Ekspedisi ke Mars Tetap Berjalan di Tengah Covid-19

RUANGNEGERI.com – Walaupun pandemi Covid-19 menghambat berbagai aspek kehidupan, namun pengembangan ilmu pengetahuan tetap berjalan.

Tiongkok, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab mengabarkan kelanjutan ekspedisi ke Mars baru-baru ini. Ketiga negara tersebut memang telah memulai penelitian terhadap planet merah tersebut sejak lama.

Pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2020 lalu, Tiongkok telah menempatkan roket mereka ke mesin peluncur. Roket pembawa pesawat ulang-alik yang diberi lama The Long March-5 ini merupakan jenis kendaraan luar angkasa milik Tiongkok yang paling berat.

Melansir dari laman Reuters (24/04/2020), The Long March-5 bukanlah misi ke Mars pertama negeri Tirai Bambu. Sebelumnya sudah ada Dubbed Tianwen-1, misi pertama tahun ini mereka ke Mars yang bertugas mengumpulkan data-data sains.

Sementara, roket pertamanya telah meluncur ke luar angkasa, yakni Dongfanghong 1 pada tahun 1970 silam. Roket milik Tiongkok direncanakan meluncur dari Wenchang Space Launch Center di selatan Hainan. Lembaga Luar Angkasa Tiongkok (CNSA) menjadwalkan awal Agustus sebagai waktu peluncuran.

Program luar angkasa Tiongkok mengalami perkembangan signifikan sejak tahun 2003. Di mana Beijing telah mengeksplorasi bagian gelap bulan dan mengirim astronot ke stasiun luar angkasa. Selain itu juga mulai membangun fasilitas eksplorasi yang lebih permanen.

Setelah kegagalan misi ke Mars bersama Rusia di tahun 2011, roket ini adalah gebrakan baru Tiongkok untuk menyusul dua negara maju lainnya yang telah lebih sukses di bidang antariksa, yaitu milik AS dan Rusia.

Sementara Tiongkok sudah bersiap-siap dengan roket barunya, AS juga tengah melakukan pematangan rencana mengeksplorasi Mars lebih dalam. Namun, Uni Eropa dan Rusia membatalkan rencana mereka karena wabah Covid-19.

Sejauh ini, negeri Paman Sam adalah negara paling sukses dalam penelitian Mars. Lembaga Antariksa AS atau NASA tercatat telah mengirimkan delapan pesawat ulang-alik ke orbit planet merah tersebut.

Dua di antaranya, InSight dan Curiosity mendarat di permukaan Mars. Sementara tiga di antaranya mengorbit mengelilingi planet tersebut.

Untuk misi kali ini, AS mengirimkan kendaraan darat roda enam yang diberi nama Perseverance. Kendaraan ini akan mengumpulkan batuan Mars dan akan kembali ke bumi sepuluh tahun kemudian.

Batu-batuan itu akan dibawa ke bumi dan diteliti untuk mendapatkan lebih banyak kemungkinan manusia Bumi bisa tinggal di Mars. Peseverance dijadwalkan akan diberangkatkan sekitar awal atau pertengahan Agustus 2020 ini.

Uni Emirat Arab juga tak mau ketinggalan menyiapkan pesawat ulang-aliknya yang bernama Amal. Associated Press (17/07/2020) memberitakan bahwa proyek roket H-IIA hasil kerja sama dengan University of Colorado Boulder ini dijadwalkan akan diluncurkan dari Jepang. Amal akan menjadi misi ruang angkasa pertama bagi Uni Emirat Arab (UEA).

Sedianya, pesawat ruang angkasa ini akan diluncurkan pada hari Senin tanggal 20 Juli lalu setelah mengalami penundaan akibat gangguan cuaca. Namun belum ada kabar lanjutan apakah peluncuran kali ini sesuai jadwal atau kembali ditunda.

Menurut Mitsubishi Heavy Industries, perusahaan yang membangun H-IIA, penundaan tersebut tidak mengganggu rencana apapun terkait peluncuran. Karena batas peluncuran sedianya adalah tanggal 13 Agustus.

Amal dijadwalkan akan tiba di Mars pada bulan Februari 2021. Proyek ini merupakan simbol mercusuar kesuksesan dari UAE dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai antariksa. Tahun 2021 juga bertepatan dengan 50 tahun terbentuknya UEA.

Amal membawa misi untuk mempelajari atmosfer dan perubahan iklim di Mars selama dua tahun. Ini adalah misi pertama di Mars yang mempelajari langit dan udara Mars.

Selain ketiga negara yang sedang berlomba dengan peluncuran roket masing-masing, Jepang juga sedang merencanakan misi luar angkasanya sendiri. Negeri Matahari Terbit itu merencanakan peluncuran misi luar angkasanya pada tahun 2024 mendatang.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi menyatakan bahwa Jepang ingin memastikan “kesuksesan peluncuran pesawat luar angkasa Jepang”. Misi bersama UEA adalah “simbol kerja sama erat antara Jepang dan UEA dalam ilmu pengetahuan.”

Pandemi Covid-19 rupanya justeru menjadi alasan tambahan bagi para ilmuwan untuk kian aktif mempelajari Mars. Harapan untuk menjadikan planet merah itu ‘dunia baru’ bagi manusia semakin kuat melihat pandemi yang menyebar cepat di hampir seluruh dunia.

BACA JUGA: SpaceX, Perusahaan Swasta Bersiap Melakukan Eksplorasi ke Mars

Mengapa Harus Mars?

Planet ketiga di susunan tata surya ini menjadi primadona untuk penelitian setelah Bulan. Pendaratan manusia di Bulan membuat impian untuk mengenali Mars semakin besar.

Bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan fiksi juga ikut menggambarkan Mars sebagai tempat para alien bertempat tinggal. Tapi, kenapa harus Mars? Padahal Venus memiliki ukuran yang lebih mendekati Bumi.

Setelah Bumi, si bola merah adalah planet yang dianggap paling cocok untuk ditinggali di tata surya. Dua benda langit lainnya yang pernah menjadi kandidat tempat tinggal adalah Bulan dan Venus.

Bulan cukup dekat dan mudah dijangkau, tapi tidak memiliki atmosfer. Artinya tidak akan ada perlindungan dari serangan benda-benda angkasa. Suhunya juga terlalu ekstrim, dengan perbedaan suhu siang dan malam yang sangat jauh. Satu hari di Bulan juga sangat lama, tidak cocok dengan jam biologis manusia.

Sementara Venus, sering disebut sebagai kembaran Bumi. Namun ternyata keadaannya berbeda seratus delapan puluh derajat. Suhunya sangat panas hingga mencapai 400 derajat celcius.

Tekanannya sangat kuat, setara dengan 900 meter di bawah laut Bumi. Atmosfernya juga dipenuhi oleh hujan asam. Kondisi tersebut tentu saja akan sangat sulit membangun peradaban di tempat ini.

Mars bukanlah planet yang mirip dengan Bumi. Sebab untuk bisa tinggal di sana, manusia masih membutuhkan teknologi tinggi. Tapi paling tidak, si bola merah ini memiliki beberapa keunggulan dibanding Bulan dan Venus.

Pertama, tanah di Mars mengandung air dan suhunya stabil. Tidak terlalu panas namun tidak juga jauh di bawah titik beku. Kedua, sinar matahari tidak terlalu banyak, mengingat Mars adalah planet ketiga. Jauh lebih bersahabat dibanding si planet kedua, Venus.

Ketiga, gravitasinya mendekati gravitasi Bumi. Planet ini juga masih memiliki atmosfer walau tipis. Keempat, satu hari di Mars hampir sama dengan satu hari Bumi; 24 jam 39 menit 35 detik.

Poin nomor empat ini dianggap sebagai kemungkinan yang paling penting dari ‘kemiripan’ antara Bumi dan Mars walau mungkin pencapaian misi ke Mars masih panjang dan rumit.

Menjadikan Mars sebagai tempat tinggal baru masih sangat lama, tapi tidak ada salahnya untuk bersikap optimis. Sebab, selain mempersiapkan planet tersebut sebagai rumah baru bagi manusia, luar angkasa sendiri pada hakikatnya memang menyimpan ilmu pengetahuan yang teramat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *