Aroma Karsa: Mendeskripsikan Aroma dalam Prosa

RUANGNEGERI.com – Salah satu novel karya Dee Lestari ialah Aroma Karsa. Novel yang berjudul Aroma Karsa ini memiliki vibe atau nuansa yang dapat dibilang mirip dengan serial novel karya Dee Lestari sebelumnya. Genre yang diusung masih sama, yaitu fiksi petualangan.

Novel dengan judul Aroma Karsa ini menceritakan tentang Jati Wesi, yang tumbuh di TPU—yang sekarang berganti menjadi TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu)—Bantar Gebang.

Jati Wesi memiliki hidup yang berat dengan bekerja sebagai tukang kebun merangkap peracik parfum oplosan di Toko Parfum Attarwala.

Jati Wesi yang terbiasa meracik merk-merk parfum terkenal, dia meracik sendiri produk parfum mahal dari perusahaan Raras Prayagung.

Raras Prayagung merupakan pengusaha yang telah memiliki banyak anak perusahaan, termasuk perusahaan parfum. Produknya diduplikasi secara ilegal oleh toko parfum racikan di Bantar Gebang, yaitu Attarwala. Peracik dari parfum yang diduplikasi secara ilegal tersebut adalah Jati Wesi.

Karena racikan Jati Wesi inilah Raras Prayagung memaksanya untuk ikut dengannya atau membayar denda atas pembuatan produk ilegal milik Raras. Dari sinilah jungkir-balik dunia Jati Wesi dan seluruh tokoh dalam novel ini dimulai.

Jati Wesi dikenal oleh masyarakat Bantar Gebang dengan sebutan Si Hidung Tikus. Nama tersebut disematkan pada Jati Wesi karena penciumannya yang tajam.

Tidak hanya tajam, Jati juga dapat membedakan bau serta mengurai bau-bau tersebut menjadi benang-benang terpisah, walaupun bau tersebut telah bercampur aduk. Kemampuan ini didengar pula oleh Raras dan membuat Raras lebih tertarik kepada Jati.

Intensi Raras terhadap Jati semakin tinggi. Hal tersebut memberikan Jati kesempatan untuk datang ke kediaman Raras dan bertemu dengan Tanaya Suma. Tanaya Suma merupakan anak tunggal dari Raras yang juga memiliki kelebihan seperti Jati. Jati dan Suma memiliki kelainan, yaitu sama-sama menderita kelainan hiperosmia.

Hiperosmia adalah kelainan yang membuat penderita memiliki  kesensitifan yang amat terhadap bau atau aroma. Lama-kelamaan, Jati menjadi terobsesi kepada Tanaya Suma karena aroma Suma yang tidak dapat diinterpretasikan oleh Jati.

Di balik tragedi Jati yang dibawa paksa oleh Raras, ternyata terdapat obsesi Raras terhadap Bunga yang bernama Puspa Karsa. Raras terobsesi untuk menemukannya. Dengan membawa Jati, Raras ternyata memanfaatkannya.

Dee Lestari menghidupkan novel ini tidak hanya melalui imajinasi visual. Imaji olfaktori atau penciuman juga turut andil dalam proses pembangunan novel ini menjadi satu kesatuan yang magis. Pembaca yang memiliki pengetahuan olfaktori yang kaya akan dapat dengan mudah menangkap deskripsi-deskripsi dari indera penciuman Jati dan Tanaya Suma.

Alur dalam novel ini dibangun secara epic dan mindblowing dengan menerapkan latar Bantar Gebang, perusahaan parfum, hingga Gunung Lawu. Terdengar sangat kontras, bagaimana Bantar Gebang yang memiliki bau sampah disandingkan dengan toko parfum racikan Attarwala.

Bagaimana Jati dapat mencium dengan tanpa bias antara aroma sampah dan minyak esensial serta fragrance dari aroma-aroma parfum.

Jati yang terobsesi dengan aroma Tanaya Suma yang menurutnya indah. Raras yang terobsesi dengan perusahaannya dan dengan bunga Puspa Karsa yang konon hanya merupakan sebuah mitos.

Raras ingin menemukan bunga tersebut dengan memanfaatkan Jati dan Tanaya. Raras akhirnya memutuskan untuk membentuk tim pencarian atau ekspedisi untuk mencari bunga Puspa Karsa di Gunung Lawu.

Alur yang disajikan secara maju-mundur membuat pembaca menebak-nebak apa yang akan terjadi dan apa yang sebelumnya pernah terjadi. Membuat pembaca tidak kuasa berhenti untuk membaca novel Aroma Karsa ini.

Dee Lestari bahkan dapat membawa pembaca (terutama saya) pada alur novel Aroma Karsa ini. Dari narasi dan dialog dalam novel Aroma Karsa, pembaca akan merasa diri Jati merasuk ke dalam diri pembaca.

Dee Lestari menciptakan deskripsi dengan memanfaatkan dominasi antara imaji penciuman dan visual. Kemagisan, keindahan, dan bau-bauan sekitar dinarasikan dengan detail dan menggugah rasa penasaran. Saya yakin, pembaca tidak kuasa berhenti untuk membaca novel Aroma Karsa.

Perwatakan

Perwatakan dari tokoh di novel Aroma Karsa sangat hidup. Mulai dari paragraf pertama, Dee Lestari mengajak pembaca untuk mendalami ruang hidup dari para tokoh di novel ini.

Karakter Jati Wesi yang sibuk dengan pekerjaannya dan indera penciumannya yang sangat tajam, digambarkan oleh Dee Lestari dengan baik.

Berhubungan dengan bagaimana aroma memantik emosi dan ingatan manusia. Di dalam suatu aroma, terdapat memori yang mengingatkan manusia tentang kenangan entah kenangan apapun itu.

Pasti kalian pernah berjalan di suatu tempat kemudian mencium aroma parfum yang terasa familiar dan merasakan suatu emosi, entah sedih, sesak, atau damai?

Ya, seperti itu aroma bekerja pada manusia dan ditumpahkan Dee Lestari dalam novel Aroma Karsa ini.

Penokohan dan pembentukan karakter Raras Prayagung sebagai Alpha Female atau Wanita Pemegang Kuasa dideskripsikan dengan natural. Raras seorang pengusaha dengan masa lalu yang sarat akan cerita keraton digambarkan sebagai perempuan yang percaya dengan mitos.

Mitos yang berkembang pada masyarakat keraton, membuat Raras ingin menemukan kebenaran atas mitos tersebut.

Tidak hanya sekadar mitos, Raras juga membawa barang bukti dari adanya mitos tersebut. Adanya Tanaya Suma yang merupakan anak perempuannya satu-satunya merupakan bukti dari adanya mitos tersebut. Ditambah dengan keberadaan Jati Wesi.

Raras Prayagung yang merupakan keluarga dari pelayan keraton, sejak kecil familiar dengan dongeng dan mitos-mitos diceritakan di lingkup keraton.

Raras yang sedari kecil berkutat dengan hal tersebut mempercayai dan menjadi terobsesi dengan keberadaan mitos-mitos tersebut. Dia percaya dan yakin karena adanya tanda-tanda dari adanya mitos tersebut di sekelilingnya.

Membiarkan hidupnya berada di bawah bayang-bayang obsesinya terhadap mitos bunga Puspa Karsa, Raras menyiapkan banyak hal. Raras Prayagung dengan kekayaan dan prestisnya mempersiapkan ekspedisi untuk menemukan Puspa Karsa.

Jati Wesi, Raras Prayagung, dan Tanaya Suma, selain ketiga tokoh tersebut, ada banyak tokoh lain yang turut andil dalam pembentukan cerita di dalam novel Aroma Karsa ini. Tokoh lainnya, antara lain: Arya Jayadi, Iwan Satyana, Anung, Khalil Batarfi, Sinom, Nurdin Suroso, Pucang, Kapten Jindra, dan beberapa tokoh lainnya.

Seluruh tokoh yang ada di dalam novel ini sangat hidup, mereka mempunyai peran masing-masing di dalam novel Aroma Karsa ini. Interaksi yang dilakukan oleh seluruh tokoh dramatis sekaligus natural dalam satu waktu.

Gunung Lawu dan Mitos yang Melingkupinya

Gunung Lawu merupakan latar tempat paling krusial di dalam novel ini. Walau demikian, latar gunung Lawu baru ditunjukkan pada pertengahan alur hingga akhir. Semua obsesi dan mitos dalam novel ini dititikberatkan dan bermula dari Gunung Lawu.

Gunung Lawu merupakan salah satu gunung di Pulau Jawa yang memiliki banyak mitos dan cerita. Di dalam novel Aroma Karsa, Gunung Lawu merupakan latar awal mula mitos tentang bunga Puspa Karsa. Gunung Lawu digambarkan sebagai latar atau lokasi tanah Dwarapala, tanah yang penuh dengan misteri.

Saya tidak tahu sedalam apa Dee Lestari melakukan riset sebelum menulis novel ini. Yang jelas, penggambaran atau pencitraan Gunung Lawu dalam novel ini sangat detail.

Mitos dan misteri yang diangkat di novel ini juga terasa pas dengan cerita tentang Gunung Lawu. Terasa sangat relate dengan cerita yang ada di novel ini.

Penggambaran rute yang ditulisnya sangat detail, saya rasa orang yang tidak pernah mendaki rute Gunung Lawu tidak akan dapat menggambarkannya. Menggambarkan cerita rakyat dan mitos di gunung tersebut juga terasa fit di dalam novel tersebut. Minim akan miss, alias nyambung aja, gitu.

Cerita rakyat yang sangat familiar di Gunung Lawu adalah harus memiliki tujuan yang bersih jika ingin naik atau mendaki ke Gunung Lawu. Dasar cerita rakyat inilah yang dipegang teguh oleh penulis novel Aroma Karsa.

Jika ada seseorang atau sekelompok orang yang berniat tidak baik di Gunung Lawu, maka ada diikuti oleh penunggu Gunung Lawu dan menyesatkan agar tidak bisa kembali atau bahkan mencelakainya.

Diksi

Diksi atau pilihan kata yang digunakan oleh Dee Lestari terasa pas. Dee dapat menempatkan pilihan kata formal, saintifik, santai dan lain-lain pada situasi dan konteks yang tepat.

Seperti pada deskripsi aroma yang dicium oleh Jati, Dee memilih diksi yang merepresentasikan bagaimana bau tersebut dalam indera penciuman Jati.

Untaian kata secara saintifik digunakan oleh Dee saat mendeskripsikan bahan baku aroma. Diksi yang digunakan berupa istilah-istilah kimia yang digunakan untuk pembuatan parfum. Dee sangat bervariasi dan terasa pas dengan deskripsinya.

Oke, untuk penilaian. Saya akan memberikan penilaian 10 dari 10 alias perfect! Semua unsur yang dibangun dalam novel Aroma Karsa sangat hidup dan mencapai satu kesatuan utuh yang dapat dibilang sempurna.

Tidak perlu penilaian dari saya, bahkan novel ini memiliki pesona tersendiri bagi para pembaca yang mencintai novel dengan genre ini.

 

Judul            : Aroma Karsa

Penulis         : Dee Lestari

Penerbit       : Mizan Media Utama

Terbit           : Maret 2018

Halaman      : 724 halaman

ISBN             : 9786022914631

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *