Aktivitas Manusia Membuat Usia Hutan Menjadi Lebih Singkat

RUANGNEGERI.com – Hutan menutupi hampir sepertiga dari daratan planet ini. Selain itu juga menjadi tuan rumah bagi sejumlah besar keanekaragaman hayati. Namun hutan hari ini tidak akan menjadi hutan di masa depan.

Hasil penelitian yang baru dipublikasikan dalam jurnal Science menyebut bahwa meningkatnya suhu, penggundulan hutan, pembangunan dan bencana yang disebabkan oleh iklim mengubah susunan hutan di Bumi. Itu semua menempatkan pohon berada di bawah tekanan besar.

Sementara pohon yang lebih tua, yang lebih besar dapat menjadi pendukung di ekosistemnya masing-masing, kini telah hilang pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal itu membuat kebanyakan hutan di planet ini berusia lebih pendek dan lebih muda.

Pergeseran ini didorong pada tingkat berbeda oleh penyebab berbeda dan di tempat yang berbeda juga. Tetapi hasil penelitian menyebutkan bahwa konsekuensinya akan berpengaruh secara global. Sebab, pertumbuhan hutan tua dapat menyerap dan menyimpan sejumlah besar karbon dioksida yang menghangatkan iklim.

Mereka juga menyediakan habitat bagi spesies langka yang hampir punah serta menumbuhkan keanekaragaman hayati yang kaya. Dan sayangnya hutan ini akan cepat hilang.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana hutan berubah secara global hingga saat ini. Tim yang dipimpin oleh Laboratorium Nasional Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), Departemen Energi AS bekerja sama dengan Institut Penelitian Hutan Birmingham (BIFoR) telah melakukan penelitian menggunakan pengamatan satelit.

Hasilnya menunjukkan adanya perubahan dalam penggunaan lahan. Tim menggabungkan dengan memeriksa lebih dari 160 studi tentang kematian pohon dan penyebab global. Selain itu juga menilai dampak dari gangguan ini pada hutan dunia.

The Guardian (28/05/2020), memberitakan bahwa hasil analisis mengungkapkan bahwa dari tahun 1900 hingga 2015, dunia telah kehilangan lebih dari sepertiga hutan lamanya. Manusia telah menebangi 12 % hutan dunia. Proporsi hutan dunia yang lebih dari 140 tahun telah turun dari 89 menjadi 66 persen.

Di tempat-tempat dimana data historis paling rinci terutama Kanada, Amerika Serikat bagian barat dan Eropa, angka kematian pohon meningkat dua kali lipat hanya dalam empat dekade terakhir.

Proporsi kematian yang lebih tinggi adalah pohon yang lebih tua. Studi ini mengabarkan kabar buruk bagi kemampuan pohon untuk membantu memerangi krisis iklim.

“Ketika pohon-pohon tua mati, mereka membusuk dan berhenti mengisap CO2 dan melepaskan lebih banyak ke atmosfer. Ini seperti termostat yang rusak. Pemanasan menyebabkan pohon kehilangan, kemudian pohon kehilangan lebih banyak pemanasan,” kata Nate McDowell peneliti dari Pacific Northwest National Laboratory.

“Ini tidak mengejutkan tetapi sangat menyedihkan,” kata Kristina Anderson-Teixeira, seorang ahli ekologi dan pemimpin ForestGEO Ecosystems & Climate Programme di Smithsonian Conservation Biology Institute yang membantu dalam penelitian.

Tidak ada penyebab tunggal secara langsung. Puluhan tahun penebangan dan pembukaan lahan memainkan peran, kata para ilmuwan. Dalam studi tersebut, terdapat beberapa faktor yang menjelaskan penghancuran hutan dunia, dan semua itu disebabkan oleh manusia.

Termasuk peningkatan suhu, kebakaran hutan yang sering terjadi, kekeringan, penggunaan lahan dan kenaikan karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil telah secara signifikan memperbesar sebagian penyebab kematian pohon lainnya.

BACA JUGA: Rumput Laut Dapat Menyelamatkan Peradaban Manusia?

Perubahan Area Hutan di Berbagai Negara

Mengutip dari laman CNBC.com (28/05/2020), menyebutkan bahwa meningkatnya tingkat kematian pohon yang didorong oleh perubahan iklim dan penggunaan lahan dikombinasikan dengan ketidakpastian dalam campuran spesies yang akan membentuk generasi berikutnya.

Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi para konservasionis dan pengelola hutan” Tom Pugh, seorang penulis dari studi dan seorang ilmuwan di Institut Penelitian Hutan Birmingham..

Perubahan iklim telah menyebabkan pohon mati pada tingkatan yang semakin dipercepat, sementara juga dapat menghambat pertumbuhannya. Seperti yang akan menghambat pada pertumbuhan hutan yang lebih muda.

Padahal hutan yang lebih muda, lebih pendek tidak memiliki kapasitas untuk menyimpan jumlah karbon yang sama dibandingkan dengan hutan tua.

Sebanyak 60.000 spesies pohon yang dikenal di Bumi mengalami perubahan secara berbeda di seluruh planet ini. Seperti di Eropa tengah, “Anda tidak perlu mencari pohon mati. Mereka ada di mana-mana” kata Henrik Hartmann, dari Institut Max Planck Jerman untuk Biogeochemistry.

Dalam satu tahun terakhir, setelah satu minggu panas yang berlebihan ratusan ribu pohon beech menjatuhkan daunnya. Kumbang kulit juga membunuh pohon cemara, yang tidak biasa.

Cuaca yang lebih panas melemahkan pohon, membuatnya lebih rentan. Hal itu memungkinkan serangga berlipat ganda dan bertahan hidup selama musim dingin hingga tahun depan.

Bahkan di daerah yang lebih dingin, “Anda mendapatkan beberapa tahun yang panas dan hutannya menderita. Kami sedang mendekati situasi di mana hutan tidak dapat melakukan aklimatisasi. Ada spesies individu yang didorong melampaui ambang batas dari apa yang dapat mereka tangani” kata Hartmann sebagaimana diberitakan National Geographic (28/05/2020).

Baru saja tahun lalu, kebakaran besar terjadi di Australia yang kering telah membara di 7,4 juta hektar di utara Siberia dan memusatkan perhatian dunia pada nyala api di Amazon.

Di beberapa bagian hutan hujan itu, musim kemarau sekarang bertahan lebih lama dan lebih sering datang. Curah hujan telah turun sebanyak seperempat dan sering kali datang dengan deras, membawa banjir besar dalam tiga dari enam musim antara 2009 dan 2014.

Semua kegiatan itu mengubah campuran pohon hutan hujan. Mereka yang tumbuh cepat dan mencapai cahaya dengan cepat, dan lebih toleran terhadap cuaca kering, adalah spesies yang bersaing yang membutuhkan tanah basah.

BACA JUGA: Urban Farming di Tengah Laju Urbanisasi

Melestarikan Hutan

Singkatnya, pemanasan global telah banyak membunuh pohon. Hilangnya pohon berkontribusi pada pemanasan global. Sejatinya pohon merupakan tanaman besar yang mendesain ekosistem untuk semua tanaman dan hewan lainnya.

Untuk mengurangi kerugian ini, McDowell mengungkapkan beberapa cara. “Sudah ada upaya aktif dalam komunitas hutan, seperti pembakaran berkelanjutan dan penipisan pohon. Di mana ekosistem biasanya mengalami kebakaran dan sekarang tidak.”

“Selain itu, memperkenalkan kembali api dengan cara yang sehat dapat mengurangi peristiwa kematian besar ini. Jadi ada solusi yang sudah diterapkan, tetapi mereka tidak diterapkan pada skala yang mereka butuhkan. Hal itu akan menjadi tantangan global” katanya.

“Mungkin tantangan terbesar dalam hal hilangnya pohon adalah pengurangan emisi karbon. Melakukan hal itu akan membantu melindungi hutan, dan membantu kita mengelola siklus karbon global” tambahnya.

Jika kita tidak bekerja untuk melestarikan hutan kita, bukan hanya pohon-pohon tua yang akan menderita, tetapi semua kehidupan di Bumi.

Para ilmuwan dikabarkan masih terus melakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apa semua dampak yang akan terjadi, tetapi jelas mereka tidak akan baik begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *