Dalam Sehari, 2 Aksi Teror Terjadi di Afghanistan

RUANGNEGERI.com – Ledakan dan tembakan kembali terjadi di Afghanistan pada Selasa (12/05). Dua serangan teror terjadi dalam hari yang bersamaan dengan lokasi yang berbeda.

Serangan pertama dimulai sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, ketika tiga pria bersenjata yang menyamar sebagai polisi memasuki kompleks rumah sakit Dasht-e-Barchi di ibu Kota Afghanistan, Kabul.

Serangan ini menewaskan 16 orang termasuk dua bayi yang baru lahir dari klinik bersalin yang dijalankan oleh organisasi kemanusiaan internasional, Médecins Sans Frontières (MSF). Beberapa dari mereka yang bekerja di sana adalah orang asing.

Dikutip dari BCC (12/5), seorang saksi mata di dekat tempat kejadian menggambarkan jika mendengar dua ledakan kemudian disusul dengan tembakan. Seorang dokter yang melarikan diri selama serangan itu mengatakan kepada BBC bahwa sekitar 140 orang berada di rumah sakit ketika orang-orang bersenjata itu menyerang.

Ramazan Ali, seorang penjual yang melihat serangan dimulai, mengatakan kepada kantor berita Reuters: “Para penyerang menembaki siapa pun di rumah sakit ini tanpa alasan.”

Mengutip dari laman berita CNN, juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Marwa Amini, mengatakan bila ketiga penyerang tersebut akhirnya dibunuh oleh polisi, mengakhiri pertempuran yang berlangsung berjam-jam itu.

Pasukan khusus Afghanistan telah menyelamatkan 100 wanita dan anak-anak, termasuk tiga orang asing. Pasukan khusus juga memblokir daerah di sekitar rumah sakit, yang terletak di sisi barat Kabul di distrik 13 polisi, setelah tiba di tempat kejadian.

Serangan kedua terjadi ledakan bunuh diri di provinsi Nangahar pada saat kepolisian setempat sedang melakukan upacara pemakaman perwira polisi, Sheikh Akram di bagian timur Afghanistan.

Sejumlah pejabat pemerintah hadir dalam serangan tersebut dan ikut menjadi korban. Data terakhir dari media provinsi, 24 orang tewas dan 68 orang luka-luka dalam serangan di Nangahar.

Reaksi Pemerintah AS dan Afghanistan

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani telah memerintahkan dimulainya kembali operasi ofensif terhadap Taliban dan kelompok lainnya. Dia menuduh para militan mengabaikan seruan berulang-ulang untuk pengurangan kekerasan.

Dilansir dari CNN (12/5), Ghani mengutuk dua serangan tersebut, “Saya mengutuk keras serangan baru-baru ini terhadap sebuah rumah sakit di provinsi Kabul dan Nangarhar yang menewaskan sejumlah orang tak bersalah termasuk wanita dan anak-anak,” kata Ghani.

Taliban langsung membantah atas serangan terhadap rumah sakit dan serangan kedua pada prosesi pemakaman yang berlangsung di provinsi Nangarhar. Mereka menyatakan tidak terlibat karena sedang terikat dalam status mematuhi kesepakatan damai dengan Amerika yang ditekan beberapa waktu lalu.

Namun, menurut PBB dalam minggu-minggu setelah penandatanganan perjanjian, Taliban justru semakin meningkatkan serangannya terhadap tentara dan polisi Afghanistan.

Jumlah kematian warga sipil yang dikaitkan dengan kelompok itu juga terus meningkat.

Sebagai bagian dari kesepakatan yang dinegosiasikan antara pemerintahan Trump dan Taliban. Pemerintah Afghanistan, yang meskipun bukan pihak dalam perjanjian, setuju untuk menunda operasi ofensif terhadap Taliban.

Selain itu juga menyatakan kesediaan untuk mengambil bagian dalam gencatan senjata dengan kelompok pemberontak.

“Taliban telah menolak seruan kami untuk gencatan senjata berulang kali, seruan untuk gencatan senjata tidak berarti kelemahan. Saya sekali lagi meminta mereka untuk memeluk perdamaian, yang bukan hanya tuntutan pemerintah tetapi bangsa dan komunitas internasional.” Ujar Ghani, Selasa (12/05)

Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo mengeluarkan pernyataan pada Selasa malam yang mengecam kedua serangan itu dan menyebut mereka mengerikan dan tidak berbelas kasihan.

“Kami mencatat bahwa Taliban telah membantah bertanggung jawab dan mengutuk kedua serangan itu sebagai tindakan keji. Taliban dan pemerintah Afghanistan harus bekerja sama untuk membawa para pelaku ke pengadilan,” kata Pompeo.

Pompeo menambahkan, “selama tidak ada pengurangan berkelanjutan dalam kekerasan dan kemajuan yang tidak memadai menuju penyelesaian politik yang dinegosiasikan, Afghanistan akan tetap rentan terhadap terorisme” ujarnya.

Komentar lain mengenai serangan teror ini juga datang dari penasihat keamanan nasional Afghanistan, Hamdullah Mohib. Pria lulusan Universitas Brunel London ini menyarankan bahwa tidak ada gunanya membicarakan perdamaian ketika Taliban tidak berniat untuk mengejar perdamaian.

“Serangan dua bulan terakhir menunjukkan kepada kami dan dunia bahwa Taliban & sponsor mereka tidak bermaksud untuk mengejar perdamaian,” tulisnya di twitter.

“Jika Taliban tidak dapat mengendalikan kekerasan, atau sponsor mereka sekarang telah mensubkontrakkan teror mereka ke entitas lain, yang merupakan salah satu perhatian utama kami sejak awal, maka mereka tampaknya tidak ada gunanya melanjutkan keterlibatan dengan Taliban dalam pembicaraan damai” tambahnya.

Meski begitu, penyelidikan masih terus berlangsung oleh pemerintahan Afghanistan, demi mengungkap dalang dari kedua serangan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *