Didik Anak Secara Optimal dengan Teori Kognitif Piaget

RUANGNEGERI.com – Dalam mendidik anak, setiap orang tua harus memperhatikan apa saja yang diberikan agar perkembangan anak dapat terkontrol dengan baik.

Orang tua juga perlu memahami apa saja yang berhubungan dengan anak demi mendampingi setiap perubahan yang terjadi. Perkembangan anak bukan hanya perubahan fisik, namun bagian kognitif pada anak juga akan berkembang.

Fungsi kognitif pada setiap anak sangat penting karena bagian kognitif ini akan selalu berperan selama manusia hidup. Mulai dari anak hingga dewasa kognitif menjadi bagian dasar yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan.

Buku Cognitive Psychology and Cognitive Neuroscience (2013), menerangkan bahwa kemampuan penalaran kognitif dan kemauan adalah ciri khas dari manusia.

Fungsi penting dari sistem kognitif manusia adalah kemampuan untuk mengekstrak informasi penting dari situasi yang dijelaskan secara tekstual dan verbal. Kemampuan ini memainkan peran penting dalam memahami dan mengingat.

Pengembangan kemampuan kognitif tersebut harus mulai dilatih sejak kecil. Oleh karena itu, orang tua harus mendidik anaknya dengan jelas sesuai dengan masa perkembangan kognitifnya.

BACA JUGA: Kecerdasan Linguistik atau Word Smart untuk Optimalisasi Kecerdasan Anak

Mengenal Teori Kognitif Piaget

Piaget adalah tokoh yang mempunyai peran besar dalam dunia perkembangan anak. Pemikiran yang diutarakannya sangat membantu dunia pendidikan anak karena mempunyai hubungan perkembangan yang tepat.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, menjelaskan tentang teori kognitif struktural Piaget.

Yakni dari pertumbuhan kecerdasan selama masa kanak-kanak. Masa-masa itu telah menjadi pengaruh besar yang membentuk pemahaman tentang tugas-tugas perkembangan balita.

Menurut teori ini, tahap sensorimotor bayi berakhir pada usia sekitar 18 hingga 24 bulan. Tingkat pencapaian pemikiran simbolisasi, suatu peristiwa yang mengantarkan pada tahap pra-operasional panjang yang tidak berujung sampai pencapaian kecerdasan operasional yang konkret.

Pencapaian kecerdasan sensorimotor terbukti dalam perubahan yang meluas pada perilaku balita. Khususnya terkait dengan kemampuan baru untuk melakukan tindakan secara mental.

Masa balita dalam teori Piaget tidak dibedakan sebagai fase terpisah. Balita yang lebih muda di bawah usia 18 bulan diharapkan menjadi bayi sensorimotor. Balita yang lebih tua, usia 18 hingga 36 bulan diharapkan menyerupai anak prasekolah simbolis.

Peran orang tua dalam hal ini adalah menyediakan lingkungan yang banyak merangsang aspek kognitif. Yakni memancing anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan mereka sendiri.

Bornstein (2002) menambahkan bahwa orang tua harap membantu anak secara bertahap membangun kompetensi konseptual dan representasi.

Keterampilan konseptual tersebut diperoleh melalui tahapan tingkat pemahaman di atas tingkatan yang sebelumnya. Orang tua dan anak dipandang sebagai mitra aktif dalam proses belajar melalui eksplorasi sensorik dan motorik.

Stephanie Petrie & Sue Owen (2005) dalam bukunya Authentic Relationships in Group Care for Infants and Toddlers, mengatakan bahwa Piaget memandang anak-anak sebagai partisipan aktif sejak lahir dalam proses untuk memperoleh pengetahuan.

Anak-anak akan melewati tahapan perkembangan kognitif yang masing-masing dicirikan oleh cara berpikir tertentu. Aktivitas fisik seorang anak sejak awal akan mengarah pada aktivitas kognitif dan pengembangan keterampilan dalam menirukan.

Jadi, dalam perkembangan kognitifnya, setiap anak membutuhkan sesuatu yang dapat merangsangnya untuk terus berkembang.

BACA JUGA: Ajak Si Kecil Mempelajari Konsep Diri dengan Teori Self Smart Garner!

Tahap Perkembangan Kognitif Anak

Setiap hari, anak akan terus berkembang sesuai dengan usianya. Tugas penting orang tua dalam mendampingi perkembangan ini adalah memberikan apa yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Mary Eming Young & Linda M. Richardson (2007) dalam bukunya Early Child Development From Measurement to Action, mengatakan bahwa anak usia 5 tahun memiliki kemampuan kognitif dan bahasa yang mirip dengan anak berusia 3 tahun.

Menurut Piaget,tahapan perkembangan kognitif anak usia dini dibedakan menjadi:

  • Tahap sensorimotor (0-24 bulan). Pada perkembangan kognitif awal ini, anak tidak dapat mempertimbangkan kebutuhan, keinginan atau kepentingan orang lain.
  • Tahap pra-operasional (2-7 tahun). Di masa ini, anak mulai dapat menerima rangsangan. Mereka hanya mampu mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang diri mereka sendiri.
  • Tahap operasional konkret (7-11 tahun). Pada tahapan ini, anak mampu mengurutkan dan mengklasifikasi objek maupun situasi tertentu. Kemampuannya dalam mengingat dan berpikir secara logis akan meningkat dengan tajam. Selain itu, anak juga sudah mulai dapat memahami konsep sebab-akibat secara rasional dan sistematis.
  • Tahap operasional formal (mulai umur 11 tahun). Di tahapan ini, anak akan berpikir secara abstrak. Anak juga sudah mulai menguasai penalaran sehingga dapat menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.

Dengan adanya tahapan tersebut, maka setiap orang tua mengerti apa yang diperlukan anak. Selain itu juga bisa memahami porsi dari usia perkembangan anak. Sehingga, orang tua akan lebih bisa memaksimalkan perannya secara tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *