Covid-19, Tiongkok dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

RUANGNEGERI.com – Wabah pandemi memang sangat terasa sekali memukul perekonomian dunia. Baik negara maju maupun berkembang, semua merasakan penurunan ekonomi yang signifikan.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan bahwa ekonomi dunia pada tahun 2020 ini akan -4,9%. Angka itu lebih rendah 1,9% dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Kondisi ini juga merupakan titik terendah sejak masa Perang Dingin tahun 1990-an.

Covid-19 juga berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Di dalam negeri, penyebaran wabah ini telah mengakibatkan terhambatnya berbagai bidang usaha baik itu kecil atau menengah.

Hasil pengkajian Pusat Kajian Visi Teliti Saksama berjudul Limbung Roda Terpasak Corona: Penelitian dampak wabah Covid-19 bagi perekonomian Indonesia, secara komprehensif mengukur bagaimana dampak virus ini di Indonesia.

Banyak sekali program infrastruktur yang terhambat kinerjanya. Selain itu, Covid-19 ini juga telah mengganggu sektor perdagangan serta berbagai aspek ekonomi penting lainnya. 

Dari hasil uji simulasi, para peneliti dari pusat kajian dan publikasi yang membahas berbagai isu terkait ekonomi, politik, sosial, hukum serta lingkungan hidup tersebut memperkirakan bahwa pandemi di Indonesia akan mulai mereda pada bulan Juni 2020.

Melalui peran aktif seluruh warga negara, penurunan jumlah kasus Covid-19 dapat lebih cepat dari perkiraan model tersebut. Namun, hal ini tetap dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah dalam upaya menekan penyebarannya. 

Perputaran barang dan jasa yang biasanya meningkat di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, namun di tahun pandemi ini, meski tetap ada permintaan, permintaanya tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Hal itu terkait dengan hambatan di berbagai sektor, terutama berhubungan dengan transportasi serta kegiatan ekspor-impor yang mandek.

BACA JUGA: Industri Utama AS Terancam Bangkrut, Ini Kebijakan dari Pemerintahan Trump

Imbas Melemahnya Tiongkok terhadap Perekonomian Indonesia

Lalu, jika wabah Indonesia diperkirakan baru bisa mereda pada Juni ini, bagaimana dengan pemulihan ekonominya? 

Peneliti Senior Visi, Saksama Widyar Rahman, menyebutkan bahwa dari hasil penelitian dan simulasi disimpulkan bahwa proses pemulihan ekonomi di Indonesia membutuhkan waktu yang panjang.

Diperkirakan setidaknya sampai akhir tahun 2021. Hal itu berarti bahwa keadaan yang benar-benar ‘new normal‘ diprediksi baru akan terjadi pada tahun 2022. Atau setidaknya mendekati momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2022 mendatang. 

Membaiknya prekonomian Indonesia juga tidak terlepas dari Tiongkok. Sebagai episentrum awal dari penyebaran Covid-19, hubungan kerja sama Indonesia dan Tiongkok juga terpengaruh. 

Dalam 5 tahun terakhir, Tiongkok selalu menempati tiga besar mitra dagang utama Indonesia. Malahan, sejak 2014, negeri Tirai Bambu merupakan negara asal impor dengan nilai terbesar bagi Indonesia.

Jika datanya dilihat berdasarkan kategori barang yang dikonsumsi, bisa terlihat kalau Indonesia sangat bergantung dengan produk dari Tiongkok.

Kategori barang yang diimpor oleh negara ini setidaknya sebanyak 37% barang konsumsi, 25% bahan baku penolong serta 44% barang modal diimpor dari Tiongkok.

Dalam bidang investasi, selama 5 tahun, yaitu tahun 2016 – 2019, Indonesia menerima aliran investasi dari Tiongkok sebesar AS $13,2 miliar. Angka ini merupakan ketiga terbesar bagi Indonesia.

Tidak hanya investasi, Tiongkok juga memiliki peran besar dalam sektor pariwisata di Indonesia. Turis asal Tiongkok meningkat sebanyak 309%, yaitu dari 511.000 pada pada 2010 menjadi 2,14 juta pada 2017.

Meski geliat ekonomi Tiongkok nampak mulai bangkit, namun, hal ini banyak diyakini belum menandakan stabilisasi dalam kegiatan ekonomi.

Sebab, di tengah biaya produksi yang semakin tinggi karena terganggunya jalur distribusi, permintaan pasar domestiknya juga belum sembuh sepenuhnya.

Apalagi, ada penurunan permintaan impor yang besar dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan juga Indonesia. IMF memperkirakan bahwa beberapa negara, termasuk Tiongkok dan Indonesia akan mengalami pemulihan ekonomi secara perlahan. 

Tiongkok disebutkan akan naik sebesar 1,2%, sedangkan Indonesia hanya 0,5%. Kondisi lebih parah justru dialami oleh negara-negara maju seperti AS dan Inggris. Kedua negara tersebut masing-masing diprediksi IMF justru bakal menyentuh angka -5,9% dan -6,5%.

Berkaitan dengan proses pemulihan yang dialami oleh Tiongkok, dengan asumsi bahwa negara tersebut akan berproduksi kembali kembali di bulan Juni, artinya kegiatan ekspor-impor di Indonesia baru bisa dilakukan di bulan Juli.

Bisa disimpulkan bahwa dampak yang dihadapi Indonesia akan lebih lama lagi. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan sudah mewanti-wanti akan ancaman resesi perekonomian Indonesia.

Peneliti Visi lainnya, Sita Wardhani menyebutkan bahwa kelesuan ekonomi Tiongkok tidak hanya menimpa sektor industri, tetapi juga melanda industri manufaktur lain.

Dampak dari potensi kelangkaan bahan baku ini akan membawa inflasi yang lebih tinggi. Sebab, industri manufaktur tidak mampu memenuhi permintaan dan memicu terjadinya shortage atau kekurangan.

Sejauh ini, kontribusi terbesar dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia menurutnya adalah konsumsi rumah tangga. Namun jika angka inflasinya tinggi, maka akan mengakibatkan konsumsi rumah tangga juga turun.

Hal itu karena daya beli masyarakat juga menurun. Imbasnya, kondisi perekonomian terancam akan semakin memburuk.

Secara keseluruhan, efek dari pandemi memang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia pada Triwulan I (Januari hingga Maret) meningkat sebesar 2,97%. 

Jika dibandingkan dengan Triwulan I setahun sebelumnya, yakni 2019, angka tersebut menurun drastis. Tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,17%.  

Belum diketahui secara pasti data hingga Kuartal II, yakni hingga bulan Agustus tahun 2020 ini. Datanya masih bervariasi. BPS, sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia (22/6) bahkan menyebutnya berpotensi minus (4,8 sampai 7%).

Sebagai perbandingan yang telah disebutkan di atas, IMF memprediksi perekonomian Indonesia masih bisa positif, yakni 0,5% di tahun 2020 ini.

Hal itu cukup beralasan. Sebab, pandemi Covid-19 memang telah mengakibatkan lumpuhnya perekonomian di banyak sektor. Banyaknya masyarakat yang terkena PHK atau dirumahkan, mengakibatkan penghasilan menurun. Bahkan tidak ada penghasilan sama sekali.

Dampaknya jelas akan menurunkan daya beli masyarakat.

BACA JUGA: Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Alternatif Kebijakan yang Diperlukan

Sebagai bagian dari solusi bagi pemerintah agar terhindar dari kemungkinan buruk akibat pandemi yang makin meluas, unsur kesehatan harus lebih dahulu diprioritaskan dalam kebijakan ‘new normal ini.

Setelah itu, mulai membuka kegiatan ekonominya secara bertahap. Apabila kondisi sudah membaik dan jumlah korban Covid-19 semakin berkurang, maka pemulihan ekonomi mulai diprioritaskan.

Misalnya saja dengan membantu perusahaan yang terkena dampak sambil menghindari moral hazard dan keringanan perpajakan. Kemudian juga melakukan post audit kepada para nasabah bank.

Hal ini dapat menjadi acuan bagi bank untuk kemungkinan melakukan restrukturisasi kredit bagi debitur yang masih memiliki prospek ke depannya.

Selain itu, pemerintah juga bisa lebih sistematis dalam membekali para pekerja yang terkena imbas PHK khususnya. Yakni dengan cara memberikan keterampilan khusus agar mereka bisa terus bertahan.

Cara yang terakhir adalah dengan mulai menciptakan investasi baru dari dalam negeri. Pemberian kemudahan dan stimulus kepada industri skala kecil dan menengah sangat penting dilakukan.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa momentum Covid-19 ini juga menjadi ‘peluang’ munculnya geliat ekonomi baru yang banyak dirintis oleh anak bangsa.

Apabila mereka diberikan stimulus dan kemudahan, maka hal itu akan semakin mempercepat pemulihan ekonomi secara nasional. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *