Bagaimana Peran Durasi dan Latensi dalam Pendidikan Anak?

RUANGNEGERI.com – Durasi dan latensi memegang peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Kedua hal ini merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Antara durasi dan latensi terdapat sebuah hubungan yang sangat erat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), durasi mempunyai pengertian lamanya sesuatu berlangsung atau rentang waktu. Sedangkan latensi mempunyai pengertian sebagai suatu sifat sukar mengubah kebiasaan atau sifat laten.

Dari pengertian itu bisa dikatakan bahwa durasi dan latensi merupakan waktu yang diperlukan untuk menciptakan sebuah kebiasaan.

Fadjria Novari Manan, dkk (1994) dalam buku berjudul Pola Penggunaan Waktu Dalam Kehidupan Pelajar di Jawa Timur (Kasus Masuknya Media Elektronik) menjelaskan bahwa penggunaan waktu yang efektif dan efisien akan membuat pembelajaran yang ditugaskan dimanifestasikan dengan baik dan benar.

Pola penggunaan waktu dalam pendidikan disebutnya sangat berpengaruh pada hal-hal positif dan negatif. Oleh sebab itu, jika waktu yang ada tidak digunakan dengan baik, maka semua yang sudah berlalu menjadi sia-sia belaka.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

Hubungan antara Durasi dengan Latensi

Kebiasaan merupakan sebuah mesin yang berjalan secara otomatis dalam roda kehidupan. Sedangkan intisari pendidikan yang diperoleh anak dalam jangka panjang adalah menciptakan kebiasaan. Membentuk kebiasaan merupakan pemrograman pikiran bawah sadar.

Hartono Sangkanparan (2012) dalam buku berjudul Mencetak Superman Masa Depan: Revolusi Mindset, Peranan, & Cara Orang Tua/Guru dalam Mendidik Anak menyatakan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru.

Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama jika dimaksudkan untuk menghilangkan kebiasaan yang buruk. Pengulangan yang lebih banyak dibutuhkan untuk membentuk sebuah kebiasaan. Cara anak dalam membentuk kebiasaan ini akan berpengaruh pada masa depannya kelak.

Mohammad Syawaludin (2014) dalam tulisan berjudul Alasan ‘Talcott Parsons’ Tentang Pentingnya Pendidikan Kultur, menambahkan bahwa ketergantungan antara komponen masa (waktu), isi (materi) yang berupa jenis kegiatan, dan simbol-simbol yang dipergunakan dapat memberikan keterkaitan pada kekuasaan, kekayaan serta pengaruh (nilai, norma dan pengetahuan).

Penerapan konsep ini memiliki kesamaan dengan kehidupan makhluk hidup. Sehingga konsep ini dapat memahami semua sistem yang ada dalam hidup.

Durasi atau lamanya waktu mempunyai hubungan erat dengan latensi atau kebiasaan. Sebuah kebiasaan yang terbentuk tidak serta merta terbentuk begitu saja.

Semua kebiasaan yang ada tercipta melalui proses yang tidak sebentar. Waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah kebiasaan tidaklah sama. Ada yang sebentar, ada yang sangat lama. Seluruhnya tergantung dari kebiasaan sebelumnya yang dimiliki.

Dalam dunia pendidikan, kebiasaan merupakan hal mutlak yang harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak. Pembiasaan ini diharapkan mampu menciptakan putra putri bangsa yang mempunyai karakter atau kepribadian tangguh.

Apabila hal itu dilakukan secara terus menerus dan berulang, maka akan bisa membantu anak lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

Penggunaan waktu dalam kegiatan pembiasaan sangatlah menentukan hasil. Seorang anak tidak mungkin dapat menjadi seorang ahli seni atau matematika hanya dalam satu hari.

Untuk dapat mempunyai suatu keahlian tertentu, seorang anak tentu harus terbiasa dalam mengerjakan sesuatu. Pepatah bisa karena biasa sangatlah tepat untuk menggambarkan kebiasaan ini.

Setiap anak yang selalu melakukan kegiatan pembiasaan seperti membaca, menghafal dan lainnya tentu akan bisa lebih mudah melakukan hal tersebut dengan sendirinya.

Mereka dengan sendirinya akan melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaan, termasuk dalam bersikap.

Inti dari pendidikan adalah memanusiakan manusia. Apabila seorang anak yang telah selesai menempuh pendidikan pada akhirnya bersikap jauh dari layaknya manusia, maka itu artinya ada yang salah dalam pendidikannya.

Sangat penting bagi anak untuk menerima pendidikan mengenai cara bersikap memanusiakan orang lain. Hal ini bisa diperoleh melalui pembiasaan.

Waktu anak menempuh pendidikan tidaklah singkat. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah tingkat atas setidaknya dibutuhkan waktu selama 12 tahun.

Lamanya waktu tersebut, namun jika anak tidak dibiasakan melakukan sesuatu yang sesuai dengan tatanan, maka bisa jadi anak tersebut pada akhirnya akan menjadi sampah di masyarakat.

Untuk itulah, semakin lama waktu yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan baik, maka semakin mengakar pula kebiasaan tersebut.

BACA JUGA: Jangan Salah! Ini Perbedaan Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal

Peran Durasi dan Latensi dalam Pendidikan

Gernawati Siregar (2020) dalam buku berjudul Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: Perspektif Islam dan Implementasinya dalam Materi Sains, menjelaskan secara rinci terkait pembiasaan yang merupakan salah satu cara efektif pembelajaran paling penting untuk diterapkan dalam dunia pendidikan anak.

Hal itu disebabkan karena pada dasarnya, anak memang masih belum mengerti makna baik dan buruk. Sehingga di fase usia ini harus diisi dengan kebiasaan tingkah laku, keterampilan dan pola pikir tertentu.

Sunarto Natsir (2020) melalui buku berjudul Menguak Rahasia Pendidikan Jepang, menyebutkan bahwa pola kebiasaan yang diterapkan bersifat behaviouristic. Yakni terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan kebiasaan tersebut.

Kegiatan pembiasaan yang dilakukan sejak anak berada di tingkat sekolah dasar dianggap lebih efektif karena ditanamkan sejak dini.

Durasi dan latensi mempunyai hubungan yang sangat berkaitan erat dalam pendidikan. Dalam dunia pendidikan, pembiasaan haruslah ada agar anak didik dapat mempertahankan dan memperbaiki pola kebiasaan yang ada.

Bagaimana cara yang ditempuh agar nilai-nilai pendidikan yang ada dapat cepat diterima dan diserap oleh peserta didik menjadikan kegiatan pembiasaan mendapat perhatian besar.

Kegiatan ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal si anak, entah pengaruh negatif atau positif. Lingkungan keluarga juga mempunyai andil yang sangat besar dalam kehidupan anak.

Seorang anak sejak lahir hingga dewasa kebanyakan berada dalam lingkungan keluarganya. Durasi kegiatan pembiasaan yang didapat anak dari lingkungan keluarga memerlukan waktu yang lama. Karena itulah, hal itu juga mempengaruhi pendidikan anak kedepannya.

Durasi dan latensi membawa peran yang sangat penting dalam pendidikan seorang anak. Akan sulit bagi seorang anak bisa menjadi pribadi yang kuat begitu saja tanpa bimbingan dari keluarga khususnya.

Anak akan terlihat bagaimana karakter yang dimilikinya sejak usia dini. Pada saat inilah anak dapat diarahkan untuk melakukan sebuah kegiatan pembiasaan yang lebih baik dengan bimbingan orang tua.

Misalnya saja ada anak yang terbiasa dilayani oleh orang tua dan menjadi manja, maka kegiatan pembiasaan yang perlu diterapkan adalah yang membuat anak menjadi lebih berani dan mandiri.

Anak bisa dibiasakan untuk mengerjakan semuanya sendiri dengan dorongan yang positif tentunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *