Cagar Budaya Masjid Kuno Pertama di Lombok, Masjid Bayan Beleq

RUANGNEGERI.com – Salah satu warisan budaya dan objek wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Bayan adalah Masjid Kuno Bayan Beleq. Meski berupa masjid, namun fungsinya tidak seperti masjid pada umumnya.

Masjid Kuno Bayan hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Untuk kegiatan rutinitas, perayaan hanya dilakukan dalam selisih tiga hari. Misalnya, jika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka ritual di masjid ini akan dilaksanakan pada hari Seninnya.

Pada perayaan acara ini, seperti dituliskan H. L. Ahmad Busyairy (2016) dalam tulisan berjudul Akulturasi Budaya dalam Mimbar Masjid-Masjid Kuno Lombok (Studi Arkeologi), para pengunjung yang ingin mengikuti prosesi upacara diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada. Misalnya harus menggunakan baju adat Sasak seperti dodot dan sapuk.

Selain itu, pada perayaan Idul Fitri, masjid ini tidak hanya menggelar sholat berjamaah, namun 3 hari setelah itu diselenggarakan perayaan Lebaran Adat Tinggi. Menurut masyarakat setempat, perayaan ini digunakan untuk menopang dan memperkuat Hari Raya Idul Fitri.

Kegiatan pada perayaan lebaran Adat Tinggi ini disebut dengan Serah Ancak. Ancak adalah tempat membawa makanan yang berbentuk segi empat dan terbuat dari anyaman bambu dilapisi daun pisang. Di atas daun pisang inilah terdapat makanan dan lauk pauk seperti urap, sate, ikan, daging ayam, daging kambing dan lain-lain.

Masing-masing bahan yang diletakkan di Ancak merupakan sumbangan dari warga desa secara sukarela. Memasaknya pun dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Bayan.

BACA JUGA: Masjid Sigi Lamo dan Tradisi Islam di Ternate

Arsitektur Masjid

Bentuk Masjid Kuno Bayan ini memang tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah sekitarnya. Bentuknya yang nampak sederhana membuatnya tidak mudah untuk dikenali dari tepi jalan. Ukurannya adalah 9 x 9 meter.

Dindingnya rendah dan terbuat dari anyaman bambu. Atapnya berbentuk tumpang yang tersusun dari bambu, sedangkan pondasi lantainya masih terbuat dari batu kali. Lantainya terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.

Di sudut-sudut ruangan, terdapat empat tiang utama yang terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder. Di dalamnya terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di bagian atap.

Tepat di depan pintu utama, terdapat sebuah gentong yang di letakkan dan diikat di bawah pohon Semboja. Gentong ini merupakan tempat untuk menampung air wudhu. Untuk masuk ke dalam, ukuran orang dewasa pada umumnya harus membungkuk karena pintu masuknya cukup pendek.

BACA JUGA: Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

Sejarah Masjid Bayan Beleq

Islam berkembang pesat di Nusantara terutama setelah runtuhnya Majapahit pada abad ke-14 Masehi. Penyebaran Islam di Lombok mulai berkembang pada abad ke-16. Setidaknya terdapat dua pandangan terkait kedatangan Islam di daerah ini.

Melansir dari Firstlomboktour (21/11/2019), sebagaimana tertera dalam Babad Lombok, disebutkan bahwa Sunan Giri telah memerintahkan kepada tiga orang dari muridnya. Ketiganya yaitu Lembu Mangkurat untuk menjalankan Dakwah Islam di Banjarmasin, Dato’ Banda untuk menjalankan Dakwah Islam di Makassar; dan Sunan Prapen (Putera dari Sunan Giri) untuk menjalankan Dakwah Islam di Pulau Lombok, Sumbawa dan Bali.

Sunan Prapen tidak sendirian, beliau didampingi oleh pengiring dan ulama besar lainnya. Keahliannya dalam berdakwah adalah dengan cara memainkan wayang. Dengan media tersebut, Islam menyebar di Lombok melalui kisah pewayangan. Bahasa yang dipakai dalam pewayangan adalah Bahasa Kawi/Jawa kuno.

Dengan penuh kesabaran dan akulturasi budaya, peran para ulama dalam menyebarkan Islam di tanah Lombok memberikan dampak yang signifikan. Hingga kini, tercatat hampir semua masyarakat Lombok maupun Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan adalah Muslim.

Tempat yang menjadi singgahan pertama kali Sunan Prapen beserta rombongan kala itu adalah Desa Bayan. Untuk menunjang penyebaran Islam, maka dibangunlah Masjid Bayan Beleq sebagai tempat Sholat, Membaca Al-Qur’an, Kajian Islam, dan kegiatan Islam lainnya.

Selain itu, masjid tersebut juga dijadikan sebagai Pusat Pendidikan Islam serta tempat bagi masyarakat Lombok yang baru memeluk Islam maupun yang ingin memeluk Islam.

Versi lain terkait awal penyebaran Islam di Lombok, sebagaimana dilansir di situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Sunan Pengging, pengikut Sunan Kali Jaga, datang ke Lombok pada tahun 1640 Masehi untuk menyiarkan agama Islam (sufi).

Ia menikah dengan puteri dari kerajaan Parwa sehingga menimbulkan kekecewaan raja Goa. Selanjutnya, Raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640.

Sunan Pengging yang juga dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi kemudian lari ke Bayan. Di Bayan ia mengembangkan ajarannya, yang kelak menjadi pusat kekuatan suatu aliran yang disebut “Waktu Telu.”

BACA JUGA: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

Ajaran Islam Waktu Telu

Masyarakat tradisional Bayan, pada masa lalu dikenal sebagai penganut ajaran Islam “Waktu Telu”. Walaupun keberadaan ajaran ini secarara formal sudah tidak ada lagi, namun sisa-sisa kepercayaan lama itu masih dapat dilihat pada saat diselenggarakannya upacara tradisi.

Misalnya upacara “sedekah urip”, upacara minta hujan, dan sebagainya. Masyarakat Bayan memiliki pandangan yang serba tiga atau Waktu Telu. Hal itu nampak pada sumber hukum yang dianutnya yang berdasarkan atas tiga prinsip, yaitu: Agama, Adat dan Pemerintahan.

Dalam sistem organisasi kemasyarakatan, masyarakat Bayan mengenal tiga lembaga yaitu: Pemangku Adat, yang menjadi pimpinan tertinggi di desa, biasanya dijabat secara turun temurun. Pembantu pemangku, bertindak menangani urusan pemerintahan. Penghulu, dijabat oleh Kiyai, bertugas menangani urusan ke-agamaan.

Bilangan tiga juga merupakan cerminan dari pemahaman terhadap asal-usul kejadian manusia. Yakni manusia lahir di dunia atas kehandak Tuhan dengan perantara ayah dan ibu.

Selain itu, inti ajaran “Waktu Telu” juga merupakan pengejawantahan dari ajaran budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Unsur ajaran “Islam” nya tampak pada adanya sejumlah perintah dan larangan seperti, tidak boleh melawan orang tua, harus menghormati saudara tua, tidak boleh bertengkar apalagi saling membunuh

Manusia harus bersikap atau berbuat baik terhadap sesamanya. Perkara pelaksanaan syariat agama (fiqih), cukup melaksanakan yang menonjol (pokok-pokok) saja. Misalnya menyelenggarakan upacara peringatan Maulid Nabi Muhamad Saw., shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, atau ngaji makam pada tahun Alip.

Dari uraian tersebut, kondisi sosial budaya masyarakat tradisional di Bayan khususnya, sangatlah kuat memegang teguh nilai-nilai moral. Masjid Kuno Bayan ini merupakan cagar budaya yang melestarikan ajaran Islam dengan nilai tradisional masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *