Cara Kerja Mesin AI Mendeteksi Kebohongan Seseorang

RUANGNEGERI.com – Berbohong menjadi salah satu cara untuk menghindar dari tanggung jawab. Pada tahap pemeriksaan dan penyelidikan berbagai kasus pun, berbohong banyak menjadi jalan keluar untuk bisa terbebas dari segala tuduhan.

Oleh sebab itu, untuk membantu meminimalisir terjebaknya penyidik oleh kebohongan dalam penyidikan, ada banyak teknologi yang dikembangkan.

Berbagai teknologi dikembangkan untuk membantu membaca dan menganalisis tubuh seseorang ketika melakukan kebohongan. Setidaknya sejak awal tahun 2000-an, sudah cukup banyak mesin yang diklaim mampu mendeteksi kebohongan.

Salah satu alat yang sangat fenomenal diklaim bisa mendeteksi kebohongan adalah tes poligraf. Melansir Technologyreview.com (13/03/2020), alat tes ini bisa menguji kebohongan seseorang dari gelombang yang terbaca ketika seseorang menjawab saat proses penyidikan.

Getaran yang cepat ditampilkan oleh poligraf diartikan sebagai kebohongan. Sebaliknya, gelombang yang tidak bergetar dijelaskan sebagai kejujuran. Namun penggunaan alat ini sempat mengalami banyak pertentangan, khususnya karena validitas dan reliabilitasnya masih perlu diuji kembali.

Lalu bagaimana dengan saat ini? Sudah adakah teknologi yang lebih canggih dan terpercaya untuk menguji dan mendeteksi kebohongan?

Baca juga: Sensor Optik AI Bisa ‘Melihat’ Seperti Mata Manusia

Tahap Awal dalam Menguji Kebohongan

Walau penggunaan poligraf mulai ramai diperbincangkan di awal tahun 2000-an, sebenarnya pengembangan awal alat ini dilakukan setelah Perang Dunia I.

Mesin pertama ini dikembangkan oleh Wiliam Marston, seorang peneliti dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. Alat pendeteksi kebohongan ini mengacu pada tekanan darah yang meningkat ketika berbohong.

Selang beberapa waktu kemudian, John Augustus Larson yang merupakan polisi dan ahli psiologi dari Universitas California, juga mengeluarkan alat serupa. Alat tersebut dinamakan Cardio-pneumo Psychogram yang membaca kebohongan melalui tekanan darah, detak jantung dan kecepatan bernafas.

Baca juga: Teknologi Virtual Reality Bisa Mengukur Stress Seseorang

Sekitar tahun 1970-an, akhirnya alat Larson tersebut diperbanyak dan digunakan sebagai alat uji kebohongan di banyak kantor polisi dan perkantoran. Namun akhirnya di tahun 1988, penggunaan poligraf ini mulai dihilangkan karena tingkat keakuratannya semakin meragukan.

Walau begitu, harapan untuk dapat memiliki alat yang mendeteksi kebohongan tidak pernah hilang. Hingga akhirnya seiring berjalannya waktu pengembangan terus dilakukan.

Apalagi sejak dikenalnya kecerdasan buatan (Artificial Inteligence, AI), harapan untuk memiliki alat deteksi kebohongan dengan teknologi yang canggih pun semakin besar.

Baca juga: Reinforcement Learning dari Tangan Robot AI Semakin Mirip Manusia

Uji Kebohongan dengan Teknologi

Ada cukup banyak alat yang dikembangkan untuk menguji kebohongan. Namun seperti diketahui sampai beberapa waktu terakhir, banyak pihak mengakui hasilnya masih sering kali mendapatkan perbedaan.

Alat pendeteksi kebohongan ini sangat dibutuhkan. Bukan untuk mendeteksi kebohongan yang dilakukan sehari-hari, tetapi untuk membantu proses penyidikan kebohongan pada kasus-kasus penting dan berpengaruh besar.

Walau masih terus mengalami perdebatan, namun pengembangan alat uji kebohongan akhirnya dilengkapi juga dengan teknologi AI. Teknologi kecerdasan buatan ini bisa menyimpan dan memroses data dengan sangat baik.

Baca juga: Saat AI Robot Bisa ‘Mengawasi dan Mendorong’ Kinerja Pegawai Kantor

Salah satunya adalah teknik AIM (Asymmetric Information Management). Teknik tersebut tertuang dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Cody Normitta Porter, dkk (2020) dengan judul Lie-detection by Strategy Manipulation: Developing an Asymmetric Information Management (AIM) Technique.

Teknik ini mengombinasikan hasil analisis pewawancara dengan data yang diambil dari orang yang diperiksa, seperti tekanan darah. Pemeriksaannya dilakukan dengan melakukan penyidikan tanya jawab.

Perubahan yang ditunjukkan oleh orang yang diperiksa ini kemudian dijadikan standar untuk mengelompokkan apakah orang itu berbohong atau tidak.

Berdasarkan hasil analisis teknik tersebut, diketahui bahwa kebohongan tidak bisa hanya disimpulkan melalui uji mesin. Tetapi harus ada juga penilaian langsung dari wawancara dan tanya jawab penyidikan.

Hal itu adalah bertujuan untuk mendukung data-data yang didapatkan melalui alat uji kebohongan yang digunakan.

Baca juga: Hybrid Learning, Solusi Metode Pembelajaran di Masa Depan?

AI Mendeteksi Kebohongan dari Raut Wajah

Salah satu cara yang paling baru untuk memanfaatkan AI dalam mendeteksi kebohongan adalah melalui perubahan raut wajah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa raut wajah dapat menunjukkan apa yang dipikirkan oleh seseorang.

Namun, mungkin ada banyak orang yang bisa berbohong bahkan dengan wajah datar tanpa menunjukkan raut apa pun. Hal ini tentu kontradiksi dengan apa yang terus dikembangkan, yaitu teknologi AI untuk mendeteksi kebohongan dari raut wajah.

Jonathan Gratch, seorang peneliti dari Viterbi School of Engineering, Universitas Southern California, Amerika Serikat, juga mengakui hal yang sama bahwa manusia bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya melalui wajah.

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukannya, ada satu bagian dari pergerakan wajah yang selalu konsisten. Bagian wajah itu adalah bibir saat tersenyum. Bentuk senyuman seseorang diketahui adalah ekspresi yang selalu konsisten berdasarkan apa provokasinya.

Baik provokasinya bersifat negatif ataupun positif, bentuk senyum seseorang yang muncul diketahui akan senantiasa konsisten sehingga sulit untuk dibohongi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam mendeteksi kebohongan masih memiliki banyak keterbatasan.

Namun dengan bantuan informasi kontekstual mengenai kasus, persepsi maupun latar belakang akan melengkapi proses pembacaan emosi. Sehingga sangat mungkin akan menghasilkan analisis kebohongan seseorang menjadi lebih akurat.

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *