Budaya Pandalungan: Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur  

RUANGNEGERI.com – Membicarakan budaya di Provinsi Jawa Timur, provinsi seluas 47.922 km2 yang menjadi provinsi paling luas di seluruh Pulau Jawa ini selalu menjadi topik yang amat menarik. Terlebih bagi orang-orang yang mendiami Jawa Timur.

Sekilas, jika hanya melihat namanya, Jawa Timur hanyalah wilayah yang berada di Pulau Jawa bagian timur dengan satu jenis kebudayaan (monokultur), yang tak lain adalah budaya Jawa.

Tetapi, nyatanya tidak hanya seperti itu. Jika kita melihat peta, sebelah timur laut Jawa Timur juga terdapat Pulau Madura, di mana etnis Madura asli tinggal dan menetap.

Salah satu hasil kebudayaannya yang paling terkenal adalah Karapan Sapi, sebuah lomba pacuan sapi digelar setiap tahunnya.

Lebih dari sekedar namanya, jika kita melihat Jawa Timur secara lebih dekat dan menyelaminya, maka propinsi beribukota di Surabaya ini sebenarnya merupakan daerah yang memiliki budaya yang amat plural.

Kawasan yang Kental dengan Budaya dan Kearifan Lokal

Dikutip dari buku penelitian berjudul Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur, Sebuah Upaya Pencarian Nilai-Nilai Positif yang ditulis oleh Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan (2008), budayawan dari Universitas Jember, menyebutkan bahwa wilayah Jawa Timur terbagi dalam sepuluh latah (dalam Bahasa Indonesia berarti kawasan) kebudayaan.

Yakni sebanyak empat tlatah kebudayaan besar, dan enam tlatah kebudayaan kecil.

Enam tlatah kebudayaan kecil di Jawa Timur ini dihuni oleh Jawa Panaragan (Ponorogoan, berada di sekitar wilayah Kabupaten Ponorogo), Osing (di Banyuwangi), Tengger (di sekitar kaki Gunung Bromo), Madura Bawean (di Kepulauan Bawean), Madura Kangean (di Kepulauan Kangean), dan Samin atau Sedulur Sikep (masyarakat adat di Bojonegoro).

Sedangkan keempat kawasan kebudayaan besar di antaranya adalah Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau dan Pandalungan—yang akan kita bahas melalui tulisan singkat ini.

Kawasan kebudayaan Jawa Mataraman merupakan kawasan yang berada di bagian barat sekaligus yang paling luas, membentang dari perbatasan Jawa Tengah sampai Kediri dan sekitarnya.

Disebut Jawa Mataraman, karena daerah-daerah di dalamnya masih mendapatkan pengaruh yang kuat dari Kerajaan Mataram.

Baik Mataram Kuno (Medang) yang didominasi oleh budaya Hindu-Budha yang berada di Jawa Tengah bagian selatan kemudian pindah ke Jawa Timur, maupun di era Kesultanan Islam yang berpusat di daerah Surakarta dan Yogyakarta.

Di sebelah Jawa Mataraman, ada tlatah kebudayaan Arek yang berpusat di Surabaya dan Malang.

Masyarakat dari dua Arek ini khas dengan karakteristiknya yang pemberani, memiliki semangat juang yang tinggi, terbuka, mudah beradaptasi serta bondo nekat (berbekal nekat).

Meski hanya 17% dari seluruh wilayah di Jawa Timur, tetapi separuh kegiatan ekonomi Jawa Timur terpusat di kawasan ini.

Selanjutnya, masyarakat di Pulau Madura memiliki kebudayaannya sendiri sehingga di kawasan kebudayaan ini disebut dengan Madura Pulau.

Karakteristik masyarakat Madura seperti dijelaskan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya yang berjudul Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850 – 1940, di antaranya adalah akibat pola pemukiman yang terpencar.

Oleh karenanya, mereka tidak memiliki solidaritas desa, yang kemudian juga menimbulkan ciri hubungan sosial yang bersifat individual dengan keluarga inti sebagai unit paling dasarnya.

Meskipun demikian, masyarakat Madura mirip dengan masyarakat Bugis dan Minangkabau, yakni memiliki jiwa penjelajah yang kuat. Oleh karena tanah di Pulau Madura tak sesubur di Jawa yang membuatnya kurang cocok untuk bercocok tanam, akhirnya masyarakat Madura banyak yang merantau.

Tak heran jika kita juga sering menemui banyak orang Madura tinggal di tanah perantauan jauh dari tanah kelahirannya. Mereka seperti halnya etnis Tionghoa, juga pandai sekali berdagang.

Selanjutnya, mengenai budaya Pandalungan akan kita bahas lebih dalam seperti berikut ini.

BACA JUGA: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Apa Itu Pandalungan?

Budaya Pandalungan, Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur  - Peragaan Busana di Jember Fashion Carnaval

Sampai sekarang istilah tersebut masih belum cukup jelas. Meskipun ada banyak definisi dari para ahli di bidang kebudayaan dan antropologi, nyatanya istilah ini bahkan belum termaktub dalam KBBI.

Jejak istilah Pandalungan mulai digunakan oleh kalangan akademisi mulai tahun 2000-an. Setidaknya, ada dua definisi umum dari istilah itu.

Yang pertama, merupakan generasi baru hasil perkawinan campuran antara orang Madura dan Jawa. Yang kedua, merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Madura.

Budaya Pandalungan hanya bisa ditemukan di wilayah Tapal Kuda, lebih khusus terpusat di Kabupaten Jember. Tapal Kuda merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah Jawa Timur bagian timur.

Yakni meliputi, Kabupaten Pasuruan bagian timur, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Banyuwangi.

Disebut dengan istilah Tapal Kuda karena kawasan ini bentuknya mirip dengan tapal kuda.

Istilah Pandalungan kemudian digunakan oleh para akademisi Universitas Jember, hingga menjadi istilah yang populer di kalangan akademisi baik lokal, regional maupun nasional.

Setidaknya ada tiga ahli yang menyebutkan definisinya secara lebih terperinci.

Kusnadi (2001), dalam tulisannya berjudul Masyarakat Tapal Kuda: Konstruksi Kebudayaan dan Kekerasan Politik menyatakan ada tiga definisi Pandalungan. Menurutnya, istilah itu bisa dimaknai dalam tiga definisi.

Pertama, Pandalungan dapat berarti anak hasil perkawinan campuran antara orang Jawa dan Madura sebagai dampak atas migrasi karena adanya pembukaan lahan perkebunan dan pertanian di wilayah Tapal Kuda.

Kedua, budaya baru hasil proses panjang bertemunya beragam budaya yang ada di wilayah Tapal Kuda. Serta yang ketiga, merupakan periuk besar.

Mengacu pada buku berjudul Bausastra Jawa Indonesia yang ditulis oleh Prawiroadmodjo (1985), hal itu sebagai konsep yang mengarah pada pertemuan berbagai masyarakat dengan beragam etnis dan budaya yang saling berinteraksi dalam satu ruang dan waktu, sehingga melahirkan sebuah variasi budaya baru.

Selain Kusnadi, Yuswadi (2005) dalam bukunya berjudul Melawan Demi Kesejahteraan, Perlawanan Petani Jeruk Terhadap Kebijakan Pembangunan Pertanian juga menyebutkan definisi yang hampir sama.

Yaitu, percampuran budaya Jawa dan Madura, serta masyarakat Madura yang lahir di wilayah masyarakat Jawa dan kemudian beradaptasi dengan budaya tempat dilahirkannya (budaya Jawa).

Sutarto (2006) juga memberikan sumbangan pemikiran mengenai definisi kawasan budaya tersebut.

Menurutnya, Pandalungan ialah sebagai sebutan untuk masyarakat berbudaya baru yang terbentuk dari akulturasi dua budaya dominan, Madura dan Jawa, sehingga adat istiadat, bahasa dan keseniannya pun menjadi berbeda.

Dari definisi-definisi yang diberikan oleh beberapa ahli dan akademisi tadi, maka bisa disimpulkan bahwa mereka sepakat untuk tidak melabeli istilah tersebut sebagai budaya yang semata-mata milik Jember saja.

Sebab, Jember hanyalah satu di antara beberapa wilayah tempat berkembangnya budaya ini.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Pandalungan Bukan Semata Jawa dan Madura

Budaya Pandalungan selain mengacu pada pemahaman mengenai akulturasi etnis Jawa – Madura, juga dimaknai sebagai keluarga seseorang dari tempat asal etnisnya.

Artinya, orang-orang yang lahir dari etnis Madura misalnya tetapi tinggal di luar Pulau Madura (tempat asalnya), juga merupakan makna sekaligus sebab lahirnya budaya Pandalungan.

Tetapi sebenarnya tidak hanya bercerita tentang etnis Jawa dan Madura semata.

Seperti disampaikan oleh Rahadjo (2006) dalam makalah berjudul Pendhalungan: Sebuah Periuk Besar Masyarakat Multikultural, menyebutkan bahwa interaksi ragam etnis yang terjadi tidak hanya sebatas antara Jawa dan Madura, tetapi juga etnis-etnis lain seperti Osing, Tiongkok, Arab dan lainnya.

Proses interaksi ragam etnis ini tidak terjadi secara cepat dan instan, tetapi memerlukan waktu yang lama. Sejak masa kolonial hingga hari ini, akulturasi ragam etnis tersebut dapat melahirkan bahasa Jawa dialek Madura (Jemberan), ludruk berbahasa Madura dan sebagainya.

Meskipun demikian, akulturasi ini tidak terjadi secara sempurna. Sebab, ada perbedaan budaya yang bisa dibandingkan di setiap wilayah di Tapal Kuda.

Di Jember, daerah bagian selatan yang mayoritas masyarakatnya berasal dari budaya Jawa Mataraman dan Panaragan. Mereka masih meneruskan tradisi-tradisi dari asal kawasan kebudayaannya.

Juga, di Jember bagian timur dan utara yang mayoritas masyarakatnya berasal dari etnis Madura, mereka masih asyik melestarikan adat-istiadat dari asal etnisitasnya.

Sehingga, wilayah Jember kota menjadi ruang pertemuan budaya yang melebur dan saling melintasi.

Selain itu, ternyata ada pemahaman yang berbeda mengenai istilah Pandalungan yang berkembang di wilayah Bondowoso. Di sana, istilah itu digunakan untuk menyebut perkawinan antara masyarakat lokal dengan orang dari mancanegara.

Pemahaman tersebut juga berkembang di wilayah Sempolan, Jember. Di wilayah Gumukmas, Jember, masyarakatnya tidak menggunakan istilah Pandalungan untuk menyebut perkawinan antara etnis Madura dan Jawa, melainkan Blandongan.

Hal itu mengisyaratkan bahwa penggunaan istilah budaya tersebut sebatas pada definisi-definisi di atas tidak bisa dipaksakan. Meski pembatasan ruang lingkupnya telah banyak dilakukan oleh para akademisi maupun melalui pemerintah dan negara.

Kearifan lokal masyarakat Tapal Kuda secara keseluruhan juga harus diperhatikan.

Dengan begitu, maka istilah budaya Pandalungan dapat mencakup semua pemaknaan yang berkembang di tengah masyarakat lokalnya. Tidak terbatas pada pendefinisian tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *