Kapan Anak Mulai Mengenal Bahasa dan Mempelajarinya?

RUANGNEGERI.com – Bahasa bisa merupakan jembatan penghubung agar setiap orang bisa berkomunikasi satu sama lain. Dengan memahami bahasa, seseorang bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh orang lain.

Hal ini juga berlaku pada orang tua dan anak. Seorang anak yang masih bayi sekalipun membutuhkan pengenalan bahasa jika ingin berkomunikasi dengan orang tuanya. Pengenalan bahasa ini harus diberikan oleh orang tua pada anaknya dengan tepat.

Stephanie Petrie & Sue Owen (2005) dalam bukunya Authentic Relationships in Group Care for Infants and Toddlers, menjelaskan bahwa tidak ada yang tahu persis kapan bayi mulai memahami bahasa dengan benar.

Bayi mulai memperhatikan dunia di sekitar mereka secara perlahan dan bertahap sejak lahir. Berbicara dengan bayi sejak kelahiran merupakan awal dari komunikasi seumur hidup.

Dengan mengajak bicara bayi yang baru lahir, maka orang tua dapat mengatakan bagaimana perasaannya dan apa yang dia inginkan secara lebih leluasa.

Bahkan, meski orang tua tidak mengetahui dengan tepat apakah bayi mengerti atau tidak, mengajak bayi berkomunikasi dapat menenangkan hati orang tua dan juga bayi sekaligus.

BACA JUGA: Kecerdasan Linguistik atau Word Smart untuk Optimalisasi Kecerdasan Anak

Pengenalan Bahasa Pada Anak

Seiring bertambahnya usia bayi, pemahaman mengenai bahasa atau komunikasi dapat tumbuh dengan keterampilan motorik yang berkembang.

Hal ini karena setiap bayi memiliki kapasitas bawaan untuk memperoleh bahasa secara alami. Kemampuan ini membuat bayi dapat tumbuh sebagai pembelajar mandiri dalam lingkungan di mana bahasa digunakan.

Dalam interaksi dengan bayi atau balita yang baru belajar berbicara, orang tua lebih baik jika berbicara tentang dunia si kecil. Hal ini akan lebih bermanfaat untuk perkembangan bayi dari pada mencoba mengajari mereka tentang hal-hal yang bukan bagian dari kehidupan mereka.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2014) dalam bukunya No-drama Discipline : The Whole-Brain Way To Calm The Chaos And Nurture Your Child’s Developing Mind, menjelaskan bahwa sistem sensorik anak akan memahami bahasa tubuh orang tuanya.

Selain itu, kata-kata dari orang tua ke anak secara biologis juga membuat sirkuit saraf anak untuk bertahan dari ancaman atau gangguan dari sekelilingnya.

Meski belum dipahami dengan benar, bayi atau balita akan mengerti bahasa yang diucapkan oleh orang tuanya melalui ekspresi dan juga bahasa tubuh yang dihadirkan. Ini juga sekaligus dapat merangsang anak untuk berpikir apakah yang dikatakan oleh orang tuanya merupakan hal baik atau buruk.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, mengatakan bahwa istilah bayi dan balita berasal dari konsep yang berhubungan dengan bahasa. Pemahaman mengenai kemunculan bahasa ini terjadi pada usia sekitar 1 hingga 2 tahun dalam masanya.

Pemahaman mengenai bahasa atau komunikasi ini tergantung pada bagaimana orang tua mengasuh anaknya. Seberapa sering orang tua mengajak anak berbicara, akan sangat berpengaruh pada seberapa besar si kecil mengenali bahasa sebagai cara untuk berkomunikasi.

Perilaku bahasa orang tua terhadap anak-anak lebih besar selama masa bayi dan balita. Sebab, masa ini adalah saat pembelajaran bahasa paling besar.

Otak si kecil akan menyerap apapun yang didengarnya. Sehingga suara dan bahasa apapun akan terekam di otak dan akan memudahkan mereka berbicara di kemudian hari.

BACA JUGA: Kecerdasan Naturalis Anak, Bagaimana Cara Mengoptimalkannya?

Pendukung Pembelajaran Bahasa

Perkembangan pemahaman bahasa pada anak dapat terjadi jika didukung dengan hal-hal yang tepat. Agar dapat mempelajari bahasa dengan baik, anak membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk perkembangannya: Pertumbuhan kosakata pada anak sangat tergantung dengan jumlah pembicaraan orang tua yang mereka hadapi.

Sehingga dapat dipahami bahwa karakteristik anak dan pengaruh orang tua dapat bergabung untuk kelancaran perkembangan bahasa anak dengan proses sosialisasi emosi yang sesuai. Emosi yang dimiliki anak ini juga dapat memberikan identifikasi efek gender bagi anak.

Hal ini bisa dilihat dari anak laki-laki yang cenderung menyukai fisik, tentu lebih sesuai jika menerima pembelajaran yang mandiri.

Sebaliknya, untuk anak perempuan tentu berbeda jauh dengan laki-laki. Mereka akan lebih cenderung menyukai pembelajaran santai penuh kasih yang jauh dari aktivitas fisik.

Lingkungan yang ada di lingkaran anak laki-laki maupun perempuan ini memberikan pengaruh besar dalam cara mereka mempelajari bahasa.

Mereka yang hidup di lingkungan keras tentu memahami kosakata yang berbeda dengan anak yang hidup di lingkungan lebih damai.

Selain lingkungan, percakapan orang tua juga turut andil dalam perkembangan bahasa setiap anak. Orang tua yang memiliki lebih sedikit percakapan verbal dengan anak tentu akan membuat anak lebih sedikit bicara. Bahkan mereka pun juga tidak akan mengerti berbagai macam kosakata.

Proses pengenalan bahasa dan berbagai macam kosakata ini perlu dilakukan sejak anak masih kecil bahkan baru lahir. Pembiasaan berbicara apapun pada anak ini dapat dimulai sejak anak lahir. Meskipun pada umumnya setiap anak baru dapat memprediksi kosakata pada usia 12 bulan.

Martin Maldonado-Duran, M.D (2002) dalam bukunya Infant and Toddler Mental Health Models of Clinical Intervention With Infants and Their Families, menerangkan bahwa pengalaman menggunakan bahasa, terlepas dari apakah itu merujuk pada keadaan mental, menunjukkan pada anak-anak bahwa manusia adalah penerima dan penyedia informasi yang disampaikan melalui komunikasi verbal secara simbolik.

Dengan mendengarkan suara yang diucapkan oleh orang tua, anak bisa mulai mengembangkan kemampuan nalarnya. Kata-kata seperti mama, papa, makan dan sebagainya dapat dijadikan bahan sederhana untuk mengenalkan bahasa pada anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *