Megenal Asuransi Syariah: Pengertian, Skema dan Keuntungannya

RUANGNEGERI.com – Asuransi dewasa ini banyak dinilai sebagai hal penting bagi setiap orang dengan berbagai tujuan. Karena dengan adanya asuransi, maka berbagai hal yang tidak terprediksi diyakini akan dapat diatasi dengan cepat.

Namun, sekarang terdapat asuransi bagi Anda yang ingin keamanan tetapi menginginkan skema yang banyak diyakini tidak melanggar syariat agama, khususnya Islam. Namun demikian tidak tertutup untuk non-Muslim juga.

Keberadaannya membuat konsumen asuransi bisa memilih sesuai dengan preferensi masing-masing. Tentunya terdapat perbedaan antara asuransi syariah dengan konvensional.

Ulasan berikut membahas tentang pengertian umum yang perlu dimengerti dengan baik agar dapat memilih asuransi sesuai kebutuhan masing-masing.

Baca juga: Cara Memilih Asuransi yang Baik Agar Sesuai Kebutuhan

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi konvensional dikenal dengan konsep transfer of risk (transfer risiko), artinya risiko pemegang polis dioper kepada perusahaan asuransi. Agar risiko tersebut ditanggung perusahaan, maka pemegang polis akan membayar sejumlah uang yang dikenal dengan premi.

Ketika pemegang polis terkena problem yang tertuang dalam akta polis, maka perusahaan akan menanggulangi semua biaya yang ada.

Sedangkan asuransi syariah memakai konsep sharing of risk, di mana beban klaim akan ditanggung oleh perusahaan asuransi serta pemegang polis lainnya.

Jadi, secara tidak sadar para pemegang polis asuransi syariah tidak hanya menjamin masa depannya, tetapi juga peserta lainnya. Hal ini dapat dilakukan karena terdapat pembagian dana pada asuransi syariah.

Baca juga: Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

Skema Tabarru di Asuransi Syariah

Pada asuransi konvensional, semua dana premi yang masuk akan dikumpulkan dalam satu pool dana yang disimpan dalam rekening perusahaan. Masalahnya adalah dana yang masuk dianggap menjadi milik perusahaan karena perusahaan berhak mengelolanya sesuka hati.

Pengelolaan ini tidak hanya membayar klaim para pemegang polis, tetapi juga menginvestasikannya kembali pada instrumen-instrumen investasi. Peluang investasi perusahaan asuransi sangat besar, karena jangka waktu asuransi sangat panjang (misal 10-30 tahun atau lebih).

Jadi, dana premi yang diakumulasikan sangatlah besar. Jika dana tersebut diinvestasikan dan menguntungkan maka perusahaan asuransi akan untung besar. Biasanya keuntungan ini akan dinikmati sendiri oleh pihak perusahaan.

Baca juga: Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Kecuali Anda ikut unit link di mana terdapat asuransi plus investasi. Namun, banyak masalah dalam unit link tersebut. Contohnya saja, jika investasi mengalami kerugian maka peserta polis akan menerima kerugian yang sama sehingga pembayaran premi dapat meningkat sewaktu-waktu.

Sekarang, bagaimana dengan asuransi syariah? Setidaknya, dari sisi konsep asuransi syariah lebih aman dari asuransi konvensional apalagi unit link. Mengapa?

Karena dari awal pihak perusahaan telah memisahkan dana yang dibutuhkan. Jadi, ketika Anda membuka polis asuransi syariah. Maka, premi yang dibayar akan dibagi ke dalam dua bentuk dana, yaitu:

1. Dana Tabarru

Pengertian tabarru secara sederhana adalah diartikan sebagai tolong-menolong. Jadi, dana tabarru ini diambil dari persentase premi yang dibayarkan (contoh: 40 persen) dan terpisah dengan dana investasi serta tidak boleh diganggu gugat. Karena tujuannya adalah membantu para sesama pemegang polis.

Pihak perusahaan hanya menjadi tempat titipan dana dan mengalokasikannya kepada nasabah yang mengajukan klaim. Keberadaan dana yang terpisah ini tentu sangat membantu.

Hal itu karena pengajuan klaim bisa lebih cepat karena perusahaan tidak memiliki alasan “tidak punya dana untuk menalangi klaim nasabah.”

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

2. Dana Investasi

Selain dana tabarru, perusahaan asuransi syariah juga membagi premi yang dibayarkan sebagai dana investasi (misal 60 persen). Jadi, ketika nasabah membayar premi bulanan, maka perusahaan asuransi secara otomatis membagi dana tersebut ke akun tabarru dan investasi.

Jika dana tabarru tidak boleh diotak-atik oleh perusahaan, maka dana investasi diperbolehkan dengan batasan tertentu. Seperti:

  • Dana yang diinvestasikan harus pada perusahaan atau proyek yang terbebas dari hal yang haram atau dilarang dalam agama
  • Harus terhindar dari hal yang berbau judi, tidak jelas (gharar), suap dan hal terlarang lainnya.

Pastinya perusahaan asuransi syariah sangat mengerti akan hal ini. Terlebih terdapat Undang-undang yang berlaku tentang asuransi syariah. Terlebih adanya pengawasan dari DSN MUI (Dewan Syariah Nasional MUI) yang akan mengawasi operasional serta produk asuransi apakah sesuai syariat Islam atau tidak.

Dana investasi ini akan dikelola sebaik mungkin agar dihasilkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh akan dibagikan antara perusahaan dengan nasabah. Jadi, para pemilik polis asuransi syariah tidak perlu heran jika nanti melihat saldo asuransinya bertambah sewaktu-waktu.

Apabila terjadi kerugian maka hal ini dikenakan kepada perusahaan serta nasabah. Akan tetapi, yang berkurang hanya dana investasi sedangkan dana tabarru tetap normal.

Jadi, asuransi Anda tetap berjalan normal walaupun perusahaan mengalami untung atau rugi dalam investasinya.

Baca juga: Mengenal Cryptocurrency dan Bitcoin, Instrumen Investasi di Era Digital

3. Klaim

Pengajuan pada asuransi syariah dan asuransi konvensional kurang lebih sama. Jika terjadi problem yang sesuai dengan ketentuan pada klausul asuransi maka pemegang polis segera mempersiapkan dokumen dan menghubungi perusahaan asuransi.

Jika Anda bingung, maka bertanyalah kepada perusahaan asuransi tersebut agar dokumen yang dibutuhkan dapat dilengkapi dengan cepat. Biasanya proses ini akan memakan waktu paling lama 7 hari kerja.

4. Penarikan Dana

Kasus yang sering terjadi pada asuransi adalah gagal membayar premi sehingga keikutsertaan asuransi dianggap hangus oleh perusahaan. Nah, ketika hal ini terjadi nasabah berusaha meminta dananya kembali.

Namun, hal ini tidak diindahkan oleh perusahaan karena dianggap hangus dan menjadi milik penuh perusahaan. Jika masa waktu asuransi habis maka dana yang ada akan kembali ke nasabah. Akan tetapi, hal ini biasanya diatur kembali oleh pihak perusahaan dan bisa saja aturan ini berbeda-beda.

Pada asuransi syariah tidak demikian. Jika terjadi gagal bayar premi maka keanggotaan asuransi otomatis berhenti. Namun, dana yang dibayarkan tidak hangus begitu saja. Setidaknya dana investasi yang ada akan kembali ke rekening masing-masing.

Sedangkan dana tabarru akan tetap tinggal. Dana ini harus diikhlaskan karena tujuannya untuk membantu pemegang polis lainnya.

Ketentuan gagal bayar premi di atas pada asuransi syariah juga berlaku jika batas waktu polis telah usai. Dana yang kembali hanyalah dana investasi, sedangkan dana tabarru tetap tinggal.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

Keuntungan Asuransi Syariah

Secara keseluruhan, terdapat beberapa keuntungan yang dapat saya sarikan pada asuransi syariah ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sesuai aturan syariat agama Islam
  • Pemegang polis tidak akan rugi layaknya pada asuransi konvensional
  • Polis jelas dan bisa ditanyakan kepada perusahaan karena data dan informasi yang ada transparan
  • Pembagian dana tabarru dan dana investasi membuat pemegang polis lebih tenang karena keduanya sangat jelas, dan keuntungan lainnya.

Nah, itulah sekilas tentang asuransi syariah baik itu skema serta keuntungannya. Setelah mengetahui hal ini diharapkan Anda bisa memilih asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ahmad Azhari Pohan

Alumnus S1 Ekonomi Syariah di Institut Pertanian Bogor dan Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bidang minat Ekonomi Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *