Ingin Selalu Bergerak, Inilah Ciri Gaya Belajar Kinestetik Si Kecil

RUANGNEGERI.com – Kecerdasan tak terbatas pada skor intelligence quotient (IQ) semata. Seseorang dinilai cerdas atau tidak berdasarkan sesuatu yang dapat dikerjakannya. Penilaian kecerdasan ini berdasarkan teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligence.

Hal ini menandakan bahwa setiap orang memiliki beragam jenis kecerdasan, seperti intrapersonal, interpersonal, kinestetis, linguistik, visual spasial, logika matematika, naturalis, dan musikal.

Menurut Muhyi Faruq (2008) melalui buku berjudul 100 Permainan Kecerdasan Kinestetik, disebutkan bahwa terdapat delapan macam kecerdasan majemuk sebenarnya ada di dalam diri setiap orang dan akan saling membantu dalam menghadapi setiap persoalan hidupnya.

Melalui latihan pengembangan kecerdasan tertentu sehingga beberapa jenis kecerdasan tertentu menjadi dominan. Kecerdasan yang dominan itu yang mengantar seseorang menjadi sukses dalam hidupnya.

Salah satu faktor penentu kecerdasan dominan pada seseorang adalah pola asuh dari orang tua. Umumnya, orang tua yang peka terhadap tumbuh kembang anak bakal lebih memahami treatment terbaik.

Pola asuh di masa golden age (0 – 6 tahun) akan berpengaruh pada perkembangan anak saat dewasa. Istilah golden age sendiri mengacu pada efektivitas penerimaan maupun pengolahan informasi pada anak.

Pada usia tersebut, anak lebih cepat mempelajari satu hal baru. Resa Respati, dkk (2018) dalam jurnal berjudul Gerak dan Lagu sebagai Model Stimulasi Pengembangan Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini, menekankan pertumbuhan di usia emas jauh lebih pesat dibandingkan tahapan usia lainnya.

Perkembangan anak terlihat menonjol dalam banyak aspek, termasuk peningkatan kecerdasan. Guna mengoptimalkan tumbuh kembang anak di usia emas, orang tua perlu mengenali kecerdasan dominan pada anak. Salah satu kecerdasan yang butuh dipertimbangkan menurutnya adalah kinestetis atau gerak tubuh.

BACA JUGA: Moms, Ketahui 7 Tanda Anak Memiliki Kecerdasan Visual Spasial Tinggi

Pengertian Kecerdasan Kinestetis

Secara harfiah, kecerdasan kinestetis berkaitan erat dengan kemampuan anak menggunakan anggota gerak tubuh dalam mengekspresikan ide maupun perasaannya. Mereka kerap menggunakan tangan untuk mengubah atau menciptakan suatu hal.

Gaya belajar kinestetis tentu berbeda dengan tipe kecerdasan lainnya. Anak dengan kecerdasan ini cenderung sulit duduk diam dalam belajar. Umumnya, anak akan terlihat aktif melakukan berbagai hal.

Ketika orang tua meminta mereka untuk diam, anak justru mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan belajar. Oleh sebab itu, gaya belajar kinestetis pun harus disesuaikan dengan kondisi anak.

Suhaimi menyebutkan anak dengan kecerdasan tersebut memiliki kemampuan menguasai aktivitas yang berhubungan dengan gerak tubuh. Mereka tak akan kesulitan saat menghafal atau mempelajari gerakan tari, dansa atau olah raga baru. Tak hanya aktivitas yang mengasah kemampuan motorik kasar saja, namun juga motorik halus.

Pada dasarnya, semua orang memiliki kemampuan gerak tubuh, tetapi kadarnya berbeda. Optimalisasi kecerdasannya sendiri tergantung pada perlakuan orang tua.

Bagaimana orang tua memilihkan aktivitas yang menunjang kemampuan kinestetis anak? Apakah gaya belajar model ini dirasa mendukung tumbuh kembang mereka?

Faruq (2008) kembali menekankan bahwa kecerdasan kinestetis menekankan pada kecepatan pengolahan informasi yang diwujudkan dalam bentuk gerakan. Pengolahan informasi dapat berlangsung sangat cepat, bahkan tak lebih dari hitungan menit.

Sebagai contoh, pelompat indah yang harus mengatur gerakan saat berada di atas dalam waktu kurang dari 1 menit saja.

Mayoritas anak usia dini mempunyai kecerdasan kinestetis yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari tingginya antusiasme mereka saat melakukan aktivitas fisik. Jika dibandingkan dengan kanak-kanak atau remaja, balita jauh lebih aktif dan atraktif atau menarik perhatian.

Alasan inilah yang kemudian banyak mendorong para ahli merumuskan gaya belajar kinestetis yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di masa mendatang.

BACA JUGA: Anak Cerdas Berbakat: Bagaimana Solusi Pendidikan dari Keluarga?

Ciri Gaya Belajar Kinestetis

Buat orang tua yang ingin memilih pendidikan berdasarkan kecerdasan anak, mari kenali ciri umum dari gaya belajar si anak. Setidaknya, ada beberapa ciri yang diperlihatkan anak selama melakukan aktivitas maupun belajar, seperti:

1. Selalu Bergerak

Supaya nyaman belajar, anak dengan kemampuan kinestetis kerap menggerakkan anggota tubuhnya. Tak jarang, mereka terlihat melakukan gerakan ringan yang sering mengundang perhatian orang dewasa.

Misalnya saja, mengetukkan jari ataupun pensil, menggoyangkan kaki hingga menari. Pernyataan ini diperkuat oleh Respati (2018) di atas yang menyatakan anak dengan kecerdasan kinestetis memiliki kemampuan fisik lebih dominan daripada anak lainnya.

Mereka cenderung lebih cepat mempelajari gerakan tubuh, seperti berjalan, berlari maupun aktivitas atletis lainnya.

2. Sulit Diam

Jangan heran kalau melihat anak sulit duduk serta diam dalam waktu yang lama. Anak dengan kecerdasan kinestetis punya pola khusus untuk belajar, termasuk dalam melatih fokus.

Meskipun mereka fokus pada satu hal, sering kali praktiknya dilakukan sembari menggerakkan anggota tubuh. Mereka cenderung memilih aktivitas yang berkaitan dengan fisik, termasuk permainan yang mengasah motorik halus dan kasar.

3. Konsentrasi Mudah Terpecah

Berkaitan dengan poin sebelumnya, ciri-ciri gaya belajar kinestetis pada anak terlihat dari rendahnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Orang tua sering kali kesulitan meminta anak fokus pada satu aktivitas pasif.

Rasa bosan dan jenuh selalu menghampiri anak, sehingga mereka memilih melakukan hal lainnya. Disatu sisi, kondisi ini tentu sangat menyulitkan orang tua maupun tenaga pendidik. Pasalnya, anak bakal mengganggu konsentrasi anak lainnya yang berada di sekitar mereka.

4. Ingatan Fisik yang Tajam

Mengingat kecerdasan kinestetis yang lebih dominan, anak tentunya lebih mudah mengingat serta memperagakan kembali gerakan fisik yang dicontohkan.

Tak butuh waktu lama untuk anak mentransformasikan apa yang mereka lihat. Ingatan mereka terhadap gerakan fisik benar-benar patut diapresiasi.

Ketika orang dewasa memperlihatkan satu gerakan, maka anak dengan kecerdasan tersebut akan bisa mengulanginya kembali walau baru mempelajarinya. Bahkan tak butuh repetisi atau pengulangan gerakan sebagai contoh awal.

5. Umumnya Kesulitan Menyesuaikan Atmosfer Belajar Standar

Ciri gaya belajar kinestetis berikutnya adalah kesulitan belajar pada situasi tertentu. Ini berlaku ketika orang tua atau tenaga pendidik menjelaskan secara verbal atau visual saja. Anak butuh penggambaran 3 dimensi atau contoh gerakan yang nyata.

Untuk itu, penting bagi pendidik maupun orang tua memahami kondisi dan kemampuan anak dalam belajar. Walaupun terkesan sulit, orang tua maupun tenaga pendidik harus beradaptasi dan menyesuaikan.

Kesulitan memberi pengarahan pada anak usia dini untuk mengikuti aturan yang berlaku sering kali banyak dijumpai. Alasan ini yang membuat pendidikan berbasis kecerdasan anak perlu terus dilakukan pengembangan.

Mengenali kecerdasan pada anak bukanlah hal yang sulit. Orang tua bisa melakukan observasi atau pengamatan secara mandiri maupun dibawah pengawasan ahli.

Mengetahui kecerdasan kinestetis yang dimiliki anak akan mempermudah aplikasi gaya belajar kinestetis pula. Orang tua dan pendidik seyogyanya memanfaatkan kecerdasan tersebut.

Dengan pola gerak, anak bisa dididik sesuai bakat dan minat mereka.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

Optimalisasi serta identifikasi potensi kecerdasan sejak dini pun akan lebih mudah dicapai tanpa melabeli anak sebagai pribadi yang bermasalah.

Di samping itu, pengenalan kecerdasan anak akan memberi efek positif bagi orang tua maupun anak ke depannya. Alih-alih menganggap kecerdasan tertentu sebagai kelemahan, orang tua justru bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.

Keterlibatan dan peran aktif orang tua benar-benar dibutuhkan agar lebih peka terhadap kondisi anak usia dini. Lingkungan pendidikan serta pergaulan anak juga sangat menentukan pertumbuhan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *