Myanmar Memanas, 2 Demonstran Penolak Kudeta Militer Ditembak Mati

RUANGNEGERI.com – Pergolakan politik di Myanmar yang berujung pada aksi kudeta militer terhadap pemerintah sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi tanggal 1 Februari lalu semakin memanas. Kecaman dunia internasional nampak gagal meredakan konflik di negeri berjuluk Seribu Pagoda tersebut.

Melansir dari Associated Press (20/02/2021), demontrasi menentang aksi kudeta militer digelar besar-besaran di Mandalay, kota terbesar nomor dua di Myanmar di hari Sabtu, 20 Februari 2021 pagi waktu setempat.

Ratusan polisi disiagakan guna meningkatkan tekanan terhadap para pengunjuk rasa anti-kudeta. Penggunaan meriam air, gas air mata, ketapel dan peluru karet telah disiagakan guna menghadang pengunjuk rasa dan aksi mogok pekerja dermaga di Mandalay.

Dua pengunjuk rasa ditembak mati oleh polisi anti huru-hara. Beberapa peserta aksi lainnya mengalami luka serius dan diangkut dengan ambulans.

Salah satu korban ditembak di kepala dan langsung meninggal dan seorang lainnya terkena tembakan di dada. Ia kemudian dilaporkan meninggal saat perjalanan menuju ke rumah sakit setempat.

Demonstrasi tersebut merupakan rentetan dari luapan sikap masyarakat yang menolak kudeta kekuasaan oleh pihak militer terhadap pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi yang dikudeta pada awal Februari.

Baca juga: Kembalinya Macron dan Le Pen di Bursa Calon Presiden Prancis 2022

Tuduhan Kecurangan Pemilu Myanmar

Kudeta militer ini tercatat menjadi yang paling parah pasca pemilihan umum di Myanmar sejak 2015. Setelah dikudeta, pemimpin sipil yang merupakan pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991 ditahan oleh pihak militer.

Indikasi kecurangan yang dilakukan oleh National League of Democracy (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi khususnya pada pemilu bulan November 2020 diyakini sebagai titik pangkal kudeta militer.

Saat itu, Partai NLD sukses memenangkan pemilihan presiden dan menguasai mayoritas kursi parlemen dengan mengalahkan partai oposisi, Union Solidarity and Development Party (USDP). USDP yang didukung oleh militer menyatakan menolak hasil pemilu karena dinilai tidak demokratis.

Baca juga: Uji Coba Rudal Baru Korea Utara, Apakah Mengancam AS dan Sekutunya?

Pihak oposisi menilai bahwa gelaran pemilu banyak dipenuhi dengan kecurangan karena jumlah suara membengkak. Gaya kepemimpinan Aung San Suu Kyi juga dinilai tidak dapat merangkul semua golongan.

“Terdapat banyak peristiwa kontroversial dalam proses pemungutan suara, baik sejalan dengan hukum maupun tidak, dan lebih banyak fakta (kecurangan) yang akan keluar,” ungkap pimpinan partai oposisi USDP, Than Htay.

Namun kudeta yang didalangi oleh Jendral Min Aung Hlaing juga banyak dinilai dunia internasional telah menjadikan Myanmar kembali pada masa-masa kegelapan.

Hal itu nampak dari adanya pemblokiran jalan, penangkapan aktivis dan pemuka agama, serta sulitnya mengakses alat komunikasi dan internet pada saat aksi kudeta.

Baca juga: AS Kembali Masuk ke Paris Agreement, Bagaimana Pendanaannya?

Reaksi Dunia Internasional Atas Kudeta Militer Myanmar

Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan atas aksi pemimpin militer Myanmar. PBB telah membuat pertemuan khusus untuk membahas kudeta Myanmar di tengah berlangsungnya krisis politik.

“Tindakan hukuman terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kudeta dan memberikan dukungan kemanusiaan kepada Myanmar,” ujar Wakil Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Nada al-Nashif.

Pemerintah Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan negara-negara Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin militer baru. Para pemimpin Barat tersebut juga menyerukan untuk segera memulihkan pemerintahan sah yang sebelumnya depegang oleh Aung San Suu Kyi.

Kudeta militer disebutnya merupakan kemunduran besar bagi transisi Myanmar menuju demokrasi setelah 50 tahun pemerintahan militer. Suu Kyi berkuasa setelah partainya, NLD memenangkan pemilu pada tahun 2015.

Baca juga: 4 Kapal Perang Baru Rusia Sedang Disiapkan untuk Mengantisipasi NATO

Hubungan dengan Tiongkok Pasca Kudeta Myanmar

Dalam ruang lingkup regional, kudeta militer Myanmar berpengaruh terhadap negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya dari sisi ekonomi. Tiongkok, Jepang dan India lebih mendorong penyelesaian dengan jalur negosiasi dan demokrasi.

Tiongkok khususnya, dinilai akan tetap berpegang teguh terhadap kebijakan non-intervensi dalam hal yang terkait dengan urusan negara lain.

Yun Sun, Direktur Program Asia Timur di Stimson Center Washington, D.C., sebuah organisasi nirlaba yang fokus terhadap kajian perdamaian, menyebut jika Tiongkok tidak berkepentingan atas kudeta militer di Myanmar.

“Kudeta sama sekali bukan kepentingan Beijing. Beijing bekerja sangat baik dengan NLD,” ungkap Yun Sun sebagaimana melansir dari The Diplomat (03/02/2021).

Baca juga: Reformasi Agraria di India Menuai Protes Keras dari Rakyatnya

“Tiongkok membutuhkan Myanmar sebagai negara yang relatif normal dan stabil. Jika Myanmar sekali lagi berubah menjadi komunitas internasional dan mengalami kekacauan, lalu apa hasilnya dari proyek konektivitas internasional yang diinvestasikan Tiongkok?,” tambahnya.

Pemerintah Tiongkok sendiri berharap agar semua pihak di Myanmar mampu menangani perbedaan secara baik di bawah kerangka hukum dan konstitusi negara. Hal itu supaya stabilitas politik dan sosial masyarakat tetap terjaga.

“Kami telah mencatat apa yang terjadi di Myanmar, dan kami mempelajari lebih banyak informasi tentang situasinya,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin.

Hubungan dua negara tetangga tersebut banyak didasari aspek ekonomi. Keduanya telah menjalin kerja sama yang erat selama lebih dari tiga dekade. Myanmar kaya akan sumber daya alam berupa batu giok, kayu dan gas alam.

Dalam kerja sama Koridor Ekonomi, Myanmar telah menawarkan akses laut pada bagian barat daya agar barang ekspor-impor mudah masuk ke Beijing. Jalur tersebut menghubungkan provinsi Yunnan menuju Teluk Benggala.

Rosalina Pertiwi Gultom

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *