Agar Si Kecil Mandiri, Ajarilah Skema Problem Solving Ini

RUANGNEGERI.com – Skema problem solving anak atau yang biasa disebut dengan pemecahan masalah sangatlah penting untuk ditanamkan dalam diri anak sejak dini.

Fase anak yang terus mengalami perkembangan, membuat anak juga dituntut untuk dapat memahami apa yang ada di sekelilingnya. Anak mulai mencari tahu dan mengatasi permasalahan berdasarkan apa yang dirasakannya.

Banyak anak yang sering bertanya mengenai cara kerja sesuatu atau bagaimana suatu hal dapat terjadi.

Lina Oktariani Utami, dkk (2017) dalam tulisan berjudul Penerapan Metode Problem Solving dalam Mengembangkan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Bermain, menyebutkan bahwa dengan diajari problem solving, mereka akan lebih cenderung mempunyai keterampilan menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Pada masa itu, seorang anak adalah orang yang dapat menganalisis masalah perseorangan maupun kelompok dengan cermat.

Hal ini membuat kemampuan anak dalam memecahkan suatu masalah. Selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya, yakni kemampuan berpikir maupun kreativitasnya.

Anak yang sudah mempunyai rasa ingin tahu mengenai sesuatu yang terjadi menunjukkan bahwa anak tersebut juga sudah mulai bisa menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya.

Masalah yang dihadapi anak dalam kehidupannya berkisar pada masalah bermain dengan teman sebaya, kesulitan dalam mempelajari hal baru dan sebagainya.

Meskipun masalah tersebut terlihat ringan dan tidak sama dengan masalah yang dihadapi orang dewasa, setiap anak harus mempunyai kemampuan problem solving.

Tujuannya agar bisa membantu mereka mengatasi masalah yang terjadi dengan baik. Kemampuan ini akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan dirinya.

BACA JUGA: Mengajarkan Kemandirian Anak lewat Pekerjaan Rumah, Bagaimana Langkahnya?

Pentingnya Mengajarkan Skema Problem Solving Anak

Setiap anak yang terlahir di dunia ini tentu mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-harinya.

Cara anak menghadapi masalah atau skema problem solving anak yang terjadi terbentuk dari pengalaman apa yang sudah mereka dapat dalam kehidupannya.

Apakah mereka akan menggunakan cara A atau mereka akan menggunakan cara B. Hal itu tergantung dari proses mereka dalam mencerna pengalaman.

Ada banyak masalah sosial yang juga ditemui anak dalam kehidupannya. Masalah sosial yang biasanya dihadapi oleh seorang anak adalah tersesat, menunggu giliran, nama julukan, berbagi, menginginkan sesuatu dan lain-lain.

Mereka perlu tahu bahwa tidak ada perasaan yang baik atau buruk. Kesadaran mengenai perasaan ini akan membuat anak bisa berpikir jalan keluar terbaik bagi dirinya dan orang lain.

Dengan begitu, anak akan mendapatkan kesempatan untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Usia anak berada dalam perkembangan sosial dan membutuhkan banyak waktu untuk bermain dengan sesama temannya. Dalam periode ini anak-anak akan menemui masalah dengan kehidupan sosialnya.

Untuk itulah, mengajarkan anak mengenai pemecahan masalah melalui pembicaraan atau diskusi akan sangat membantu mereka dalam mengatasi masalah yang mereka buat. Cara problem solving dengan pembicaraan lebih baik dari pada menggunakan hukuman atau pukulan.

Mengajarkan skema tersebut sangat penting untuk melatih anak agar bisa berpikir kreatif. Terutama pada saat menghadapi masalah dalam kehidupan pribadinya atau pun masalah dalam kelompoknya.

Permasalahan tersebut bisa dipecahkan sendiri oleh anak atau secara bersama-sama dengan kelompoknya. Dalam skema problem solving anak, seorang anak akan mampu mengidentifikasi penyebab masalah dan solusi pemecahan masalahnya secara mandiri.

Melalui permasalahan yang ada dalam kehidupan yang hadir dengan sendirinya, anak akan terbiasa mencoba mengatasi masalah yang dihadapinya dengan lebih mandiri.

Atau permasalahan tersebut sengaja diciptakan untuk menguji sekaligus melatih kemampuan anak dalam mengatasi permasalahan yang ada.

Skema problem solving ini juga sangat penting dimiliki oleh seorang anak agar dapat menjelma menjadi pribadi yang tangguh di masa depannya kelak.

BACA JUGA: Di Era Digital Ini, Ketahui Screen Time Paling Tepat untuk Anak-anak

Skema Problem Solving Anak

Stimulasi perkembangan kognitif dan problem solving yang dibutuhkan akan berbeda-beda di setiap tahapan usia anak.

Bersama dengan berkembangnya pemahaman anak terhadap sebab akibat sederhana, anak akan mulai menunjukkan rasa ingin tahu akibat dari tindakannya.

Kemampuan problem solving merupakan kemampuan yang dimiliki anak untuk memahami, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Untuk dapat melakukannya, ada beberapa rancangan atau skema problem solving anak yang bisa dipelajari. Skema ini bisa berupa urutan langkah-langkah dalam memecahkan masalah yang ada.

Dalam buku Problem Solving 101, Ken Watanabe (2009), menjelaskan bahwa langkah-langkah untuk memecahkan masalah didasari oleh 4 bagian. Melalui langkah-langkah berikut ini, anak akan lebih mudah memahami apa yang harusnya mereka ketahui.

Pertama, memahami situasi yang terjadi saat itu. Kedua, mengidentifikasi dasar dari penyebab masalah yang terjadi tersebut.

Ketiga, mengembangkan sebuah rencana untuk tindakan yang efektif sesuai permasalahan serta keempat, melakukan eksekusi atau tindak lanjut hingga masalah tersebut dapat terselesaikan.

Tindakan ini bisa dengan membuat perubahan bila diperlukan.

Langkah-langkah tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan harus bergerak secara urut. Sebelum anak mencoba menyelesaikan masalah apa pun, mereka harus menyadari adanya suatu masalah lebih dulu.

Keempat, barulah mereka bisa memikirkan bagaimana agar masalah tersebut terselesaikan. Kemudian mereka baru mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

Langkah-langkah yang bisa diambil untuk melatih problem solving di antaranya adalah anak menyadari adanya suatu masalah yang terjadi.

Dari situ, anak lalu memahami hakikat masalah secara jelas. Kemudian mereka mulai memikirkan hipotesis atau dugaan sementara mengenai masalah yang terjadi.

Utami (2017) kemudian menjelaskan bahwa setelah mempunyai dugaan, mereka lalu mengumpulkan data atau fakta yang berkaitan, menganalisis dan sintesis data.

Dengan tahapan tersebut, selanjutnya adalah anak akan mencoba mengambil kesimpulan. Pada akhirnya anak akan mengevaluasi seluruh proses pemecahan masalahnya sendiri.

Setiap proses problem solving merupakan hasil kombinasi dari berpikir dan juga bertindak. Apabila seorang anak hanya melakukan salah satunya, maka tidak akan membuat mereka mampu mencapai sebuah penyelesaian.

Langkah-langkah itulah yang kemudian membentuk sebuah skema dalam menemukan penyelesaian dari permasalahan yang ada. Seorang anak harus dilatih agar bisa melalui proses ini agar dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya kelak nanti.

Anak akan lebih mandiri dan juga memiliki kepribadian yang bisa diandalkan dalam setiap keadaan. Meskipun itu keadaan baik, atau keadaan sangat buruk sekali pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *