Denuklirisasi Korea Utara Tetap Menjadi Fokus AS dan Korea Selatan

RUANGNEGERI.com – Korea Utara tidak kunjung merealisasikan janjinya untuk melakukan proses denuklirisasi dan pelucutan senjata. Hal ini menjadi fokus AS dan Korsel.

Yakni dengan cara tetap melakukan diplomasi dan mendesak Korea Utara untuk melaksanakan proses tersebut sesuai komitmen yang telah disepakati bersama.

Pembicaraan mengenai denuklirisasi telah mencapai kesepakatan pada KTT AS-Korea Utara di Singapura pada Juni 2018 lalu. Saat itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyepakati beberapa hal.

Salah satunya bahwa AS akan menghentikan latihan militer di Semenanjung Korea. Sementara Korea Utara akan menghentikan penggunaan senjata nuklirnya.

Kim Jong Un juga menyatakan akan mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea demi perdamaian antar dua Korea. Namun tidak merinci langkah apa yang akan dilakukannya untuk mewujudkan hal itu.

Untuk pernyataan tersebut, pemimpin Korut meminta AS menghentikan latihan militernya di Korea Selatan. Serta menarik keseluruhan pasukannya yang berjumlah 28.500 orang dari wilayah tersebut.

Pembicaraan ini juga dilanjutkan dengan pembicaraan antar-Korea pada September 2018. Kim Jong Un mengulangi janji yang sama pada pertemuan tersebut.

Bersamaan dengan peringatan 70 tahun Perang Korea, Kim Jong Un mengeluarkan pernyataan terbaru. Pemimpin Korea Utara tersebut menyatakan akan menangguhkan tindakan denuklirisasi.

Hal tersebut memancing pernyataan bersama dari AS dan Korea Selatan. Menteri Pertahanan Korsel Jeong Kyeong-doo dan Menhan AS Mark T. Esper sepakat untuk memperingatkan Korut soal denuklirisasi ini.

Keduanya meminta Korea Utara untuk menepati janjinya sesuai pertemuan di Singapura. Agar negara tersebut “tetap berkomitmen untuk mempertahankan perdamaian.”

Kyeong-doo dan Esper juga akan tetap melakukan diplomasi ketat pada Korut agar segera melucuti senjata nuklirnya. Hal ini agar ketegangan di perbatasan kedua negara bisa mereda.

Kim Jong Un memberi syarat pada AS agar mencabut sanksi internasional yang dijatuhkan pada Korut. Dengan begitu mereka akan melaksanakan denuklirisasi.

Beberapa minggu belakangan provokasi dari pihak utara meningkat. Semua jalur komunikasi dengan Korsel terputus dan kantor penghubung milik Korsel di perbatasan diledakkan oleh Korea Utara. Flyer yang berisikan propaganda juga disebarkan ke wilayah Korea Selatan.

Namun sejak Rabu lalu, tindakan tersebut dihentikan karena “mempertimbangkan situasi yang ada.” Korea Utara masih membutuhkan Korea Selatan untuk pembicaraan lanjutan dengan AS.

Pentagon sendiri tetap fokus pada pengawasan proses denuklirisasi Korut. “Korea Utara adalah target yang sulit,” ujar David Helvey, Asisten Menteri Pertahanan untuk urusan keamanan Indo-Pasifik.

Ia mengakui bahwa di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, negara tersebut jauh lebih mudah diprediksi.

Pentagon juga yakin bahwa usaha diplomatik damai masih sangat berpengaruh pada situasi ini. Namun mempertahankan kerja sama dengan Korsel serta “preferensi yang kuat” akan sangat berpengaruh pada usaha diplomatik tersebut.

Helvey juga menyarankan untuk menempatkan kembali asset strategis AS di Semenanjung Korea. Sehubungan dengan tindakan bersenjata Korea Utara.

Aset strategis tersebut maksudnya perlengkapan perang seperti pesawat pembom B-52. Yaitu pesawat tempur siluman, kapal selam bertenaga nuklir dan kapal induk.

Pernyataan Pentagon tersebut merupakan isyarat bahwa AS dan Korsel harus menyiapkan pasukan militer yang lebih kuat. Kedua negara juga harus menunjukkan dominasi pada Korea Utara, membalas tindakan militer Korut

Pihaknya juga mengharapkan Korsel dan Jepang bekerja sama lebih erat dengan Amerika untuk mengawal proses denuklirisasi Korea Utara.

BACA JUGA: Pertikaian Tiongkok-India Pertaruhkan Ekonomi Kedua Negara

Korut dan Korsel, Saudara yang Tak Kunjung Akur

Sejak pecahnya Perang Korea antar dua negara ini, ketegangan diplomatik dan militer nyaris terus terjadi sepanjang waktu. Hubungan keduanya juga naik turun dan menyisakan kekhawatiran akan pecahnya perang kembali.

Di awal abad ke 20, Korea masih berada di bawah kekuasaan Jepang. Lantas pada tahun 1945, AS dan Uni Sovyet selaku dua negara besar yang sedang berseteru membagi dua wilayah Korea.

Perang Korea dimulai pada tahun 1950 dengan negara komunis berada di sisi Utara dan AS mendukung sisi selatan. Perang ini adalah yang paling tidak diperhatikan oleh dunia, tidak seperti Perang Vietnam atau Perang Dunia II.

Ironisnya, latar belakang paling krusial dari Perang Korea bukanlah perebutan kekuasaan antar dua wilayah tersebut. Melainkan pertunjukan dominasi antara negara raksasa liberal dan komunis.

Lebih jauh, Perang Korea menjadi poros untuk melawan komunis itu sendiri. Di mana korban terbanyak justru berasal dari rakyat sipil Korea itu sendiri. Proses perundingan perdamaian sangat alot dan memakan waktu dua setengah tahun.

BACA JUGA: Perang Proksi di Suriah: Rivalitas antara AS dengan Rusia dan Iran

Pada tahun 1953 perang secara resmi selesai seiring dengan diperolehnya kesepakatan. Di akhir perundingan, batas kedua Korea yang disebut sebagai “38th parallel” atau sebanyak 38 derajat bergeser ke utara.

Sehingga wilayah Korea Selatan bertambah 1.500 mil persegi dan tercipta zona militer seluas 2 mil. Zona ini masih bertahan hingga sekarang.

Hingga saat ini kondisi keamanan di Semenanjung Korea masih tetap panas. Perang Korea menyisakan perseteruan yang tidak kunjung berhenti. Perang ini juga termasuk perang paling pendek namun paling mematikan.

Sekitar lima juta orang tewas, di mana setengahnya adalah rakyat sipil. Jumlah itu berkisar 10% dari populasi rakyat Korea sebelum perang. Hampir 40.000 tentara Amerika yang diterjunkan tewas, serta 100.000 orang lainnya luka-luka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *