Filosofi Budaya Jawa dalam Tata Ruang Kota Yogyakarta

RUANGNEGERI.com – Selama ini, Yogyakarta banyak dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan. Namun, tahukah bahwa dalam tata ruang pembangunan kota ini juga penuh dengan makna filosofis yang sangat tinggi?

Kota bersejarah ini didirikan pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I. Kota Yogyakarta kemudian dijadikan sebagai pusat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Melansir laman UNESCO, sebuah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani urusan pendidikan, keilmuan dan kebudayaan, menyebutkan bahwa kota ini dirancang berdasarkan kosmologi dan filosofi khas Jawa. Lokasinya dipilih untuk mencerminkan mikrokosmos.

Desain tata ruang pembangunan Kota Yogyakarta ternyata tidak sekedar berdasarkan unsur geografis semata. Namun terdapat nilai filosofi yang tinggi dari gabungan nilai-nilai tradisi Kejawen, Hindu serta Islam.

Letaknya berada dalam sumbu imajiner utara-selatan, yang terletak di antara tiga fenomena alam. Ada gunung Merapi di utara, Pantai Parangkusumo dan Parangtritis di sebelah selatan serta diapit 6 aliran sungai di sebelah timur dan barat.

Baca juga: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Nilai Filosofis Bangunan di Kota Yogyakarta

Dari Sultan Hamengkunuwono I inilah nilai-nilai luhur Kejawen dan Hindu disesuaikan dengan ajaran Islam. Contoh yang paling terlihat adalah adanya bangunan Masjid Gedhe di sebelah barat Alun-alun Utara.

Selain itu juga terdapat Masjid Pathok Negara yang merupakan masjid tua sebagai pembatas Kota Yogyakarta dari berbagai penjuru arah mata angin. Masjid-masjid tua tersebut bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun juga memiliki nilai filosofis dan budaya yang sangat tinggi.

Sultan juga membangun beberapa situs yang tidak hanya memiliki fungsi fisik tetapi juga memiliki nilai filosofis tersendiri. Contohnya adalah pembangunan Panggung Krapyak atau kandhang menjangan dengan desain mirip lingga yoni (seorang wanita), sebagaimana banyak ditemui di candi umat Hindu. Bangunannya juga disesuaikan dengan jenis vegetasi sesuai nilai-nilai filosofi tersendiri.

Beberapa nilai filosofis dalam pembangunan Yogyakarta yang dikenal istimewa di antaranya adalah Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawana, Manunggaling Kawulo lan Gusti serta Catur Gatra Tunggal.

Baca juga: Bahasa Rinengga: Keindahan Sastra Jawa yang Mulai Jarang Digunakan

1. Sangkan Paraning Dumadi

Sangkan Paraning Dumadi adalah nilai sufistik Jawa yang bermakna bahwa manusia hanya hidup sementara dan akan berpulang ke rumah sejati. Dengan nilai filosofi tersebut, maka manusia diharapkan sadar akan hakikat hidupnya.

Nur Kolis & Kayyis Fithri Ajhuri (2019) dalam tulisan berjudul SANGKAN PARANING DUMADI: Eksplorasi Sufistik Konsep Mengenal Diri dalam Pustaka Islam Jawa Prespektif Kunci Swarga Miftahul Djanati, menjelaskan bahwa tujuan dari ajaran ini adalah sebagai tuntunan bagi manusia untuk mengenal Tuhan.

Hal itu merupakan penelusuran dari alur atau jalan kehidupan manusia. Yakni mencari, mengenali, menghayati serta menyadari asal-usul kehidupan, perjalanan hidup dan tujuan hidupnya di bumi ini. Sangkan Paraning Dumadi juga mengajarkan kepada manusia bahwa suatu saat akan berjumpa dengan Sang Pencipta.

Melansir laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam pembangunan Kota Yogyakarta, filosofi tersebut digunakan untuk memaknai pembangunan Panggung Krapyak hingga Tugu Golong Gilig.

Panggung Krapyak di sebelah selatan yang dibangun menyerupai bentuk yoni diibaratkan sebagai awal kehidupan (kelahiran). Kemudian lurus ke arah utara terdapat berbagai simbol dari tahap kehidupan manusia.

Selain itu juga terdapat pohon Asam di daerah utara Krapyak hingga Jalan Margo Utomo (sebuah jalan di selatan Tugu). Hal itu memiliki arti jalan keutamaan sebelum menyatukan cita, rasa dan karsa dalam menghadap Sang Pencipta.

Baca juga: Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

2. Hamemayu Hayuning Bawana

Hamemayu Hayuning Bawana adalah falsafah yang dicetuskan oleh Sultan Agung. Filosofi ini bermakna mengupayakan keselarasan dunia seisinya yang meliputi keselamatan, memelihara kehidupan serta menjaga kelestarian alam.

Keselarasan di sini meliputi hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablun min Allah), sesama manusia (hablum min annas) serta manusia dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu sangat penting karena di dunia ini, makhluk-Nya tidak hanya manusia saja. Namun juga ada tanaman, hewan, sungai, gunung, laut, angin dan lain sebagainya.

Penelitian menarik terkait dengan filosofi alam dilakukan oleh Sigit Sapto Nugroho & Elviandri (2018). Dalam tulisan berjudul MEMAYU HAYUNING BAWANA: Melacak Spiritualitas Transendensi Hukum Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Kearifan Masyarakat Jawa, disebutkan bahwa harmonisasi antara manusia, spiritualitas dan alam sangat penting dewasa ini.

Nilai-nilai luhur dari kearifan lokal tersebut tidaklah usang dan ketinggalan zaman, namun justru sebaliknya. Aktualisasi spiritualitas yang terdapat dalam konsep Hamemayu Hayuning Bawana amat relevan untuk menjaga keseimbangan alam.

Terlebih di era globalisasi dan modernitas saat ini yang lebih berorientasi materi. Sikap maupun perilaku manusia haruslah tetap mengutamakan harmoni, keselarasan, keserasian serta prinsip keseimbangan hidup.

Yakni tetap menjaga keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain serta manusia dengan lingkungan sekitar.

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

3. Manunggaling Kawulo lan Gusti

Falsafah Manunggaling Kawulo lan Gusti adalah falsafah Jawa kuno yang apabila tidak dipahami secara menyeluruh, bisa saja mengarah pada kesesatan.

Andi Asmara (2013) dalam makalah berjudul Dimensi Alam Kehidupan dan Manunggaling Kawulagusti dalam Serat Jatimurti, menjelaskan bahwa falsafah tersebut merupakan “puncak” dari ajaran Kejawen.

Puncak tersebut akan bisa tercapai dengan terus-menerus berbuat baik (laku becik) dan pengendalian nafsu. Sebab, pengendalian nafsu merupakan jalan untuk menghadap Tuhan sebagai manusia yang sempurna (insan kamil).

Terkait falsafah tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sultan Hamengkubuwono X, sebagaimana melansir Detik.com (06/09/2016), mengartikan bahwa Manunggaling Kawulo lan Gusti juga memiliki makna bersatunya Raja dengan rakyat.

Hal itu tercermin dalam sebuah pemerintahan yang aman, tenteram, sejahtera dan berkeadilan. Jika tidak, maka rakyat berhak memprotes ketidakadilan langsung kepada Sultan dengan cara Tapa Pepe. Yaitu bertapa dan memakai pakaian serba putih.

Aksi tersebut sempat beberapa kali terjadi di Alun-alun Utara Yogyakarta. Harapannya adalah sang Sultan langsung bisa mendengar keluh-kesah mereka.

Baca juga: Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

4. Catur Gatra Tunggal

Sedikit berbeda dengan tiga falsafah di atas, Catur Gatra Tunggal adalah falsafah yang paling erat kaitannya dengan bangunan fisik. Ciri khas ini ternyata tidak hanya di Kota Yogyakarta saja, melainkan juga di sebagian besar kota dan kabupaten lainnya di Pulau Jawa.

Laksmi Kusuma Wardani (2012) melalui tulisan berjudul City Heritage of Mataram Islamic Kingdom in Indonesia (Case Study of Yogyakarta Palace), menyimpulkan bahwa konsep Catur Gatra Tunggal adalah konsep yang memandang bahwa politik dan pemerintahan (kraton) tidak bisa lepas dari aspek ekonomi (pasar), religius (masjid) dan sosial (alun-alun).

Bukti konsep tata ruang tersebut hingga kini dapat terlihat jelas di Kota Yogyakarta. Kraton sebagai pusat politik dan pemerintahan terletak di sebelah selatan. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa letak kraton ini untuk memudahkan Sultan saat ingin bermeditasi dengan memandang Gunung Merapi yang berada di sebelah utara.

Sementara itu, Masjid Gedhe Kauman dibangun di sebelah barat kraton. Umumnya, masjid-masjid di pusat kota/kabupaten di Pulau Jawa memang terletak di sebelah barat alun-alun. Alun-alun sendiri merupakan bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal yang menjadi simbol interaksi sosial masyarakat.

Karena di sini terjadi berbagai aktivitas kemasyarakatan, mulai dari protes atas sebuah hukum (Tapa Pepe) hingga tempat pelaksanaan hukuman bagi masyarakat yang melanggar. Meskipun saat ini praktik hukuman gantung khususnya tidak tidak pernah terjadi lagi seperti dulu, namun fungsi alun-alun masih menjadi tempat berkumpulnya masyarakat umum.

Aspek berikutnya adalah pasar atau tempat ekonomi. Di Kota Yogyakarta, sebenarnya banyak pasar tradisional. Namun pasar yang dimaksud di sini adalah Pasar Beringharjo atau yang biasa disebut dengan Pasar Gede.

Pasar Beringharjo merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Pasar yang mulai dibangun pada tahun 1758 ini letaknya sangat berdekatan dengan kraton.

Baca juga: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

Upaya Menjadikan Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia

Sebagaimana diketahui, pada tahun 2018 hingga 2020, Yogyakarta secara resmi menyandang predikat sebagai Kota Kebudayaan ASEAN. Kini, berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah DIY khususnya, untuk menjadikan filosofi tata ruangnya sebagai warisan budaya dunia melalui UNESCO World Heritage.

Pemerintah DIY menyebutkan bahwa salah satu nilai filosofis yang dimaksud adalah keberadaan sumbu imajiner. Garis lurus antara Gunung Merapi hingga Pantai Selatan ini persis melewati Tugu Pal Putih, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta Panggung Krapyak.

Nilai filosofis dari tata ruang pembangunan Kota Yogyakarta sangatlah penting untuk dilestarikan. Selain lebih mendapatkan international exposure, pengakuan dari UNESCO ini nantinya akan semakin memperkuat nilai-nilai dan filosofi luhur dari kebudayaan Jawa.

Meski tidak tampak (intangible), namun nilainya sangat tinggi. Nilai-nilai filosofisnya juga sangat relevan untuk dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam upaya menjaga keseimbangan hidup manusia di era modern saat ini.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *