Elon Musk Borong Bitcoin, Akankah Dijadikan Sebagai Alat Pembayaran Sah?

RUANGNEGERI.com – Popularitas investasi keuangan di era digital dari hari ke hari semakin banyak menarik perhatian para pemilik modal besar. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, Tesla, telah memborong investasi cryprocurrency atau mata uang kripto dengan dana sangat besar.

Tak tanggung-tanggung, dana yang digelontorkan oleh perusahaan mobil listrik yang dimiliki oleh salah satu orang terkaya dunia, Elon Musk untuk berinvestasi ke dalam bitcoin menembus hingga US$1,5 miliar (setara dengan Rp21 triliun).

Melansir The Guardian (08/02/2021), kabar investasi Tesla tersebut membuat nilai mata uang digital ini meningkat sebesar 14 persen mencapai rekor tertinggi hingga US$43.500 (Rp604 juta). Dibandingkan dengan tahun 2020, harga bitcoin meningkat sampai 3 kali lipat.

Terkait legalitas investasi, Tesla telah membuka laporan kepemilikan bitcoin tersebut kepada otoritas di Washington D.C., yakni Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (United States Securities and Exchange Commission).

Keberanian langkah Tesla menginvestasikan dana sebesar Rp21 triliun ke dalam bitcoin bukanlah tanpa tujuan. Berbagai asumsi dan prediksi terkait masa depannya mulai ramai dibicarakan sebagai respons dari langkah perusahaan besutan Elon Musk tersebut.

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Elon Musk dan Cryptocurrency

Popularitas mata uang kripto kian melejit saat Musk melalui cuitannya di twitter yang menyatakan bahwa ia mendukung instrumen investasi digital ini. Keuntungan Musk dari investasi bitcoin sejauh ini bahkan dikabarkan telah melebihi keuntungan produk Tesla lainnya.

Pria yang diperkirakan memiliki kekayaan bersih hingga mencapai US$200 miliar (sekitar Rp2.800 triliun) itu yakin dengan divesifikasi bisnisnya melalui uang digital tersebut. Setelah berhasil mengagetkan dunia dengan eksplorasi Space-X ke Mars pada medio tahun 2020, kini ia melirik bisnis uang digital.

“Saya pikir bitcoin adalah suatu hal yang bagus. Saya telat masuk ke dalam tren ini, tapi saya mendukung bitcoin dan saya pikir bitcoin ini berada dalam posisi yang akan diterima oleh pelaku usaha konvensional,” ujar Musk. Ia pun menegaskan jika bitcoin merupakan kata yang aman baginya. “Bitcoin is my save word.

Musk juga menulis cuitan mengenai jenis cryptocurrency lainnya, yakni dogecoin. Dogecoin disebutnya sebagai jenis “mata uang kripto yang merakyat.” Setelah cuitan tersebut, harga dogecoin pun mendadak melejit hingga 50 persen pada Kamis, 4 Februari lalu.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

Sama halnya dengan bitcoin, dogecoin sendiri merupakan jenis cryptocurrency berlogo meme anjing shiba inu yang berdiri pada tahun 2013. Awalnya, dogecoin dibuat hanya untuk lelucon semata karena keberadaan bitcoin juga mendorong munculnya banyak mata uang kripto serupa.

Namun candaan tersebut justru mendapatkan perhatian serius. Dogecoin berhasil mencapai nilai US$6,3 miliar (setara dengan Rp88,5 triliun) setelah cuitan Musk tersebut.

Untuk satuannya, harga dogecoin naik menjadi US$0,05204 pada Kamis pagi, atau mengalami kenaikan hampir tiga sen hanya dalam waktu 24 jam. Volume perdagangan dogecoin pun meningkat lebih dari tiga kali lipat sepanjang hari.

Dalam forum diskusi di Reddit, SatoshiStreetBets, para investor mengutarakan harapannya untuk mendorong dogecoin agar bisa mencapai nilai US$1. Dibandingkan dengan bitcoin, dogecoin memiliki kriptografi yang lebih terbatas.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

Respons Berbagai Pihak terkait Cryptocurrency dan Bitcoin

Para analis, pimpinan perusahaan besar dunia hingga otoritas perbankan masih memiliki pandangan yang cukup beragam. Ada yang mendukung, namun lainnya lebih memilih untuk berhati-hati terhadap perkembangan investasi bitcoin yang dilakukan oleh Elon Musk melalui Tesla-nya.

Pandangan skeptis terkait cryptocurrency datang dari kalangan perbankan. Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England), Andrew Bailey, menegaskan keraguannya terhadap perkembangan mata uang digital. Sebab bitcoin menurutnya tidaklah memiliki nilai intrinsik sama sekali, hanya nilai nominal berupa angka saja.

Di hadapan komite anggota parlemen Inggris, Bailey menyatakan bahwa “saya telah mengatakan untuk sekian kalinya, belilah bitcoin hanya jika Anda siap untuk kehilangan seluruh uang Anda. Maksudnya, bukan berarti Anda akan kehilangan seluruh uang Anda dan kehilangan nilainya. Orang-orang mungkin mau memiliki dan mengumpulkan bitcoin, namun bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali,” ujarnya.

Baca juga: Impulse Buying dan Pentingnya Literasi Keuangan Generasi Muda

Sebaliknya, analis dari Wedbush Securities, Dan Ives, justru meyakini jika dukungan Tesla terhadap mata uang kripto merupakan sebuah potensi gerakan perubahan besar terkait penggunaan bitcoin dari perspektif transnasional.

“Investor dan pengamat industri lainnya akan mengamati dengan saksama apakah ada perusahaan lain yang mengikuti jejak Tesla menggunakan cryptocurrency atau di sisi lain, apakah hal ini tetap berisi beberapa nama yang membuat lompatan strategis terhadap bitcoin,” ungkap Ives.

Pandangan senada juga dilontarkan oleh Eric Turner, wakil presiden perusahaan riset pasar perusahaan cryptocurrency Messari.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Cyptocurrency yang Perlu Diketahui

“Saya pikir kita akan melihat akselerasi dari perusahaan-perusahaan yang mencari alokasi ke bitcoin, mengingat Tesla telah melakukan inisiatif ini terlebih dahulu,” terang Turner.

“Salah satu perusahaan terbesar di dunia saat ini memiliki bitcoin dan selanjutnya, tiap investor yang memiliki saham Tesla atau S&P 500 juga secara tidak langsung berinvestasi dalam investasi serupa (bitcoin),” imbuhnya.

Pandangan bernada hati-hati diutarakan oleh CEO General Motors (GM), Mary Barra. Melansir CNN.com (15/02/2021), perusahaan raksasa otomotif asal AS tersebut sejauh ini nampak belum tertarik mengikuti jejak Tesla untuk membeli bitcoin.

“Kami tidak punya rencana untuk berinvestasi di bitcoin, jadi sudah berhenti sampai di sini saja,” tegas Barra. Meski begitu, perusahaannya tidak menutup kemungkinan akan mempertimbangkan kembali jika nantinya pelanggan banyak yang membeli produk GM menggunakan cryptocurrency.

“Kami akan memantau dan mengevaluasi. Jika ada permintaan pelanggan untuk menggunakan cryptocurrency di masa yang akan datang, kami akan melakukannya,” tambahnya.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

Bitcoin Jadi Alat Transaksi Sah di Masa Depan?

Dengan investasi ke bitcoin, Tesla menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk dari pembaharuan perusahaan terkait dengan kebijakan investasinya. Tujuannya adalah agar bisa menyediakan lebih banyak fleksibilitas dan diversifikasi produknya.

Selain itu juga bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan dengan cara menginvestasikan uang tunai ke dalam bentuk aset digital sebagai aset cadangan alternatif. Keputusan tersebut telah disetujui oleh komite audit perusahaan dan dapat memegang aset digital dari waktu ke waktu dalam jangka panjang.

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah terkait dengan penggunaan bitcoin itu sendiri. Dibalik besarnya nilai investasi, Tesla ternyata telah merencanakan penggunaan uang digital agar bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk digunakan sebagai transaksi pembelian produk-produk Tesla.

“Kami berharap untuk mulai menerima bitcoin sebagai alat pembayaran (sah dan legal) untuk produk-produk kami dalam waktu dekat sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan terbatas, yang kemungkinan dapat kami likuidasi setelah pembayaran diterima.”

Baca juga: Politik Ekonomi AS dalam Konferensi Bretton Woods

Pada kenyataannya, langkah Tesla berinvestasi di dalam uang virtual ini membuat banyak perusahaan mengikuti jejaknya. Sejauh ini, Tesla dan perusahaan perangkat lunak MicroStrategy adalah dua perusahaan raksasa yang tercatat membeli bitcoin dalam jumlah banyak.

Perusahaan yang bergerak di bidang layanan pembayaran dan transaksi online, Square dan PayPal, juga telah menyediakan platform yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan transaksi jual-beli bitcoin.

Master Card, Bank of New York Mellon dan Twitter juga menunjukkan ketertarikannya terhadap mata uang kripto ini. Dalam sebuah wawancara di CNBC Television (10/02/2021), Direktur Keuangan Twitter, Ned Segal, menyatakan sedang memikirkan pembayaran dengan cryptocurrency.

“Kami telah banyak memikirkan dan mempertimbangkan bagaimana kami dapat membayar gaji karyawan jika mereka meminta untuk dibayar dengan bitcoin, bagaimana kami dapat membayar vendor jika mereka ingin dibayar dengan bitcoin dan apakah kami perlu mempunyai bitcoin di dalam neraca saldo kami,” ungkapnya.

Visa Inc, sebuah perusahaan layanan keuangan multinasional berbasis di California, AS, yang pada awal Januari 2018 diberitakan menolak mentah-mentah transaksi pembayaran, kini harus mulai memikirkan strategi baru untuk mengakomodasi transaksi dengan menggunakan bitcoin.

“Strategi kami adalah bekerja sama dengan dompet (digital) dan media pertukaran yang memungkinkan pengguna bisa membeli mata uang ini (bitcoin) dengan kredensial Visa mereka, atau untuk menguangkannya melalui kredensial Visa guna melakukan pembelian di mana pun dari 70 juta tempat perbelanjaan yang menerima transaksi Visa di seluruh dunia,” ungkap CEO Visa, Alfred Kelly.

Nur Fauziyah Pradita

Alumnus Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menaruh minat pada isu-isu internasional dan pembangunan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *