Baby School VS Daycare, Mana yang Lebih Baik?

RUANGNEGERI.com – Pendidikan anak menjadi fokus utama para orang tua, bahkan sejak usia dini. Banyak orang tua yang mungkin masih mempertimbangkan antara baby school dengan daycare untuk buah hati mereka.

Keduanya memiliki plus dan minus masing-masing, terutama dalam hal pengajaran. Selain itu, kedua penitipan juga ini menerapkan standar usia untuk setiap peserta atau bayi yang diterima.

Sekilas Tentang Daycare dan Baby School

Secara garis besar, daycare atau tempat penitipan anak (TPA) ditujukan bagi anak berusia 6 minggu – 4 tahun, sedangkan baby school dikhususkan untuk bayi usia 3 – 5 tahun.

Istilah baby school sendiri seringkali diartikan sebagai program pre-school atau pra sekolah bagi balita. Anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum dan kriteria yang telah ditetapkan oleh pre-school.

Di dalam buku Early Childhood Education Today, George S. Morrison (1976) menyatakan usia ideal anak pra sekolah adalah 3 – 5 tahun. Program ini akan mempersiapkan anak untuk memasuki sekolah formal dengan kurikulum tertentu.

Morrinson kemudian menambahkan bahwa pra sekolah justru memberi efek positif bagi anak, terutama perihal kesuksesan di masa mendatang. Anak yang mengikuti pre-school nyatanya tumbuh sebagai insan unggul, sebab pra sekolah menanamkan pondasi yang kuat bagi mereka.

Hal ini memperjelas posisi baby school vs daycare sebagai pilihan. Baby school atau pre-school menawarkan program terarah yang disesuaikan dengan kondisi anak. Berbeda dengan pra sekolah, daycare justru lebih berfokus pada pembelajaran melalui permainan. Tak ada kurikulum yang menjadi standar utama setiap programnya.

Berbeda dari pra sekolah, daycare menurut Patmonodewo adalah sarana pengasuhan anak secara berkelompok yang dilakukan pada jam kerja. Kebanyakan orang tua yang menitipkan bayinya di daycare adalah para pekerja.

Secara harfiah, keduanya menawarkan program pengasuhan yang berbeda untuk anak. Daycare hadir sebagai alternatif pengasuhan kepada anak saat orang tua bekerja. Meskipun demikian, daycare tidak berperan aktif menggantikan posisi utamanya dalam mengasuh bayi secara penuh.

Di Indonesia, daycare mengacu pada pendidikan PAUD informal. Beberapa daycare yang tersedia mengambil alih fungsi PAUD yang dikelola layaknya sekolah. Tenaga pengasuh di daycare tak harus mengantongi sertifikat khusus.

Daycare menitikberatkan penjagaan, perawatan dan pengasuhan bayi selama orang tua bekerja atau pergi. Dari sini, terlihat jelas perbedaan mendasar antara baby school vs daycare.

Perbedaan jam operasional pun ditemukan, dimana daycare beroperasi dari pagi hingga sore hari, sementara baby school hanya buka saat kelas diadakan. Pada hari libur, daycare biasanya masih menawarkan jasa pengasuhan, sementara pre-school tak demikian.

Walaupun cenderung berbeda, pra sekolah dan TPA memiliki andil besar dalam pembentukan karakter anak. Melalui kegiatan bermain dan belajar, anak dipertemukan dengan teman sebaya lainnya.

Interaksi tersebut dapat membantu anak tampil lebih percaya diri dan toleran terhadap sesama. Kehidupan sosial awal mereka dengan lingkungan justru dimulai dari tempat bermain seperti ini.

BACA JUGA: Jangan Salah! Ini Perbedaan Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal

Kelebihan Masing-Masing Program

Menilik perbedaan antara baby school vs daycare, fungsi serta kebermanfaatan keduanya harus dibahas lebih jelas. Orang tua harus melihat perspektif lebih luas terkait program dan pola bermain yang ditawarkan. Adapun tujuan serta manfaat yang didapatkan bayi dari pengasuhan di daycare adalah sebagai berikut:

1. Terbentuknya Basic Trust

Erikson, sebagaimana dikutip oleh Yulinda Hamdiani, dkk (2016) dalam tulisan berjudul Layanan Anak Usia Dini/Pra-Sekolah dengan ‘Full Day Care’ di Taman Penitipan Anak”, menyatakan bahwa kebutuhan anak pada usia awal berkaitan dengan biologis dan psikologis.

Anak butuh orang tua untuk memenuhi kebutuhan mendasar, seperti makan, minum, rasa cinta, mengasihi hingga urusan sandang. Ketika orang tua bekerja, kebutuhan tersebut mengalami pergeseran, sebab figur mereka juga jelas akan tergantikan.

Alasan ini menjadikan kehadiran pengasuh menjadi penting. Tenaga pengasuh di daycare harus paham keterlibatan mereka dalam pola pengasuhan konstan dari orang tua.

Dengan begini, anak tak merasa disisihkan atau diabaikan begitu saja. Kepercayaan hanya terbentuk saat anak merasa semua kebutuhan dirinya terpenuhi. Ketika terjadi sebaliknya, basic trust tak akan terjadi, malah sebaliknya.

2. Optimalisasi Aspek Kognitif, Fisik dan Sosial

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Hamdiani kemudian menegaskan adanya peningkatan kemampuan kognitif, fisik serta sosial dan emosional pada anak di daycare. Pasalnya, anak dilatih dan didorong untuk mengoptimalkan seluruh indera serta kemampuan yang dimiliki. Dari usia balita, anak diajak untuk berempati dan belajar bertanggung jawab.

Mereka belajar cara mengatasi konflik dengan orang lain di sekitarnya. Kemampuan motorik dasar, seperti menggenggam, menggunting serta sains sederhana jauh lebih mumpuni.

Sebagai pembanding, orang tua tentu harus mengetahui nilai positif dari pre-school. Program dan manfaat yang ditawarkan menjadi bahan acuan. Ini untuk mempermudah para orang tua dalam memilih baby school vs daycare yang masih diperdebatkan.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

3. Mendukung Tumbuh Kembang

Usia pre-school atau baby school merupakan usia penting dalam tumbuh kembang anak. Rasa ingin tahu yang tinggi mendorong anak untuk melakukan hal baru secara mandiri. Tak hanya itu, anak pun jauh lebih kritis dan tumbuh menjadi pribadi yang penuh inisiatif.

Jika anak tak mendapat pengarahan dan pengajaran yang tepat, kemungkinan tumbuh menjadi pribadi tertutup dan penakut pun sangat besar. Alasan ini pula yang menjadikan pra sekolah sebagai tempat yang tepat untuk anak belajar sekaligus bermain.

4. Mengembangkan Kemampuan Belajar

George S. Morrison (1976) menyatakan program pra sekolah bertujuan untuk mengembangkan serta mendukung kemampuan belajar pada anak. Hal ini dikarenakan program pra sekolah mengintegrasikan pendidikan akademik serta sosial dalam proses belajar mengajarkan.

Bayi yang ikut program pra sekolah dipersiapkan untuk menggali kemampuan mereka sebelum mengikuti sekolah kanak-kanak formal. Selain itu, anak pun dilatih untuk menghadapi masalah sosial yang terjadi di kemudian hari.

Persiapan sosial dan emosional sangat penting agar anak tak merasa minder. Baby school vs daycare memang menawarkan program pendidikan, pengasuhan, perawatan dan pengajaran yang berbeda.

BACA JUGA: Anak Cerdas Berbakat: Bagaimana Solusi Pendidikan dari Keluarga?

5. Melatih Kemampuan Kognitif

Pada dasarnya, program baby school mempersiapkan serta menggali potensi akademik para peserta didiknya. Ditahap awal, aspek psikomotorik menjadi fokus utama. Program belajar terintegrasi permainan ini membuat anak jauh lebih santai dan menikmati.

Selain pelatihan psikomotorik, anak juga diperkenalkan pada angka dan huruf. Mereka juga mulai belajar membaca dan berhitung, meskipun dengan cara sederhana.

Paparan di atas menjelaskan perbedaan serta kelebihan dari masing-masing program. Baby school vs daycare mesti mempertimbangkan kualitas dan kredibilitas penyelenggara. Orang tua tetap harus lebih peduli dan berhati-hati dalam memilih, supaya tumbuh kembang anak lebih optimal.

Disamping itu, anak bisa menjadi pribadi unggul seperti yang diharapkan. Pembentukan karakter anak ditentukan dari pendidikan serta pola pengasuhan dan keterlibatan orang tua saat anak berusia dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *