Eropa Kini Menghadapi Gelombang Kedua Pandemi Covid-19

RUANGNEGERI.com – Setelah membuka perbatasannya pada bulan Juni lalu, kini Eropa bersiap-siap menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Penularan terutama diduga akan dibawa oleh para pelancong yang pulang dari negara-negara beresiko tinggi.

Jerman tercatat sebagai salah satu negara yang bersiap mengadakan tes Covid-19 secara massal. Seperti yang disampaikan Helge Braun, Kepala Staf Kanselir Angela Merkel.

“Kami fokus pada penambahan kasus baru,” ujarnya. Namun tetap meminta rakyat Jerman bersabar hingga ada perintah resmi. “Kita akan secepatnya menemukan solusi.”

Para pelancong yang menjadi sasaran utama tes kali ini adalah mereka yang kembali dari luar negeri. Terutama Amerika Serikat, Brazil, Turki dan negara beresiko tinggi lainnya.

Hal tersebut didukung oleh para petinggi daerah. Markus Soeder, Gubernur Negara Bagian Bavarian mengatakan bahwa pihaknya “Telah bersiap-siap” untuk langsung bertindak. “Begitu perintah keluar, kami akan bergerak,” pungkasnya.

Covid-19 tercatat pertama kali dideteksi setelah wisatawan Jerman kembali dari resort sky di Austria. Hingga saat ini, telah tercatat hingga 205.000 kasus dengan kematian mencapai 9.000 kasus.

Dalam dua bulan terakhir, jumlah kasus meningkat drastis. Puncaknya pada Jumat kemarin. “Bavaria telah menyiapkan posko tes Covid-19,” tambah Soeder. Tepatnya di lokasi yang melintasi stasiun KA Munich dan Nuremberg.

Bavaria juga mengusulkan tes untuk seluruh pekerja musiman dan pertanian. Menyusul ditemukannya 147 kasus di kalangan pekerja. Tepatnya di sebuah pertanian di Mamming.

Selain menghadapi gelombang kedua, pemerintah Jerman juga bersiap menghadapi ancaman virus corona di tengah cuaca dingin. Tepatnya pada musim gugur hingga musim dingin nanti.

Sementara itu, Inggris waspada setelah ditemukannya kasus baru di Catalonia dan Murcia. Negeri Ratu Elizabeth tersebut menetapkan karantina mandiri selama 14 hari bagi pelancong yang baru pulang dari Spanyol.

Perintah karantina juga berlaku bagi mereka yang baru pulang dari Pulau Canary dan Balearic. Hal ini dilakukan Inggris setelah naiknya kasus Covid-19 di Perancis dan Jerman.

“Pemerintah sedang melakukan monitoring ketat pada dua negara tersebut, setelah Spanyol,” demikian disampaikan The Sun. Tindakan Inggris dan Jerman semakin memperkuat dugaan gelombang kedua pandemi yang akan dialami Eropa.

Selain monitoring dan karantina, Inggris juga akan membatasi penerbangan ke dan dari Spanyol. Hal tersebut membuat negeri Matador memberi pernyataan resmi untuk “mengecualikan Pulau Canary dari monitoring dan karantina”.

Spanyol sedang berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat merebaknya virus. Bisnis penerbangan dan wisatanya masih rentan terhadap pengaruh pandemi.

Mengutip dari Reuters (27/07/2020), keputusan Inggris ini juga berdampak pada industri penerbangan di negara tersebut. Ratusan ribu calon penumpang harus rela mengganti tujuan atau membatalkan jadwal penerbangan.

Jumlah negara yang tidak direkomendasikan untuk dikunjungi juga bertambah. Wakil Menteri Kesehatan Inggris Helen Whately menyatakan “ini adalah keputusan yang berat.”

“Namun pemerintah Inggris harus tetap mengawasi perkembangan situasi ini,” jelasnya. Jerman dan Perancis kemungkinan akan menjadi negara berikutnya yang tidak boleh dikunjungi.

Fokus utama pemerintahan Inggris saat ini adalah mencegah penyebaran kembali Covid-19 di dalam negeri.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di AS Masih Tinggi, Warganya Dilarang Memasuki Eropa

Stabilitas Ekonomi Eropa Tertunda

Saat Inggris melakukan penutupan dan Jerman kembali mengadakan tes masal, situasi negara-negara Eropa secara umum dipandang belum aman sepenuhnya.

Pemerintah masing-masing negara serta Uni Eropa berusaha meredam penyebaran virus di benua biru tersebut. Secara bersamaan, negara-negara di kawasan itu juga berusaha menstabilkan perekonomian.

Jika memang terjadi, gelombang penularan—serta lockdown—kedua, dikhawatirkan akan menimbulkan goncangan lagi pada ekonomi Eropa. Sementara belum seluruh wilayah Eropa bisa menghadapinya.

Inggris, Jerman dan Perancis selama ini merupakan tiga negara penyumbang wisatawan terbesar di seluruh Eropa. Sekitar 9.835 penerbangan dari Inggris ke Spanyol telah terjadwal hingga 31 Agustus mendatang.

Bagi Spanyol sendiri, tindakan Inggris ini merupakan tantangan besar bagi pariwisatanya. Setelah tiga bulan terpuruk akibat lockdown, liburan musim panas ini diharapkan menjadi titik balik bagi negara itu.

Negeri matador ini merupakan destinasi favorit bagi warga Eropa yang mencari sinar matahari berlimpah. Pulau Canary dan Balearic sendiri adalah destinasi unggulan.

Walau kemungkinan akan memberi pukulan pada Spanyol, Inggris tetap akan melaksanakan rencananya. “Harus ada protokol yang jelas,” ujar Whately. “Agar kami bisa melindungi rakyat Inggris.”

BACA JUGA: Covid-19 Makin Mengganas, Begini Kondisi Penerbangan AS

Perusahaan Penerbangan Paling Terdampak

Karantina dan pembatasan penerbangan ke Spanyol dan negara lain akan menghantam bisnis wisata Eropa. Terutama bisnis penerbangan.

Masing-masing perusahaan penerbangan menanggapi berbeda keputusan Inggris. Michael O’Leary dari Ryanair Group menyatakan tidak akan “mengurangi jadwal penerbangan ke Spanyol”.

“Reaksi berlebihan dan tidak diberlakukan dengan benar,” ujarnya menanggapi keputusan Inggris. CFO perusahaan, Neil Sorahan memberi tanggapan serupa. Mengatakan bahwa pihaknya akan “menghadapi kemungkinan peningkatan kasus Corona sefleksibel mungkin.”

Saat ini beberapa perusahaan penerbangan telah mencatat penurunan penumpang. British Airways mencatat penurunan sebesar 8%.

Sementara TUI menurun hingga 11%. Namun perusahaan tersebut tetap mematuhi perintah untuk tidak memberangkatkan pelancong ke destinasi wisata di Spanyol. “Semua keberangkatan telah dibatalkan hingga 9 Agustus,” ujar Andrew Flitham, Direktur Manajemen TUI.

Penurunan yang lebih besar dialami EasyJet sebesar 14%. Angka terbesar yang mereka alami sejak Maret 2020. Kondisi ini membuat para pelaku bisnis wisata “membutuhkan aturan dan batasan yang jelas, agar kami bisa tetap bergerak.”

BACA JUGA: Industri Utama AS Terancam Bangkrut, Ini Kebijakan dari Pemerintahan Trump

Kapan Covid-19 Pertama Kali Merambah Eropa?

Kasus pertama kali Covid-19 di Eropa tercatat di Bordeaux, Perancis. Pada tanggal 24 Januari 2020 dua kasus terkonfirmasi secara bersamaan. Beberapa hari kemudian ditemukan cluster Covid 19 di daerah Haute-Savoie. Pasien merupakan warga Inggris yang baru pulang dari Singapura.

Berturut-turut laporan penularan kemudian didapat dari Austria, Belgia, dan menyebar dengan cepat ke seantero Eropa.

Jumlah kasus meningkat hingga dua kali lipat dalam tiga hingga empat hari. Montenegro adalah negara terakhir yang terjangkit. Sebelum akhirnya Covid 19 menyebar ke seluruh Eropa.

Italia sempat menjadi negara dengan kasus penularan tertinggi. Namun saat ini posisi itu dipegang oleh Rusia dengan 823.515 kasus (data per 28 Juli 2020).

Sementara Vatikan dan Pulau Aland menjadi wilayah dengan kasus terendah. Masing-masing mencatat 12 dan 20 kasus dengan 0 kematian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *