Ajari Anak Mengenal Simpati dan Empati dengan 7 Cara Ini

RUANGNEGERI.com – Simpati dan empati telah ada dalam diri setiap individu sejak dilahirkan ke dunia. Beberapa kejadian menandakan akar empati yang terbentuk pada usia dini. Misalnya saja, bayi menangis saat mendengar suara tangisan bayi lainnya.

Siti Hartinah (2019) dalam penelitian berjudul Meningkatkan Perilaku Empati Anak Melalui Story Telling dengan Menggunakan Boneka Tangan di SD, menjelaskan bahwa pada anak berusia 1 tahun, mereka seringkali sedih dan menangis melihat temannya terluka, meskipun dirinya sendiri tak mengalami apapun.

Kedua sifat ini, merupakan bentuk dari tingkah laku pro-sosial. Artinya, tingkah laku tersebut sengaja dilakukan untuk memberi efek positif terhadap orang lain.

Di dalam kategori pro-sosial, para ahli memasukkan istilah altruisme atau berlandaskan motif intrinsik. Seseorang melakukan suatu tindakan atas dorongan eksternal, seperti membantu atau memperhatikan orang lain.

Tingkatan pro-sosial seseorang akan berpengaruh pada kualitas interaksi sosial. Anak dengan simpati dan empati yang tinggi akan lebih bisa memahami keadaan orang sekitarnya dari pada lainnya.

Di samping itu, mereka juga punya hubungan sosial yang lebih baik serta pribadi dan karakter yang kuat.

Seperti yang kita ketahui, sifat terbaik anak lebih mudah dibentuk dan ditanamkan sejak usia dini. Para pakar menyatakan usia golden age atau emas menjadi tahapan terbaik menanamkan nilai-nilai sosial maupun moral.

Pasalnya, efektivitas belajar dan menyerap informasi berlangsung lebih mudah serta bertahan lama hingga anak berusia dewasa.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

Mengenal Simpati dan Empati

Sebagai bagian dari respon emosi, Eisenberg dan Mussen dalam Pratiwi Wahyu Widiarti menjelaskan perbedaan simpati dan empati. Walaupun kedua istilah tersebut sering disandingkan bersama, namun keduanya memiliki makna berbeda.

Empati umum dimaknai sebagai suatu respon afektif terhadap ketakutan/kegelisahan atau rasa pengertian tentang kondisi emosi orang lain dan hal ini dirasakan identik atau serupa dengan perasaan orang lain tersebut.

Simpati diartikan sebagai suatu respon afektif yang sering dianggap berasal dari empati. Kata tersebut juga dapat berasal dari perspektif taking atau proses kognitif yang lain.

Yakni terdiri dari perasaan sedih atau memperhatikan kesedihan atau kebutuhan orang lain, atau memiliki perasaan emosinya yang sama dengan orang lain.

Dari penjelasan di atas, terlihat jelas perbedaan simpati dan empati. Sayangnya, masih sering terjadi miskonsepsi atau kesalahpahaman. Alhasil, para orang tua pun bingung cara memperkenalkan dan menanamkan kedua tingkah laku sosial tersebut.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi orang tua memahami konsep dasar keduanya dari perspektif psikologi maupun sosiologi.

Widiarti (2013) kembali menyebutkan bahwa menanamkan simpati maupun empati sedari kecil dapat memberi banyak manfaat. Salah satunya mencegah terjadinya kasus bullying atau perundungan. Angka perundungan yang terus meningkat sering kali dipicu oleh rentannya pengawasan serta respon afektif pelaku.

Menurutnya, pelaku perundungan mungkin saja tak melewati aspek perspektif taking atau mengambil perspektif orang lain untuk dirinya sendiri.

Perspective taking dominan ditiru dari orang tua atau orang dewasa di sekitar anak. Nantinya, anak akan mengaplikasikan perlakuan yang sama kepada peers atau teman sebayanya.

Jika terjadi sebaliknya, anak kemungkinan besar mengalami kurangnya ‘pengasuhan’ dari kedua orangtua atau keluarga.

Hal ini menandakan betapa pentingnya peran serta kehadiran orangtua terhadap tumbuh kembang anak serta kehidupan sosial anak.

BACA JUGA: Anak Cerdas Berbakat: Bagaimana Solusi Pendidikan dari Keluarga?

Cara Menumbuhkan Simpati dan Empati

Guna menumbuhkan simpati dan empati pada anak, berbagai cara dapat dilakukan. Beberapa cara dibawah ini diyakini efektif mengasah serta mempertajam tingkah laku pro-sosial pada anak:

1. Mengenali Emosi Pribadi

Ajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosinya. Orang tua menjadi patron utama anak dalam mengidentifikasi beragam jenis emosi, seperti marah, senang, sedih ataupun kecewa.

Lakukan permainan sederhana untuk mengenali emosi, misalnya menggunakan stiker. Beri anak stiker dengan variasi emosi dan minta mereka menunjukkan perasaannya sesuai stiker.

Jika memungkinkan, beri ruang anak bercerita alasan mengalami emosi tersebut. Pengalaman merekam atau mencatat emosi akan membantu anak mengenali emosi dengan mudah di kemudian hari.

2. Mengajak Anak Mengenali Keadaan

Sesekali, ajak anak memposisikan dirinya sebagai orang lain, baik teman ataupun keluarga. Contohnya saja, saat anak berusaha mengganggu kakak atau adiknya dengan sengaja.

Coba tanyakan perasaan mereka kalau berada di posisi orang tersebut. Apakah mereka suka diganggu oleh orang lain? Dengan treatment sederhana ini, anak lebih memahami pola simpati dan empati yang sesungguhnya.

3. Melihat Lingkungan Sekitar

Cara terbaik belajar empati dan simpati adalah memahami lingkungan sekitar. Anak bisa beradaptasi serta peduli dengan teman, tetangga, maupun kerabat.

Supaya anak lebih peka, tak ada salahnya orangtua membiarkan anak lebih membaur. Biarkan mereka bermain dan bersosialisasi tanpa intervensi dari orang terdekat.

4. Orang Tua sebagai Role Model

Teladan terbaik anak adalah orangtuanya sendiri. Pada usia awal pertumbuhan, anak belajar berbagai informasi dan pengalaman pertama dari orangtua. Seyogyanya, orangtua menjadi role model atau contoh terbaik.

Mengutip dari Theasianparent.com, anak yang cenderung kasar biasanya mencontoh perilaku kasar dari orangtuanya. Bila orang tua tak menginginkan hal tersebut, sebaiknya ubah perilaku negatif ke positif saat berada di sekitar anak.

5. Memberi Bantuan Segera

Ketika teman atau kerabat mengalami musibah, beri bantuan secepatnya. Ajak anak untuk melakukan kebaikan guna meningkatkan simpati dan empati mereka.

Secara tak langsung, anak akan tergugah untuk lebih peduli dengan orang lain. Dengan melakukan bantuan secepatnya kepada orang-orang yang membutuhkan, dapat membangkitkan kemampuan empati anak.

6. Orang Tua Harus Konsisten

Dalam menanamkan suatu hal, orang tua harus bertindak konsisten. Jangan sampai terjadi perbedaan pola asuh dan pendapat antara kedua orang tua. Ini akan mempengaruhi kondisi psikis serta kepercayaan akan terhadap orangtuanya.

Perdebatan di depan anak akan memicu keberpihakan anak terhadap salah satu pihak. Mereka pun rentan inkonsisten atau tidak konsisten melakukan kebaikan, sebab orang tua mencontohkan sebaliknya.

BACA JUGA: Ingin Selalu Bergerak, Inilah Ciri Gaya Belajar Kinestetik Si Kecil

7. Mengucapkan Terima Kasih

Latih dan ajarkan anak untuk selalu mengucapkan terima kasih secara tulus atas bantuan atau pemberian dari orang lain. Minta anak mengucapkan terima kasih saat diberi sesuatu atau menerima bantuan. Ucapan sederhana ini akan menumbuhkan simpati dan empati anak terhadap sesama.

Tak cuma itu, terima kasih merupakan bentuk apresiasi terhadap orang lain. Si penolong akan merasa lebih dihargai saat menerima ucapan tersebut.

Ketujuh cara menumbuhkan simpati dan empati pada anak tersebut bisa diaplikasikan oleh para orangtua. Apa pun pola pengasuhan yang diterapkan, anak tetap butuh patron untuk bisa tumbuh optimal, terutama secara moral dan sosial.

Membentuk karakter unggul dan mumpuni akan sulit dilakukan kalau orang tua tak memulainya sejak usia dini. Pasalnya, efektivitas pembelajaran terjadi pada usia 0 – 6 tahun, dimana semua pengalaman pertama dialami oleh anak sebagai individu yang utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *