Dua Stafnya Ditangkap, India Menarik Setengah Staf Kedubesnya di Pakistan

RUANGNEGERI.com – Kisruh antara India dan Pakistan masih berlanjut. Kali ini setelah dua pejabatnya ditangkap di Pakistan dengan tuduhan penggunaan uang palsu dan kecelakaan lalu lintas.

India menarik setengah dari staf kedutaan besarnya di Islamabad. Setelah sebelumnya mendesak Pakistan juga untuk menarik setengah staf kedutaannya di New Delhi.

Hal ini dipicu oleh peristiwa ditangkapnya dua pejabat India di Pakistan, pekan lalu. Pakistan mengatakan Dwimu Brahms dan Selvadhas Paul telah menabrak seorang pejalan kaki dan bermaksud melarikan diri dari tempat kejadian.

Mereka ditangkap kepolisian Pakistan dan digeledah. Di dalam mobilnya, ditemukan sejumlah uang palsu. Keduanya sempat ditahan beberapa hari dan dikembalikan ke India pada hari Senin, 22 Juni 2020.

Laman berita BBC.com (23/06/2020), menyebutkan bahwa India menolak tuduhan tersebut dan mengatakan Pakistan mengada-ada. Bahkan mengatakan kedua stafnya bukan ditangkap melainkan diculik dan ditahan.

Kemudian mengalami siksaan brutal selama di dalam tahanan di Islamabad. Pakistan disebut sedang menghalangi keduanya untuk melakukan tugas diplomatik mereka.

Sebagai timbal baliknya, India juga memerintahkan Pakistan untuk menarik setengah staf kedubesnya. Dalam kurun waktu seminggu sejak kejadian, Pakistan harus mematuhi perintah tersebut.

Saat ini, ada sekitar 90 orang staf kedutaan negara tersebut di New Delhi, dari kesepakatan kedua negara untuk menempatkan 110 orang staf.

Sebelumnya, India juga menuduh pejabat Pakistan terlibat dalam aksi spionase. Tiga minggu lalu, India menangkap dua diplomat Pakistan karena diduga memata-matai pasukan militer India. Keduanya juga dituduh bekerja sama dengan jaringan teroris.

Pakistan dituduh telah melanggar hukum internasional tentang tindakan spionase dan terorisme. Tindakan ini semakin memicu ketegangan antara dua negara tersebut.

Pakistan tentu saja menolak tuduhan tersebut. Baik tuduhan spionase maupun penyiksaan terhadap kedua pejabat India. Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa itu hanyalah “tuduhan tak berdasar yang dibuat oleh India.”

Hubungan bilateral keduanya pun semakin tegang akibat peristiwa ini.

BACA JUGA: Di Tengah Pandemi, India dan Bangladesh Diterpa Angin Topan

India-Pakistan, Konflik Tiada Henti

India dan Pakistan adalah dua negara bertetangga yang telah terlibat cekcok sejak lama. Awalnya, Pakistan adalah bagian dari wilayah India. Kemudian memperoleh kemerdekaannya di tahun 1947.

India didiami oleh mayoritas Hindu, sedangkan Pakistan berpenduduk mayoritas Muslim. Sebagai negara yang membebaskan diri dari India pada tahun 1947, Pakistan kerap terlibat bentrokan bersenjata dengan India di perbatasan.

India juga menuduh Pakistan sebagai penyokong utama pemberontak Kashmir. Wilayah Kashmir sendiri masih merupakan sengketa antara India, Pakistan dan Tiongkok sejak 1947.

Kashmir sendiri adalah wilayah berpenduduk mayoritas muslim di Himalaya. Perebutan wilayah ini telah memicu perang besar antara India dan Pakistan pada tahun 1947, 1965 serta 1999.

Berbagai bentrokan senjata hingga blokade ekonomi dan militer berulang kali dilancarkan kedua negara. India dan Pakistan juga terlibat dalam persaingan persenjataan nuklir.

Hubungan bilateral makin panas saat Pakistan terang-terangan membantu Tiongkok dalam sengketa perbatasan dengan India di wilayah Himalaya. Daerah sekitar Lembah Galwan adalah daerah yang masih diperebutkan.

India berusaha mempertahankan dominasi militer di daerah tersebut. Sementara, Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi yang besar di sini. Pakistan di sisi lain, juga tidak ketinggalan untuk berusaha mempertahankan eksistensinya.

Hubungan kedua negara sempat diharapkan membaik di tahun 2014. Saat itu, Perdana Menteri India Narendra Modi yang baru terpilih mengundang Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif ke acara pelantikan.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena di tahun 2015 konflik kembali terjadi. Hal itu terjadi setelah Pakistan melakukan pertemuan dengan gerakan separatis Kashmir.

Pada bulan Desember 2015, PM Modi melakukan kunjungan ke Lahore. Kunjungan itu adalah kali pertama pemimpin India menginjakkan kaki secara resmi di Pakistan.

Walaupun sejak 2003 keduanya sepakat untuk melakukan gencatan senjata, namun bentrokan kerap terjadi. Pasukan kedua negara berulang kali saling membalas tembakan di daerah perbatasan yang disebut Line of Control.

Bentrokan paling berat terakhir adalah periode 2016-2018. Di mana puluhan anggota bersenjata kedua negara tewas dan membuat ribuan warga sipil di wilayah perbatasan mengungsi.

Secara umum, hubungan multilateral India dengan para tetangganya memang panas. Beberapa tahun terakhir, politik perbatasan India semakin runcing.

Selain dengan Pakistan dan Kashmir, India juga berulang kali terlibat bentrok dan konflik politik dengan Bangladesh dan Nepal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *