Bahasa Rinengga: Keindahan Sastra Jawa yang Mulai Jarang Digunakan

  • Whatsapp
Bahasa Rinengga: Keindahan Sastra Jawa yang Jarang Digunakan
Sumber: Wikimedi Commons/Serat Yusuf di Masa Pakubuwono IV

RUANGNEGERI.com – Bahasa Rinengga, sebuah sub dari Sastra Jawa kini keberadaannya sangatlah jarang dan bahkan sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari. Bahasa ini hanya sering digunakan di saat pernikahan, seni, pertunjukan, upacara atau acara-acara dengan tradisi Jawa.

Salah satu contoh frase yang menggunakan Bahasa Rinengga adalah pada saat acara sambuta, seperti berikut:

Bacaan Lainnya

Para rawuh ingkang minulya, para pinisepuh pepundhen ingkang pantes sunurdursana, para pangembat pangembating praja satriyaning Nagari ingkang tuhu luhure budi, para manggalaning ngayuda ingkang hambeg mahambara, tuwih sagung para tamu kakung miwah putri, kaparenga kawula sowan ing ngarsa panjenengan sami, minangka talanging atur panjenenganipun bapak Sakur anggenipun kagungan kersa pinanganten…

Jika Anda pernah atau bahkan sering mendengar sambutan di atas, selamat. Anda telah mendengarkan orang yang berbicara menggunakan Bahasa Rinengga. Yakni sebuah sub-sastra Jawa yang umumnya digunakan untuk hajatan maupun di acara-acara resmi.

Meskipun Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa lokal dengan jumlah penutur aslinya terbanyak di Indonesia (sekitar 80 juta orang), namun hanya sedikit dari jumlah tersebut yang mendalami Sastra Jawa.

Masyarakat pada umumnya hanya mengerti tingkatan bahasa menurut penggunaannya. Seperti Bahasa Jawa ngoko atau kasar, Bahasa Jawa kromo madya atau bahasa yang tidak terlalu halus tapi juga tidak kasar dan Bahasa Jawa kromo alus. Bahasa Jawa kromo alus atau kromo inggil ini merupakan bahasa yang paling halus dan lembut.

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

Sedikit sekali orang yang mendalami penggunaan Bahasa Jawa dalam konteks non-komunikasi sehari-hari seperti dalam acara resmi maupun untuk keperluan jurnalistik. Bahasa Jawa memang dikenal sebagai bahasa yang memiliki tingkat kesulitan dan sastra yang tinggi.

Salah satu sub-sastra dalam Bahasa Jawa yang lambat laun hilang ini adalah Bahasa Rinengga, sebagaimana contoh di atas. Meskipun biasanya umum digunakan dalam acara pernikahan, namun saat ini juga sudah mulai jarang, khususnya di daerah perkotaan.

Sumber tulis berupa buku, majalah maupun surat kabat yang membahasnya pun terbilang jarang dan sulit ditemukan.

Pengertian Bahasa (Basa) Rinengga

Alifia Mutaram (2011), sebagaimana dikutip di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan bahwa pengertian Bahasa Rinengga adalah sebagai berikut:

Basa rinengga tegese iku basa kang kalebu susastra rinacik mawa basa kang endah. Endahing karangan kang narik kawigaten lan nyeingake, sarta basa kang edi peni.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *