Teknologi Virtual Reality Bisa Mengukur Stress Seseorang

RUANGNEGERI.com – Stress seringkali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Baik itu dipicu karena hubungan dalam keluarga, pertemanan, ekonomi maupun pekerjaan, efeknya tentu tidak baik dalam hidup seseorang.

Sebagian dari kita mungkin juga pernah merasakan efek stress dalam bentuk penyakit. Beberapa penyakit seperti gangguan jantung, stroke atau adanya tekanan lingkungan juga bisa memicu stress. Sebagian lain, mungkin mengalami efek dari gangguan mental, seperti cemas dan depresi.

Selama ini, metode yang biasa dilakukan adalah bergantung pada pengakuan (lisan maupun tertulis) dari pasien langsung. Atau juga dengan cara diagnosis yang seringkali subjektif. Alhasil, tes dengan model ini masih kurang tepat dalam mengukur tingkat stress seseorang.

Untuk mengurangi dampak stress semakin banyak dialami masyarakat, kini telah dikembangkan alat tes khusus. Alat ini berfungsi untuk mengidentifikasi orang-orang yang lebih rentan terkena stress.

Di penghujung tahun 2020 lalu, alat ukur stress berhasil dikembangkan dengan menggunakan teknologi VR (virtual reality atau realitas virtual). Peran teknologi VR ini diklaim telah berhasil dikembangkan untuk bisa menghasilkan alat ukur stress terbaik.

Baca juga:

Cara Kerja Virtual Reality untuk Mengukur Stress

Melalui penelitian berjudul Locomotion in virtual environments predicts cardiovascular responsiveness to subsequent stressful challenges, yang terbit di Jurnal Nature pada tanggal 19 November 2020, Joao Rodrigues, dkk., menyimpulkan bahwa teknologi VR telah berhasil menjembatani perilaku digital untuk bisa dijadikan identifikasi awal dari seseorang yang mengalami stress.

Teknologi VR dalam menjadi alat ukur stress berperan sebagai pembuat skenario dan pengumpul data. Penelitian di EPFL’s School of Life Science yang dipimpin oleh seorang pakar perilaku, Carmen Sandi, menyatakan bahwa metode pengukuran stress melalui VR dilakukan dengan mengembangkan ruang VR.

Ruang VR ini akan mengukur bagaimana tingkat kemudahan seseorang terkena efek dari berbagai stressor (pemicu stress). Selama proses pengembangannya, ruang VR ini sudah diujicobakan ke berbagai jenis hewan terlebih dahulu.

Setelah melalui proses perbaikan dan pendekatan yang lebih baik akhirnya terbentuklah ruang VR seperti sekarang ini yang bisa mengukur stress lebih akurat. Sistem kerja teknologi VR untuk mengukur stress kurang lebih sama.

Namun skenario yang ditunjukkan dalam beragam ruang VR akan berbeda-beda. Jenis data yang dikumpulkan untuk mengukur stress seseorang pun bisa berbeda.

Baca juga:

Skenario Virtual Reality dalam Mengukur Stress

Kemudahan seseorang mengalami dampak stress saat ini bisa diukur dengan memanfaatkan teknologi VR. Dalam sekali pemeriksaan, seseorang akan melalui beberapa skenario berbeda yang sudah disediakan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.

Salah satu contohnya, stress seseorang dapat diukur dengan membiarkan orang tersebut mengeksplorasi ruang VR dalam 3 skenario yang berbeda. Masing-masing skenario akan berjalan selama 90 detik saja.

Data yang didapatkan adalah berupa perubahan kecepatan jantung dari masing-masing skenario ruang VR. Dari data ini, tingkat stress seseorang sudah bisa dianalisis secara lebih akurat.

Bryan E. Robinson, ahli psikoterapi dan guru besar emeritus di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa gambaran singkat mengenai ketiga ruang VR dalam skenario mengumpulkan data kecepatan jantung ini layaknya sebuah petualangan. Ia menyebutkan setidaknya ada tiga skenario.

Skenario pertama, orang yang diperiksa akan menemukan ruang VR yang kosong. Besar dan luas ruang VR akan sama dengan ruang pemeriksaan. Namun dalam ruangan itu, dia akan melihat jejak merah kecil dan langsung menghadap ke suatu dinding.

Jika orang itu memegang dinding tersebut, maka dia akan merasakan memegang dinding juga dalam dunia nyata. Setelah membiarkan orang itu mengeksplorasi selama 90 menit, pemeriksa akan meminta orang tersebut kembali ke jejak merah kecil. Dimana orang tersebut akan kembali ke titik awal dan memulai skenario yang kedua.

Skenario kedua, orang yang diperiksa akan masuk ke ruang VR kedua yang mengantarkannya ke sebuah jalan kecil yang tingginya beberapa meter dari sebuah kota di bawahnya. Lagi, dia akan dibiarkan mengeksplorasi wilayah itu selama 90 detik dan kembali ke titik awal untuk memulai skenario berikutnya.

Skenario ketiga, akan mengantarkan orang tersebut ke ruang VR yang sepenuhnya gelap. Hanya ada cahaya lampu senter kecil yang akan menjadi satu-satunya sumber penerangan.

Tujuannya adalah agar orang tersebut mengeksplorasi koridor gelap yang dipenuhi dengan patung manusia di setiap sudutnya.

Selanjutnya, data kecepatan jantung dari orang yang diperiksa akan dikumpulkan untuk dianalisis tingkat kerawanannya terhadap berbagai aspek yang menjadi pemicu stress.

Baca juga:

Pengembangan Virtual Reality bagi Psikolog

Penggunaan teknologi VR di dunia psikologi rupanya tidak berhenti sampai di situ saja. Bahkan untuk pengukuran tingkat kemudahan stress seeorang pun masih terus dilakukan perbaikan dalam aplikasinya.

Christian Hirt, dkk (2020) melalui penelitian berjudul Stress generation and non-intrusive measurement in virtual environments using eye tracking, menyebutkan bahwa pengembangan ruang VR dalam dunia psikologi ini tidak lagi hanya dari perubahan kecepatan jantung. Namun juga terkait dengan perubahan dari diameter pupil mata.

Hasil penelitian menunjukkan ada korelasi yang signifikan antara pemicu stress dengan perubahan besar diameter pupil mata. Alhasil, penelitian tersebut menjadi indikasi bahwa teknologi VR dan aplikasinya sangat bermanfaat untuk terus digunakan dalam dunia psikologi.

Sama seperti sebelumnya, ruang VR yang dimasuki oleh orang-orang yang hendak diperiksa juga bukan asal-asalan. Dibutuhkan kolaborasi dengan para psikolog untuk mendesain ruang VR agar bisa menjadi validitas alat ukur dari tingkat stress seseorang.

Dari kolaborasi tersebut, data-data dari orang yang diperiksa baik perubahan kecepatan jantung maupun ukuran diameter pupil mata, kemudian diolah dengan teknologi VR.

Dengan begitu, diagnosis yang dibantu teknologi itu benar-benar lebih akurat. Manfaatnya pun diharapkan bisa lebih baik dalam menurunkan tingkat stress.

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *