Inilah Tipe Memori Anak yang Harus Diperhatikan

RUANGNEGERI.com – Ketika seorang anak mulai tumbuh, saat itu pula berbagai macam tipe memori yang ada akan menemani setiap langkahnya. Memori anak mulai merekam segala macam peristiwa yang dialaminya, entah itu menyenangkan atau menyedihkan.

Setiap orang tua hendaknya memahami dengan benar bagaimana ingatan akan memberikan dampak tertentu pada perkembangan anak. Mungkin saat masih kecil, peristiwa sederhana yang anak alami terlihat tidak berdampak pada hidupnya.

Namun ketika seorang anak menjadi dewasa, ingatan tersebut dapat berubah menjadi masalah besar pada kepribadiannya.

March H. Bornstein (2002) dalam buku berjudul Handbook of Parenting: Children and Parenting (Volume I), menyatakan bahwa ketika anak berusia di atas 2 tahun, perilaku lebih dipengaruhi oleh rasa otonomi anak. Selain itu juga sistem kontrol internal mulai aktif. Hal itu melibatkan melibatkan bahasa, memori dan kemampuan untuk merespons.

Memori memainkan peran penting sejak anak masih kecil. Keberadaanya akan memberikan pengaruh pada saat orang tua mengasuh anaknya dengan melibatkan berbagai kegiatan.

Orang tua harus berhati-hati dalam mengasuh anak. Sebab hal sekecil apapun dari orang tua dapat memberikan dampak bagi perkembangan anaknya.

Dalam hal ini, anak-anak tentulah mempunyai hak untuk mendapatkan ingatan mengenai peristiwa yang menyenangkan demi pertumbuhan usianya.

Baca juga:

Macam-macam Tipe Memori

Ingatan atau biasa disebut dengan memori terdiri dari berbagai macam jenis. Untuk melancarkan setiap kegiatan mengasuh anak, setiap orang tua haruslah memahami tipe memori yang ada.

Dalam bukunya Cognitive Psychology and Cognitive Neuroscience (2013), dijelaskan bahwa tiga tipe memori adalah sebagai berikut:

Pertama, Memori Sensorik. Memori jenis ini memiliki waktu penyimpanan terpendek, yaitu hanya milidetik hingga lima detik. Secara umum tipe memori sensorik dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

  • Memori Ikonik (input visual). Memori ini merupakan ingatan yang akan diingat seorang anak melalui apa yang ia lihat dalam waktu singkat, misalnya saja ingatan tentang kembang api. Anak tidak bisa mengingatnya seperti sebuah nilai, namun wujudnya tetap ada dalam ingatan anak.
  • Memori Gema (input pendengaran). Memori ini diperoleh anak melalui apa yang ia dengar dalam sekejap, misalkan saja suara motor yang tertabrak.

Kedua, Memori Jangka Pendek/ Memori Kerja. Memori jangka pendek merupakan penghubung antara memori sensorik dan memori jangka panjang.

Tipe memori ini akan membuat anak mengingat sesuatu yang bertahan dalam waktu yang lebih singkat. Misalnya saja mengingat barisan angka.

Ketika orang tua mencoba memperkenalkan angka 1 hingga 10 kepada seorang anak, maka kemungkinan besar yang lebih dulu diingatnya adalah 4 angka yang berada di baris paling depan.

Dan apabila ingatan ini tidak terus diasah, maka kemungkinan besar ingatan ini akan hilang. Inilah yang disebut dengan memori jangka pendek.

Ketiga, Memori Jangka Panjang. Memori jangka panjang merupakan sistem tempat memori berada di penyimpanan untuk durasi waktu yang lama.

Waktu lama yang merujuk pada jenis memori ini dapat berarti antara beberapa menit, beberapa tahun atau bahkan seumur hidup. Memori jangka panjang terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Memori Deklaratif. Memori ini juga dibagi dalam dua jenis lagi yang terikat satu sama lain, yaitu memori Episodik dan Semantik.

  • Memori deklaratif adalah memori yang mengacu pada ingatan untuk peristiwa tertentu yang pernah dialami oleh seseorang (informasi otobiografi). Biasanya, ingatan tersebut terhubung ke waktu dan tempat tertentu.
  • Sedangkan memori semantik adalah mengacu pada pengetahuan tentang dunia yang tidak terkait dengan kepentingan pribadi seperti kosakata, konsep, angka atau fakta.

2. Memori Implisit. Memori ini merupakan bagian dari ingatan bawah sadar.

Contohnya adalah cara meminum air, mandi, makan, mengikat tali sepatu atau menaiki sepeda. Bisa dibilang memori ini merupakan bagian dari pergerakan tertentu.

Tiap jenis memori selalu mempunyai peran dalam perkembangan anak. Orang tua dapat memperhatikan setiap perkembangan memori sensorik dan memori jangka pendeknya demi mendapatkan memori jangka panjang yang sesuai harapan.

Baca juga:

Integrasi Memori dalam Perkembangan Anak

Orang tua tidak bisa sepenuhnya mengendalikan apa saja yang tertanam dalam memori anak. Namun setidaknya bisa meminimalkan peristiwa traumatis serta hal buruk lainnya pada ingatan anak.

Hal itu dikarenakan ingatan traumatis dapat menjadi bagian memori jangka panjang yang akan mempengaruhi hidup anak ketika dewasa. Pembentukan memori jangka panjang senantiasa beriringan dengan pengalaman anak.

Sejalan dengan hal tersebut, orang tua mempunyai kesempatan untuk menciptakan integrasi memori yang mendukung perkembangan pribadi anak.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2011) dalam bukunya The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies To Nurture Your Child’s Developing, menjelaskan tentang cara untuk melakukan integrasi memori, yaitu:

Pertama, ciptakan implisit eksplisit. Bantu anak-anak membuat ingatan implisit (tidak jelas) menjadi eksplisit (jelas). Dengan begitu, maka pengalaman masa lalu tidak memengaruhi anak dengan cara yang melemahkan.

Kedua, jadilah pengendali jarak jauh. Ketika seorang anak enggan menceritakan kejadian yang menyakitkan, orang tua dapat mencoba menjadi pengendali jarak jauh.

Hal itu akan memungkinkan orang tua untuk menjeda, memutar ulang dan mempercepat cerita saat anak menceritakannya. Cara ini akan membuat anak secara tak sadar menceritakan hal terburuk sekalipun.

Ketiga, bantu mengingat. Bantulah anak-anak untuk melatih ingatannya dengan cara memberi banyak latihan untuk mengingat peristiwa penting.

Misalnya saja peristiwa di dalam mobil, di meja makan, di tempat bermain, sekolah maupun di lingkungan rumah.

Jika orang tua menyadari ada peristiwa buruk yang akan berdampak pada masa depan anak, seperti pelecehan seksual, maka peran penting orang tua adalah mencoba membantu anak untuk melupakan ingatan tersebut.

Untuk menghapus beberapa ingatan traumatis di masa kecil, maka orang tua dapat memberikan memori jangka panjang yang lebih menyenangkan dan berharga untuk anak.

Shara Nurrahmi

Guru dan Penulis, alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *