Cara Memilih Asuransi yang Baik Agar Sesuai Kebutuhan

RUANGNEGERI.com – Peran asuransi sebagai perlindungan berjangka di Indonesia tergolong masih rendah. Hal tersebut dipaparkan oleh Deputi Direktur Pengawasan Asuransi II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kristianto Andi Handoko.

Per Juli 2020, “penetrasi dan densitas market masih sekitar 1,1 persen, ini agak turun malah. Kita pernah hampir 2 persen. Sementara densitasnya Rp664 ribu,” ujarnya dalam sebuah webinar yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) beberapa waktu lalu.

Melansir Merdeka.com (24/09/2020), penetrasi pertumbuhan asuransi di Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Thailand, Malaysia, dan Vietnam angka penetrasinya sudah mencapai kisaran 4 persen.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

Penyebab Rendahnya Peserta Asuransi

Asuransi no-life (kendaraan, bisnis, properti dan lain-lain) kini mulai banyak diminati lebih daripada asuransi jiwa maupun kesehatan. Pertumbuhan asuransi salah satunya adalah didorong oleh kebijakan pemerintah kepada masyarakat untuk memiliki asuransi seperti BPJS Kesehatan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kesadaran akan pentingnya asuransi sebagai kebutuhan pokok belum banyak tumbuh di benak masyarakat Indonesia. Melainkan lebih karena adanya ‘paksaan’ atau regulasi yang dibuat oleh pemerintah untuk memiliki asuransi BPJS.

Dosen Aktuaria Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Ahmad Zanbar Soleh, menjelaskan beberapa penyebabnya. Aktuaria adalah ilmu yang mempelajari seputar risiko asuransi dan pengelolaan keuangan dengan pendekatan matematika dan statistika. Dua jurusan ini berada di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

“Kalau orang Indonesia masih berpikir kebutuhan pokok saja belum terpenuhi, berat untuk berpikir membeli asuransi. Karena asuransi walaupun dia kebutuhan pokok, namun belum jadi prioritas masyarakat Indonesia,” ujarnya saat diwawancara di Gedung Fakultas MIPA Unpad beberapa waktu lalu.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

Kesan Ekslusif dan ‘Kejar Setoran’ dari Agen Asuransi

Persepsi banyak muncul adalah bahwa perusahaan asuransi kerap kali membuat masyarakat seolah-olah berpikir sebagai hal yang eksklusif. Hal itu bisa dimaklumi karena pembawaan agen-agen asuransi banyak terkesan melakukan ‘pencitraan.’

Selain itu, Zanbar juga menyayangkan masih terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh para agen asuransi saat memasarkan produk. Seolah hanya terkesan kejar setoran untuk mendapatkan komisi dari perusahaan asuransi.

Agen-agen tersebut memang ditugaskan untuk mengejar komisi. Dengan mendapat pemegang polis, maka mereka akan mendapat komisi sekian persen. Polis yang telah ditawarkan tadi bergantung pada premi yang akan pelanggan bayarkan. Premi biasanya dibayarkan setiap bulan, tahunan, atau sekaligus di awal.

“Tinggal pengetahuan masyarakat, jika membutuhkan itu. Tugas-tugas pada para agen tadi sebetulnya yang tidak memberikan pencitraan bahwa mereka akan mencari kelas menengah atas agar mereka dapat komisi besar.”

Baca juga: Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

Lebih tegas lagi, ia menilai bahwa agen-agen asuransi kebanyakan “hanya memikirkan dirinya. Saat mereka sudah ‘menjebloskan orang’ beli asuransi, mereka lepas tangan. Nah, itu kejahatan yang menurut saya harus mulai disadari. Jadi masyarakat membeli asuransi bukan karena teriming-iming oleh manfaat, tapi karena memang butuh untuk proteksi ke depan,” lanjutnya.

Pembawaan oleh agen-agen dengan strategi pemasarannya secara tidak langsung mempengaruhi masyarakat sebagai calon pemegang polis. Tak jarang, strategi pemasaran hanya menguntungkan dari sisi agen dan perusahaan.

Masyarakat sebagai pemegang polis sering kali tidak mendapat urgensi yang tepat mengenai asuransi. Hal itu juga dialami oleh kalangan muda yang penulis temui di kampus, namanya Ditha salah seorang mahasiswi Unpad. Ia mengaku hanya memakai produk asuransi kesehatan saja.

Saat ditanya mengapa tidak memakai asuransi jiwa, ia menjawab belum memiliki wawasan mengenai hal tersebut. “Mungkin pengetahuannya juga kurang tentang asuransi jiwa, terus emang mungkin nggak cukup untuk melakukan asuransi jiwa.”

Ditha juga menganggap bahwa penggunaan asuransi jiwa hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang sudah mapan secara finansial. Baginya, belum menjadi prioritas.

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Teliti dalam Memilih Asuransi

Sebagai seorang manusia, kita tidak pernah tahu apa yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah mengantisipasi. Di era saat ini, diperlukan sesuatu yang dapat membantu kita di kemudian hari.

Salah satu jawaban yang ditawarkan adalah menggunakan asuransi. “Mungkin, besarnya tidak mencukupi. Tetapi ada bantuan yang bisa kita gunakan untuk membantu hal itu,” jelas Zanbar saat menjelaskan pentingnya asuransi.

Selain itu, ia juga menjelaskan mengenai keuntungan yang didapat oleh pemegang polis saat memakai asuransi.

“Saya ambil contoh ketika kecelakaan, pada saat kejadian, minimal untuk pertolongan pertama kita bisa meminta bantuan asuransi untuk menangani. Rumah sakit saat ini harus ada deposit dulu. Asuransi ada sebagai bentuk pertolongan di saat yang tidak terduga dan tidak diharapkan,” ujarnya.

Bagi pemegang polis, diharapkan untuk teliti dan berperan aktif dalam membaca aturan serta syarat-syarat dengan detail. Pemegang polis sering kali tidak tahu aturan-aturan yang telah tercantum.

Baca juga: Mengenal Reksa Dana: Investasi yang Mulai Digemari Milenial dan Gen Z

Hal itu sangat dimaklumi karena kebanyakan orang memang tidak terbiasa dengan membaca dan memahami penjelasan serta aturan yang memang terlalu panjang untuk dibaca.

Pemegang polis biasanya hanya mengandalkan agen dalam prosesnya. Akhirnya, pada saat ingin mengajukan suatu klaim, terdapat kriteria-kriteria yang ternyata tidak terpenuhi.

Memilih perusahaan asuransi yang benar-benar kredibel dan terpercaya juga merupakan hal yang perlu diperhatikan jika ingin menggunakan produk asuransi.

“Ada perusahaan-perusahaan secara investasi dan bisnisnya tidak bagus, akhirnya mereka bangkrut. Saat mereka bangkrut, kelemahan asuransi di kita, siapa yang menanggung? Kadang mencari perusahaan asuransi itu harus yang kredibel, kantor cabangnya banyak, secara manajemen sudah kuat. Beda halnya dengan bank yang siap memberi ganti rugi sebesar dua miliar per nasabahnya,” jelas Zanbar yang merupakan dosen Aktuaria di Unpad.

Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang merupakan lembaga independen yang secara khusus berfungsi untuk melakukan pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan secara terintegrasi terhadap seluruh kegiatan sektor jasa keuangan.

Perusahaan asuransi kini harus tergabung ke dalam asosiasi-asosiasi resmi yang sudah disahkan oleh OJK. Salah satunya adalah untuk lebih melindungi pemegang polis terkait dengan klaim asuransi. Selain itu, apabila perusahaan asuransi kolaps, maka pemegang asuransi tidak banyak yang ikut dirugikan. 

Ni Luh Lovenila Sari Dewi

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *