Dua Kapal Induk Baru Akan Perkuat Angkatan Laut Rusia

RUANGNEGERI.com – Rusia tidak main-main dalam memperkuat angkatan lautnya. Dua kapal induk baru sedang dalam tahap pengembangan. Siap bergabung dengan pasukan militer negara beruang merah tersebut.

Kapal induk legendaris Rusia, Admiral Kuznetsov saat ini masih dalam tahap perbaikan di Galangan Kapal ke-35. Paling tidak hingga September 2022. Galangan ini merupakan afiliasi dari Galangan Kapal Zvyozdochka. Berlokasi di Murmansk di barat laut Rusia.

Selama ini, militer Rusia memang kurang berimbang antara kemajuan teknologi pada peralatan tempur dan kapal induknya. Hal ini yang mendorong Rusia untuk mengembangkan kapal induk baru.

Selain untuk melengkapi Angkatan Laut menjelang selesainya Admiral Kuznetsov. Juga untuk memperkuat militer negara tersebut dengan alutsista yang lebih canggih.

Kedua kapal induk tersebut dibangun dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya juga dilengkapi dengan persenjataan canggih dan teknologi terkini.

BACA JUGA: Tiongkok Siapkan Pesawat Tempur Baru Menghadapi Perang Masa Depan

Sthorm (Project 23000E)

Supercarrier pertama adalah Sthorm, yang berada di bawah kode Project 23000E. Sthorm akan dilengkapi dengan sistem rudal permukaan-ke-udara S-500 Prometheus. Ini merupakan rudal anti balistik yang dikenal dengan nama 55R6M Triumfator-M.

Sistem ini dikembangkan oleh Almaz-Antey Air Defense Concern. Memiliki jangkauan hingga 600 km, atau sekitar 200 km lebih jauh dari pendahulunya, S-400. Sistem rudalnya dapat membidik hingga 10 target sekaligus, dan dapat menghancurkan target hipersonik maupun balistik.

Pencegah rudalnya dapat beroperasi di ketinggian lebih dari 185 km. Selan itu juga dapat menghancurkan satelit orbit rendah dan senjata luar angkasa baik dioperasikan dari pesawat hipersonik, UAV hipersonik kejut maupun juga platform orbit.

Shtorm sendiri dirancang jauh lebih besar dari kapal induk sebelumnya. Ukurannya mencapai 50% lebih besar dari Admiral Kuznetsov.

Dengan berat 90.000 ton dan panjang 1.128 kaki, Shtorm hampir menyamai besar Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Sementa bentuknya mirip dengan Class milik Angkatan Laut Inggris.

Supercarrier rancangan Pusat Penelitian Negara Bagian Krylov ini membutuhkan waktu 10 tahun untuk pengembangannya. Biaya yang dibutuhkan diperkirakan bakal mencapai hingga lebih dari 5,5 miliar Dollar AS.

Kapal induk ini dapat menampung antara tujuh puluh hingga sembilan puluh pesawat. Termasuk jet serang, pesawat pengintai dan pesawat tempur.

Shtorm juga memiliki persenjataan anti kapal selam dan mengangkut helikopter militer. Dilengkapi sistem senjata jarak dekat, rudal dan torpedo.

BACA JUGA: Amerika Serikat Khawatir dengan Kekuatan Nuklir Tiongkok

Lamantin (Project 114330E)

Kapal induk supercarrier ini juga tidak kalah hebat dari Shtorm. Pertama kali diluncurkan pada Januari 2020 lalu, pengembangan Lamantin membutuhkan waktu hingga dua belas tahun.

Dirancang oleh Biro Desain Nevskoye di St. Petersburg, kapal ini memiliki panjang 350 meter. Bobotnya mencapai 90.000 ton. Bisa mengangkut 60 pesawat dan 2.800 awak kapal. Personel udara bisa mencapai 800 orang.

Lamantin dapat bertahan di laut selama 120 hari tanpa mengisi bahan bakar. Dengan kecepatan hingga 30 knot. Masa pakainya diperkirakan hingga mencapai 50 tahun.

Memiliki dua sistem peluncur rudal vertikal (VLS) 8-sel 3S-14. Dapat digunakan untuk rudal Kalibr, Tsirkon (Zircon) dan Oniks.

Untuk radar rendah, kapal ini memiliki meriam angkatan laut A-190-01 100 mm serta dua meriam berkaliber 57 mm yang mampu menyerang target di permukaan laut.

Kapal ini secara khusus dirancang untuk menghadapi serangan dari udara, bawah laut dan permukaan. Selain itu juga mengantisipasi serangan dari berbagai jenis kendaraan amfibi, pesawat dan pasukan kendaraan tempur udara lainnya.

Dengan unit penggerak bertenaga nuklir, kapal induk ini menjadi alutsista baru yang dianggarkan Rusia tahun 2020 ini. Persenjataan dan peralatan perangnya dikembangkan berdasarkan teknologi terbaru.

Rusia harus menjaga dan memperkuat status sebagai kekuatan angkatan laut terdepan,” ujar Presiden Rusia, Vladimir Putin saat meninjau latihan militer di Sevastopol, kota angkatan laut Krimea.

BACA JUGA: Perang Proksi di Suriah: Rivalitas antara AS dengan Rusia dan Iran

Kondisi Admiral Kuznetsov

Selama bertahun-tahun, Admiral Kuznetsov adalah satu-satunya kapal induk yang dimiliki Rusia. Seiring waktu, kondisinya juga semakin menurun.

Pada tahun 2018, kapal induk tersebut mengalami kecelakaan parah. Terdapat kerusakan di dek karena dermaga apungnya tenggelam ke dasar Teluk Kola, Roslyakovo.

Masalah berlanjut saat terjadi kebakaran pada Desember 2019. Merusak bagian dalam kapal hingga seluas 600 m2. Kapal veteran tersebut kini sedang diperbaiki di Murmansk, barat laut Rusia.

Saat ini memasuki tahap pengecatan. Setelah dicat, kapal induk ini akan menjalani percobaan pelayaran lagi. Paling tidak, Admiral Kuznetsov bisa bergabung lagi pada 1 September 2022.

Admiral Kuznetsov juga akan menerima perbaikan pada sistem pengapian agar lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar. Sebelum kecelakaan tahun 2018, kapal induk ini sudah beberapa kali mengalami kecelakaan dan kerusakan. Terutama sejak ditempatkan di lautan Suriah.

Sebagai kapal yang diselesaikan bertepatan dengan runtuhnya Uni Soviet, Admiral Kuznetsov mengalami kekurangan dana dalam pembangunannya. Masalah mesin, kurangnya persenjataan dan sensor radar yang mulai ketinggalan zaman kini akan segera diperbaiki.

Meski terkategori tua, namun kapal ini juga terbukti tahan banting dan cukup andal. Tiongkok juga bahkan membangun dua supercarrier-nya berdasarkan desain asli kapal ini.

Setelah selesai perbaikan, Admiral Kuznetsov akan siap menjadi kapal induk utama kembali sambil menunggu rampungnya dua kapal induk baru, Lamentin dan Shtorm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *