Bahasa Rinengga: Keindahan Sastra Jawa yang Mulai Jarang Digunakan

RUANGNEGERI.com – Di saat pernikahan, seni, pertunjukan, upacara atau acara-acara dengan tradisi Jawa, hampir selalu ada sambutan sebagai berikut:

Para rawuh ingkang minulya, para pinisepuh pepundhen ingkang pantes sunurdursana, para pangembat pangembating praja satriyaning Nagari ingkang tuhu luhure budi, para manggalaning ngayuda ingkang hambeg mahambara, tuwih sagung para tamu kakung miwah putri, kaparenga kawula sowan ing ngarsa panjenengan sami, minangka talanging atur panjenenganipun bapak Sakur anggenipun kagungan kersa pinanganten…

Jika Anda pernah atau bahkan sering mendengar sambutan di atas, selamat. Anda telah mendengarkan orang yang berbicara menggunakan Bahasa Rinengga. Yakni sebuah sub-sastra Jawa yang umumnya digunakan untuk hajatan maupun di acara-acara resmi.

Meskipun Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa lokal dengan jumlah penutur aslinya terbanyak di Indonesia (sekitar 80 juta orang), namun hanya sedikit dari jumlah tersebut yang mendalami Sastra Jawa.

Masyarakat pada umumnya hanya mengerti tingkatan bahasa menurut penggunaannya. Seperti Bahasa Jawa ngoko atau kasar, Bahasa Jawa kromo madya atau bahasa yang tidak terlalu halus tapi juga tidak kasar dan Bahasa Jawa kromo alus. Bahasa Jawa kromo alus atau kromo inggil ini merupakan bahasa yang paling halus dan lembut.

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

Sedikit sekali orang yang mendalami penggunaan Bahasa Jawa dalam konteks non-komunikasi sehari-hari seperti dalam acara resmi ataupun jurnalistik. Bahasa Jawa memang dikenal sebagai bahasa yang memiliki tingkat kesulitan dan sastra yang tinggi.

Salah satu sub-sastra dalam Bahasa Jawa yang lambat laun hilang ini adalah Bahasa Rinengga, sebagaimana contoh di atas. Meskipun biasanya umum digunakan dalam acara pernikahan, namun saat ini juga sudah mulai jarang, khususnya di daerah perkotaan.

Sumber tulis berupa buku, majalah maupun surat kabat yang membahasnya pun terbilang jarang dan sulit ditemukan.

Baca juga: Akulturasi Budaya dan Spiritualitas di Masjid-masjid Tua Yogyakarta

Pengertian Bahasa (Basa) Rinengga

Alifia Mutaram (2011), sebagaimana dikutip di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan bahwa pengertian Bahasa Rinengga adalah sebagai berikut:

Basa rinengga tegese iku basa kang kalebu susastra rinacik mawa basa kang endah. Endahing karangan kang narik kawigaten lan nyeingake, sarta basa kang edi peni.

Jika diterjemahkan, Bahasa Rinengga adalah bahasa yang diramu dengan nilai kesusasteraan indah (rinengga), yakni tersusun dari gabungan kata yang berbeda untuk menjadi sebuah kalimat yang cantik dan menarik. Tujuannya adalah agar lebih meresap ke dalam hati.

Baca juga: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Contoh Bahasa Rinengga

Menguti dari laman Intanpari.com, Bahasa Rinengga disusun dari sembilan frasa, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Tembung Saroja

Tembung Saroja adalah dua kata yang memiliki arti sama atau mirip yang digunakan secara bersamaan. Contoh:

  • Tari Serimpi iku budaya kang adi luhung
  • Anggene sesrawungan kudu migunaake akal budi

2. Tembung Entar

Tembung entar adalah kata atau kalimat yang tidak bisa dimaknai dengan makna sesungguhnya. Dalam Bahasa Indonesia, tembung entar disebut juga dengan bahasa kiasan. Contohnya:

  • Najan sregep ngibadah, bu Tejo iku tipis lambene.
  • Budi kudu sregep sinau amarga dedel uteke.

,Baca juga: Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

3. Wangsalan

Wangsalan adalah bebunyian atau kalimat yang mengandung makna tebakan (cangkriman). Akan tetapi pada dasarnya jawaban dari tebakan tersebut sudah ada dalam kalimat wangsalan itu tadi.

Hanya saja, penyampaian dari jawaban tersebut hanya secara tersirat. Contoh:

  • Sarung jagung, abot entheng ayo ditanggung (Sarung Jagung: Klobot).
  • Balung godong klopo, ono manten sing wis siap diarak (Balung godong klopo: Blarak).

4. Paribasan

Paribasan atau peribahasa adalah bebunyian yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kalimat yang tidak bisa dimaknai dengan makna sesungguhnya (tembung entar). Contoh:

  • Becik ketitik ala ketara: Yang baik tidak nampak, malah yang buruk yang terlihat. Dalam Bahasa Indonesia, peribahasa ini kurang lebih berbunyi ‘Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat’.
  • Cebol nggayuh lintang: Orang yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dia dapatkan. Dalam Bahasa Indonesia, peribahasa ini berarti ‘Pungguk Merindukan Bulan”.

Baca juga: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

5. Bebasan

Bebasan sama seperti paribasan, jika di Indonesiakan berarti peribahasa. Hanya saja, dalam bebasan yang dialih-artikan dalam arti konotasi adalah suatu keadaan atau perilaku dari seseorang yang mana seseorang tersebut juga ikut dialih artikan. Contoh:

  • Kocak Tondho Lukak: Orang yang banyak berbicara memiliki pengetahuan yang sempit (dalam Bahasa Indonesia sama saja dengan istilah tong kosong nyaring bunyinya).
  • Ngubak-ngubak banyu bening: Membuat kerusuhan di tengah kedamaian.

6. Saloka

Saloka adalah kalimat perumpamaan yang mengumpamakan perilaku seseorang dan orang tersebut juga turut dimasukkan dalam kalimat perumpamaan. Contoh:

  • Gajah ngidak rapah: Orang yang meng melanggar peraturannya sendiri atau orang yang menjilat ludahnya sendiri.
  • Lahan karoban manis: Orang yang cantik/tampan dan memiliki akhlak yang baik juga.

7. Purwakanthi

Purwakanthi adalah kalimat majemuk yang memiliki rima yang sam antara induk kalimat dengan anak kalimat. Contoh:

  • Kudu jujur yen kowe kepingin makmur
  • Kadung macak rasido dipapak
  • Sopo ngaji bakal aji
  • Bobot, bibit, bebet
  • Ajining diri ono ing Lathi

8. Parikan

Parikan adalah bebunyian yang tersusun dari dua kalimat. Kalimat yang pertama ditujukan untuk menarik perhatian, sedangkan kalimat kedua merupakan kalimat isi.

Dalam Bahasa Indonesia, parikan bisa diartikan sebagai pantun. Namun parikan hanya terdiri dari dua kalimat. Contoh:

  • Becak roda papat. Kadung macak rasido mangkat.
  • Kajik klithik, gula jawa. Luwih becik sing prasaja.
  • Pitik blorok, manak siji. Jare kapok, malah ndadi.

9. Pepindhan

Pepindhan adalah bunyi bunyian atau kalimat yang mengumpamakan seseorang dengan orang lain, seseorang dengan barang atau sebaliknya. Biasanya, kalimat atau bunyi bunyian ini disambung dengan kata seperti kaya, lir, pindha, kadya, pendhah.

Dalam Bahasa Indonesia, pepindhan bisa juga diartikan sebagai majas personifikasi. Hanya saja majas personifikasi hanya untuk mengumpamakan seseorang atau barang hidup dengan barang mati. Sedangkan pepindhan bisa sebaliknya. Contoh:

  • Tindak tanduke koyo Dewi Srikandhi.
  • Baguse kaya batahara Kamajaya tumurun.
  • Bedane kaya langit lan bumi.

Baca juga: Kerajaan Sunda Pajajaran, Kerajaan Tangguh ‘Pendamping’ Majapahit

Penggunaan Bahasa Rinengga

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Bahasa Rinengga jamak digunakan dalam acara-acara resmi atau pementasan seni. Beberapa acara pemerintahan di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur masih bisa dijumpai.

Bahasa Rinengga saat ini sudah jarang dipakai. Selain karena terkesan formal dan ningrat, susunan bahasanya memang lebih sulit daripada Bahasa Jawa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Jawa kromo atau Bahasa Indonesia sudah lebih sering digunakan.

Untungnya, Bahasa Rinengga ini masih diajarkan di sekolah dasar hingga menengah khususnya di tiga propinsi tersebut. Jika tidak, satu keindahan sastra di Nusantara ini sangat mungkin akan hilang seiring dengan perkembangan jaman.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *