Kenali, 3 Jenis Tangisan Anak dan Cara Memberikan Feedback yang Tepat

RUANGNEGERI.com – Tangisan bayi tak selalu menandakan rasa lapar atau haus. Pada dasarnya, ada beragam jenis tangisan bayi di awal kelahiran. Para orang tua wajib mengetahui hal ini, terutama orang tua baru.

Pasalnya, respon balik atau feedback yang diberikan tergantung pada jenis tangisan itu sendiri. Bayi berusia 0 hingga 3 bulan umumnya menunjukkan tangisan yang sama.

Ada kalanya tangisan tersebut berubah menjadi histeris, ketika bayi tak menerima tanggapan yang tepat. Dunstan (2006) melakukan klasifikasi tangisan bayi berusia 0 sampai 3 bulan berdasarkan kebutuhan.

Klasifikasi ini dikenal dengan Dunstan Baby Language atau DBL. Secara universal, tangisan bayi dikelompokkan menjadi 5 macam, yakni eh, neh, owh, eairh dan heh.

Moeckel dan MIta dalam Identifikasi Suara Tangisan Bayi menggunakan Metode LPC dan Euclidean Distance menjelaskan bahwa tangisan merupakan refleks primitif dari bayi.

Ketika baru lahir, kemampuan adaptasi bayi belum terbentuk secara sempurna. Bahkan mereka masih merasa berada di dalam rahim ibu.

Refleks primitif sendiri diartikan sebagai gerakan atau suara spontan yang menjadi aktivitas biasa bagi bayi. Hal ini tak jauh berbeda dengan gerak refleks dari manusia dewasa, seperti menguap dan sendawa.

Saat memasuki usia 6 hingga 12 bulan, refleks bayi biasanya akan berkurang sebab kemampuan adaptasi yang meningkat.

Mengingat gerak dan suara bayi masih terbatas, jenis tangisan bayi jadi alat komunikasi awal mereka. Cara komunikasi mereka ditunjukkan dengan tangisan berbeda kepada ibu maupun orang terdekat. Dalam hal ini, orang tua bisa mengenali apa yang diinginkan oleh buah hatinya.

Sayangnya, kebanyakan orangtua masih bingung menanggapi tangisan yang berasal dari anak 0 sampai 3 bulan. Oleh sebab itu, penting mengenali jenis tangisan yang kerap dimunculkan bayi pada usia awal.

BACA JUGA: Moms, Ketahui 7 Tanda Anak Memiliki Kecerdasan Visual Spasial Tinggi

Jenis Tangisan Bayi

Priscilla Dunstan dalam Muhammad Idham Choudry (2016) dalam penelitian berjudul Ruang Bangun Sistem Identifikasi Tangis Bayi Menggunakan Learning Vector Quantization dan Mel-Frequency Cepstral Coefficients, menjelaskan secara komprehensif pola serta fonetik suara yang dihasilkan oleh bayi.

Dari fonetik tersebut, diketahui bahwa respon yang tepat untuk menanggapi tangis bayi sehingga tangisnya cepat mereda. Adapun beberapa jenis tangisan bayi diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Mengantuk

Ketidakmampun bayi untuk mengkomunikasikan langsung rasa kantuknya diperlihatkan melalui tangisan. Pada bayi usia antara 0 hingga 3 bulan, suara tangis bernada ‘owh’ sembari membulatkan bibir menjadi pertanda bayi mengantuk. Refleks primitif ini diikuti oleh gerakan mengusap mata dan menguap beberapa kali.

Gerakan tangan dan kaki pun akan terlihat jelas pada bayi yang mengantuk. Tangisan ini juga menandakan rasa lelah yang teramat sangat, sehingga bayi butuh istirahat yang cukup. Orang tua bisa langsung menidurkan bayi atau membaringkannya di kasur.

2. Lapar dan Haus

Saat bayi merasakan lapar dan haus, mereka biasanya akan mengeluarkan fonetik ‘neh’. Menurut Dunstan, suara ‘neh’ adalah respon dari refleks bayi menghisap yang menandakan bayi kelaparan.

Melansir dari Theasianparent.com, disebutkan bahwa bayi kelaparan akan menangis lebih lama dan panjang. Orang tua biasanya merasa kesulitan menenangkan bayi yang merasa lapar. Tak jarang, bayi bakal menghisap jempol tangan sembari menendangkan kaki ke arah udara.

Ibu tak perlu khawatir, jika bayi menangis kelaparan usai disusui. Hal ini sangat wajar terjadi, karena beberapa alasan pendukung. Salah satunya bayi belum merasa puas menyusui atau stok ASI tak mencukupi.

Untuk melihat apakah bayi masih merasa lapar, coba angkat bayi ke arah dada. Bila bayi refleks mencari payudara ibu, kemungkinan besar memang si kecil masih merasa lapar.

BACA JUGA: Yuk Cari Tahu Pentingnya Dongeng Sebelum Tidur untuk Kecerdasan Anak

3. Tak Nyaman

Ada beragam jenis tangisan yang menandakan rasa tak nyaman pada bayi. Satu di antaranya fonetik ‘heh’ yang menandakan rasa tak nyaman. Popok yang basah, kulit iritasi atau perubahan suhu yang cukup ekstrim.

Bayi sangat peka terhadap perubahan suhu, terutama panas dan dingin yang terlalu drastis. Tak cuma itu, tubuh bayi belum 100% bekerja efektif mengatur suhu, sehingga rentan kedinginan dan kepanasan (Choudry, 2016)

Selain ‘heh’ Dunstan menjelaskan makna tangis ‘eh’. Berbeda dari ‘heh’, fonetik ‘eh’ menunjukkan adanya kontraksi pada area dada yang disebabkan oleh angin. Suara ‘eh’ serupa dengan suara sendawa yang tertahan.

Bayi sedang mencoba mengeluarkan sendawa, namun yang terdengar justru jenis tangisan ‘eh’ yang berulang. Jangan heran kalau bayi tak akan diam sebelum angin benar-benar keluar, sebab mereka merasa perutnya tak nyaman.

Terakhir, rasa tak nyaman yang berasal dari bagian perut bayi. Rasa kembung membuat bayi mengeluarkan fonetik ‘eairh’ yang cukup histeris.

Ini menandakan perut si bayi benar-benar terasa tak nyaman dan butuh perhatian dari orang tuanya. Rasa sakit akibat perut kembung sangat umum ditemukan pada bayi berusia 0 – 6 bulan.

BACA JUGA: Anak Cerdas Berbakat: Bagaimana Solusi Pendidikan dari Keluarga?

Feedback Tangisan Bayi

Guna menanggapi berbagai jenis tangisan yang diperlihatkan oleh bayi, orang tua sebenarnya bisa memberi respon yang tepat. Dengan mengenali jenis tangisan, respon dari refleks bayi pun tak salah kaprah.

Bayi akan lebih cepat merasa tenang dan tangisan mereda. Sayangnya, masih banyak orang tua yang gagal paham dengan suara dan fonetik tangisan yang ditunjukkan oleh bayi.

Untuk itu, ada baiknya para orang tua memahami dan mempelajari jenis tangisan sedari awal. Dari sini, orang tua tahu feedback yang tepat untuk diberikan. Misalnya saja, tangisan kelaparan yang tentu harus direspon dengan memberikan ASI.

Ibu bisa langsung menyusui bayi, minimal 3 hingga 4 jam sekali. Jika bayi menangis kelaparan sebelum waktunya, tak perlu terlalu khawatir berlebihan.

Feedback terbaik untuk bayi mengantuk adalah menidurkan sesegera mungkin. Dengan begitu, rasa lelah dan frustasi yang dialami bayi akan sedikit berkurang. Mereka pun bisa beristirahat dengan tenang.

Bayi mengantuk sebaiknya diberi suasana lebih tenang. Jika orang tua dan bayi berada di keramaian, ada baiknya mencari ruangan yang lebih sepi.

Pasalnya, bayi akan merasa tak tenang dengan hingar-bingar di sekitarnya. Disamping itu, memainkan musik klasik juga bisa efektif membangun suasana tenang dan nyaman pada bayi.

Pada bayi tak nyaman, orang tua harus mengenali fonetik yang dikeluarkan. Bila berkaitan dengan rasa panas atau dingin, sebaiknya atur suhu senyaman mungkin. Sedangkan popok yang basah bisa diganti dengan yang baru.

Kalau rasa tak nyaman diakibatkan angin, cobalah menepuk lembut punggung bayi atau memijatnya secara perlahan.

Begitu pula ketika bayi ingin bersendawa, bantu mereka dengan mengangkat tubuh atau tengkurap. Lakukan pada siang dan malam hari, agar bayi tak gampang menangis.

Mengenali jenis tangisan bayi akan membantu orang tua bertindak lebih cepat dan tepat. Selain itu, orang tua pun tak merasa terganggu dengan tangisan histeris maupun kencang yang dikeluarkan oleh bayi.

Hal itu dikarenakan bayi lebih cepat dan mudah untuk ditenangkan. Jadilah orang tua yang tanggap dengan kondisi buah hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *