tengkoraknya. Apa hubungannya dengan film ini? Saya rasa tidak ada hubungannya dengan alur cerita utamanya.

Lalu, hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah apa alasan Harley Quinn dan Joker putus? Di film ini tidak ditunjukkan alasannya.

Film ini juga memuat terlalu banyak tokoh baru. Banyaknya tokoh baru membuat penonton baru tidak tahu nama maupun latar belakangnya.

Dengan durasi 1 jam 49 menit, saya rasa cukup untuk memperkenalkan tokoh-tokoh baru yang ada di dalam film tersebut. Bukan malah memasukkan adegan-adegan yang tidak terlalu penting.

Tetapi, kita juga tidak tahu. Mungkin, di serial selanjutnya akan ada penjelasan dari tokoh-tokoh di film ini. Who knows? Apalagi menimbang film-film DC selalu memiliki plot twist dan alur yang cukup kompleks.

Di masa pandemi seperti ini, kalian masih bisa kok menonton Birds of Prey. Film tersebut tersedia di Google Play Movies.

Dilansir dari inverse.com, pada 24 Maret 2020 lalu pihak Warner Bros mengumumkan bahwa Birds of Prey akan dijual secara digital di Amazon, FandangoNOW, iTunes, Vudu, Xbox, dan lain-lainnya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir jika belum menonton film ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *