Apa itu Rupiah Digital? Penjelasan Lengkap Uang Rupiah Digital!

  • Whatsapp
uang rupiah digital
Photo by bady abbas on Unsplash

Di masa depan akan merencanakan kerja sama mengenai pembentukan sistem pembayaran digital yang dikeluarkan oleh bank sentral dengan mengeluarkan central bank digital currency (CBDC). Terkait rencana CBDC tersebut terdapat pula gagasan mengenai penerbitan rupiah digital.

Forum G20 yang merupakan forum negara-negara dengan ekonomi besar akan membahas persoalan uang digital dan CBDC yaitu terkait beberapa hal:

Bacaan Lainnya

Pertama, persoalan mengenai prospek CBDC sebagai alat pembayaran legal pada suatu negara.

Kedua, mengenai kinerja CBDC yang mampu memberikan support pada kewenangan bank sentral secara moneter dalam sistem keuangan, pembayaran, dan ekonomi.

Ketiga, bagaimana mekanisme CBDC dapat memberikan support untuk mewujudkan inklusi sistem ekonomi dan keuangan, kerja sama antar lembaga di sistem pembayaran, termasuk kerja sama pembayaran menggunakan CBDC yang bersifat lintas batas.

Gagasan mengenai pembiayaan secara berkelanjutan mengenai uang digital mampu memberikan dukungan pada sektor riil yang lebih baik. Serta bagaimana sektor keuangan mampu menunjang ide mengenai inklusi ekonomi dan keuangan bagi usaha mikro kecil dan menengah.

CBDC sendiri nantinya akan terdapat tiga model usaha, yaitu:

  • Model pertama yaitu indirect CBDC. Tagihan atau klaim yang ditujukan bagi nasabah dilakukan pada pihak perantara, yaitu bank komersial, sedangkan bank sentral hanya memiliki peran untuk melakukan pembayaran ke bank komersial.
  • Model kedua adalah direct CBDC. Nasabah atau bank komersial dapat melakukan permintaan tagihan atau klaim  secara langsung pada bank sentral.
  • Model ketiga merupakan hybrid CBDC. Bank sentral menerima klaim tagihan, tetapi bank komersial melakukan pembayaran atas tagihan tersebut.

Latar Belakang Kemunculan Uang Rupiah Digital

perkembangan aset kripto menjadi peringatan bagi pemerintahan negara-negara, yang telah lama memegang kendali dalam penerbitan mata uang fisik. Hal ini karena muncul kekhawatiran atas ancaman berkurangnya kuasa kendali tersebut sehingga mendorong gagasan terciptanya. CBDC

Digital Currency pada beberapa waktu terakhir menjadi perhatian bagi Bank Sentral secara internasional yang membahas mengenai kebijakan moneter negara dan sistem keuangan secara umum. Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia melakukan pendalaman dan penelitian secara terus-menerus untuk menyikapi perkembangan digital currency tersebut.

Pertimbangan tersebut meliputi jenis teknologi yang ada, sistem mata uang digital atau rupiah digital, dan mengenai aspek keamanan dalam transaksinya. Karena akan ada risiko jika kehadiran digital currency tidak memiliki persiapan yang baik. Salah satunya adalah tidak adanya data yang menunjukkan flow uang yang beredar sehingga fungsi pengawasannya nantinya tidak terkendali.

Jika Bank Indonesia tidak mampu mengontrol aliran uang itu dengan baik, maka dapat memiliki dampak pada supply dan demand dari konsumsi masyarakat yang salah satunya nanti dapat menyebabkan terjadinya inflasi.

Uang yang berasal dari bank sentral adalah satu-satunya uang yang nilai nominalnya terjamin. Ketika mata uang jenis lain harus bergantung pada konvertibilitas, karena adanya risiko operasional, kredit, likuiditas, dan pasar. Risiko-risiko ini dapat berkurang melalui pengamanan berbentuk kebijakan publik, seperti pengawasan keuangan, persyaratan modal minimum dan penjaminan simpanan.

Meskipun ada kemungkinan bahwa di masa depan uang dapat berkembang secara tidak terbatas. Beberapa ahli memprediksi bahwa kombinasi antara aset kripto, stablecoin, mata uang digital bank sentral, dan sistem pembayaran digital lainnya akan menyebabkan matinya uang kartal.

Namun, dengan satu teknologi saja tidak akan menyusul perkembangan atau status uang kartal pada saat ini. Meskipun Stablecoin memiliki peluang yang baik untuk menggantikan uang kartal, tetapi mungkin memiliki jangkauan terbatas dan aset kripto terlalu volatil sehingga CBDC harus dapat memiliki akses yang luas dan mudah.

Perbedaan Uang Digital Rupiah dengan Aset Kripto

Gagasan mata uang digital bank sentral bermula dari adanya aset kripto yang merupakan mata uang digital yang teramankan oleh teknologi kriptografi. Hal ini membuat aset kripto tersebut sulit bagi pihak-pihak tertentu untuk menduplikasi atau mengubahnya.

Karena aset kripto adalah jaringan terdesentralisasi yang didasarkan pada teknologi blockchain. Hal tersebut merupakan suatu buku besar yang aman dan tidak sembarang pihak dapat mengubahnya sehingga memungkinkan untuk melacak setiap transaksi.

Hal Ini juga memungkinkan transfer tanpa batas dan secara langsung, tanpa adanya perantara, serta mampu menyederhanakan implementasi kebijakan moneter dalam sistem perekonomian.

Ekosistem aset kripto juga memberikan gambaran umum tentang sistem mata uang alternatif di mana peraturan yang rumit tidak menentukan regulasi dari setiap transaksi. Contohnya adalah Bitcoin yang berdiri pada 2009 sebagai salah satu aset kripto paling populer.

Transaksi di dalam bitcoin tidak melibatkan koin fisik yang benar-benar berpindah tangan. Sebaliknya, transaksi tersebut berlangsung dan tercata pada buku besar yang terenkripsi, yang siapa saja dapat mengaksesnya. Sehingga proses penambangan memungkinkan semua transaksi terverifikasi tanpa adanya pemerintah atau bank yang dapat mengintervensi Bitcoin.

Meskipun ekosistem aset kripto saat ini tidak mengancam infrastruktur keuangan yang ada. Tetapi hal tersebut memiliki potensi untuk mendisrupsi sistem ekonomi yang ada. Beberapa ahli percaya bahwa langkah bank sentral untuk merancang dan mengembangkan mata uang digital tersendiri akan menjadi sebuah langkah untuk mencegah kemungkinan disrupsi keuangan seperti itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *