Beberapa Cara Menanamkan Konsep Diri pada Anak

RUANGNEGERI.com – Seorang anak masih membutuhkan banyak waktu untuk belajar bagaimana memahami konsep tentang dirinya yang sebenarnya. Konsep diri ini akan mulai dipahami oleh anak ketika anak mulai memasuki usia 1 tahun.

Pemahaman tersebut tidak akan bisa terbentuk secara utuh dalam waktu singkat begitu saja. Namun membutuhkan tahapan yang terus berkembang seiring bertambahnya usia.

Konsep diri bisa dibilang sebagai sesuatu yang abstrak, sehingga baru bisa dipahami dengan benar ketika anak menginjak usia 10 tahun ke atas saat penalarannya sudah sempurna. Meski begitu, konsep diri ini dapat mulai dimengerti sedikit demi sedikit sejak anak belajar berbicara atau mengenal orang lain.

Mary Eming Young & Linda M. Richardson (2007) dalam bukunya berjudul Early Child Development From Measurement to Action, mengatakan bahwa konsep diri yang dikombinasikan dengan lingkungan yang buruk.

Untuk perkembangan anak usia dini, hal itu dapat menyebabkan masalah perilaku dan bahasa yang signifikan di kemudian hari.

Oleh karenanya, memberikan pemahaman mengenai konsep diri yang sesuai dengan perkembangan anak sangat penting bagi orang tua.

BACA JUGA: Kecerdasan Naturalis Anak, Bagaimana Cara Mengoptimalkannya?

Pengaruh Orang Tua Pada Konsep Diri Anak

Dunia anak-anak memang sering kali tidak mudah untuk dipahami oleh orang lain. Namun, bagaimana pun, orang tua harus bisa memahami seperti apa dunia anak mereka.

Martin Maldonado-Duran (2002) dalam bukunya Infant and Toddler Mental Health Models of Clinical Intervention With Infants and Their Families, mengatakan bahwa adanya konflik sangat berkontribusi pada keadaan psikis bawah sadar orang tua yang akan mempengaruhi pembentukan psikis bayi.

Hal itu sangatlah mungkin membentuk konsep diri anak sebagai sesuatu yang buruk. Sadar atau tidak, orang tua memberikan pengaruh yang besar pada perkembangan konsep diri pada anak.

Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan masih harus belajar banyak akan memiliki pemahaman konsep diri yang buruk bila terus-terusan berhadapan dengan konflik di keluarga.

Apa yang diperbuat orang tua akan memberikan dampak besar pada perkembangan anak, termasuk perkembangan konsep diri pada anak. Bahkan apa yang dikatakan oleh orang tua juga akan membuat anak membentuk pemahaman berbeda dari yang seharusnya jika disampaikan dengan cara yang salah.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, mengatakan bahwa ketika orang tua mengajari anak-anak sejak dini bahwa mereka harus mengerjakan sesuatu terikat pada penguasaan konsep. Oleh karena itu, maka kegiatan diarahkan untuk menjadi lebih baik dalam berbagai hal bukan hanya untuk kesenangan semata.

Fokus orang tua dalam hal ini adalah ke mana anak-anak akan melangkah pergi, bukan di mana mereka berada sekarang.

Para orang tua harus memikirkan dengan matang apa yang akan mereka berikan kepada anak. Mereka harus mengerti mengenai apa yang akan terjadi pada anak mereka di masa depan.

Apa yang terjadi pada anak di masa depan, semua berasal dari apa yang didapatkan dalam waktu sekarang ini. Jangan heran jika orang tua memberikan pengaruh terbesar pada kehidupan anak.

BACA JUGA: Reinforcement Positif pada Anak: Pengertian, Contoh dan Fungsinya

Menanamkan Konsep Diri pada Anak

Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua memberikan pemahaman yang tepat mengenai konsep diri pada anak. Setiap orang tua dapat mulai mencoba menanamkan konsep diri pada anak sejak memasuki usia 1 tahun keatas atau 2 tahun pertama.

Meski dalam usia tersebut anak belum bisa mengerti hal-hal abstrak secara tepat, namun konsep diri dapat dikenalkan perlahan-lahan.

Untuk mengenalkan konsep diri ini, orang tua tidak harus menuntut anak untuk mengerti apa yang mereka sampaikan. Caranya bisa dengan mengenalkan mulai dari hal sederhana seperti memanggil anak dengan namanya sendiri.

Mungkin pada awalnya mereka tidak akan mengerti. Namun lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu anak-anak akan mengerti bahwa mereka memiliki nama, dan dengan nama tersebutlah orang tuanya memanggil.

Melalui pemanggilan nama tersebut, anak akan terbiasa dan dengan sendirinya akan menjawab ketika dipanggil. Mereka akan otomatis menjawab menjawab atau mengerti ketika mendengar namanya disebut.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2014) melalui buku berjudul No-drama Discipline : The Whole-Brain Way To Calm The Chaos And Nurture Your Child’s Developing Mind, menegaskan bahwa dalam mengasuh anak, orang tua harus menggunakan perspektif otaknya secara utuh.

Orang tua harus mendalami setiap ide, mempelajari konsep dan strategi lain. Hal itu sangat penting untuk membangun otak anak-anak demi membimbing mereka menuju kesehatan, kebahagiaan dan ketahanan.

Selama orang tua berusaha menanamkan konsep diri pada anak, maka selama itu pula orang tua harus mau belajar dan mengembangkan diri.

Anak-anak harus membayar mahal jika orang tua kurang akan kesadaran tentang hal ini. Bentuk dari kurang kesadaran ini bisa dilihat dari perilaku anak yang tidak patuh, tidak tahu sopan santun, dan bahkan bisa terjerumus kepada pengaruh minuman keras dan obat-obatan berbahaya.

Semua hal itu akan diwariskan kepada anak-anak yang tidak bersalah. Orang tua yang tidak paham akan pengaruhnya pada konsep diri anak akan melampiaskan segala kebutuhan yang belum terpenuhi. Harapan-harapan anak yang tidak terwujudkan dari lingkungan keluarga akan membuat anak frustasi.

Hal buruk yang terjadi di keluarga, secara tidak sadar akan terekam dalam jiwa anak. Melalui kesadaran orang tua akan pentingnya proses menanamkan konsep diri anak yang tepat, siklus buruk pada kehidupan anak akan dapat diatasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *