Seruan untuk Memboikot Produk Perancis Muncul di Berbagai Negara

RUANGNEGERI.com – Seruan aksi untuk memboikot produk Perancis masih terus dilakukan oleh Muslim di banyak negara. Pemboikotan massal dilakukan sebagai bentuk protes kepada Presiden Perancis, Emmanuel Macron.

Yakni atas pernyataannya yang membela karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad dan melindungi hak karikatur tersebut.

Sebagian besar umat Islam meyakini jika karikatur tersebut merupakan penghinaan. Sebab Islam melarang untuk menggambarkan Nabi Muhammad dengan cara apapun.

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok-kelompok Islam di seluruh dunia telah mengumpulkan para pendukung mereka untuk menentang karikatur dan sikap sekuler yang kukuh dari pemerintah Perancis.

Melansir dari Al-Jazeera (30/10/2020), puluhan ribu umat Muslim dari Pakistan hingga Bangladesh sampai dengan wilayah Palestina bergabung dalam protes anti Perancis.

Selain itu, aksi protes turun ke jalan juga dilakukan di Beirut, Suriah, Libya, Afghanistan, India, Turki, dan masih banyak lagi di negara lainnya.

“Kami mendesak pemerintah untuk menyampaikan kemarahan kami kepada Prancis dan memboikot produk Prancis hingga Prancis meminta maaf kepada publik atas apa yang telah dilakukannya terhadap Muslim” kata Akramul Haque, seorang pengunjuk rasa.

Selain unjuk rasa di jalan, di media sosial Twitter turut menyerukan boikot produk Prancis dari supermarket di negara-negara Arab dan Turki.

Tagar seperti #BoycottFrenchProducts dan #NeverTheProphet menjadi tren di berbagai negara termasuk Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi dan Turki.

Tidak sebatas pernyataan di Twitter, aksi pengambilan produk Prancis telah dilakukan di beberapa negara. Sampai akhirnya, Kementerian luar negeri Perancis mendesak negara-negara di Timur-Tengah untuk berhenti melakukan boikot tersebut. Menurutnya, seruan boikot tidak mendasar yang sedang didorong oleh minoritas radikal.

Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan telah menyerukan pemboikotan barang-barang Prancis dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada hari Senin 26 Oktober.

Ia mengatakan bahwa Muslim saat ini menjadi sasaran kampanye hukuman mati. Hal itu agar serupa dengan apa yang dilakukan terhadap orang Yahudi di Eropa sebelum Perang Dunia II.

“Para pemimpin Eropa harus memberitahu Presiden Prancis untuk menghentikan kampanye kebenciannya” tegas Erdogan. Ia juga menyatakan bahwa mitranya dari Perancis itu membutuhkan “perawatan pada tingkat mental” untuk sikapnya terhadap Islam radikal.

Perancis kemudian memanggil Duta Besarnya di Turki untuk konsultasi. Sikap mendukung Perancis dilakukan oleh pemerintah negara-negara Eropa. Mereka kompak mengutuk komentar Erdogan tentang pemimpin Perancis itu.

BACA JUGA: Turki dan Yunani Bersitegang di Laut Mediterania, Inilah Kekuatan Militer dan Dinamikanya

MUI Serukan Boikot Produk Prancis

Di Indonesia, seruan boikot disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020 tertanggal 30 Oktober lalu.

“MUI menyatakan sikap dan mengimbau kepada umat Islam Indonesia dan dunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Perancis hingga Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf,” tulis Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dalam edaran.

Pada hari Senin tanggal 2 November, Muslim Indonesia turut aksi ke Kedutaan Besar Perancis. Lebih dari 2.000 demonstran dengan bermayoritas mengenakan jubah putih, memenuhi jalan raya utama.

Protes dengan jumlah lebih kecil juga terjadi di kota-kota Indonesia lainnya, termasuk di Surabaya, Makassar, Medan, dan Bandung.

Pemerintah Indonesia pun sudah bersikap tegas. Presiden Joko Widodo mengutuk keras serangan di Paris dan Nice serta ucapan Macron yang dianggap ofensif terhadap Islam dan Muslim.

Presiden mengatakan bahwa kebebasan berekspresi yang menodai kehormatan, kesucian dan kesucian nilai dan simbol agama tidak dapat dibenarkan dan harus dihentikan.

“Menghubungkan agama dengan aksi teroris adalah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme, teroris adalah teroris, terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun” ujar Jokowi.

BACA JUGA: Perang Proksi di Suriah: Rivalitas antara AS dengan Rusia dan Iran

Presiden Macron Minta Dipahami Perannya

Mendapat banyak penentangan dari seluruh umat muslim di dunia, Macron memahami dan menghormati perasaan umat Islam yang dikejutkan oleh tayangan kartun Nabi Muhammad.

Tetapi ia menambahkan bahwa “Islam radikal” yang dia coba lawan adalah ancaman bagi semua orang, terutama Muslim. Dalam wawancara ekslusifnya dengan Al-Jazeera (31/10/2020), Macron meminta untuk memahami perannya saat ini.

Yakni dengan mendukung ketenangan dan juga melindungi hak-hak kebebasan bersuara di negaranya. “Saya akan selalu membela di negara saya kebebasan untuk berbicara, menulis, berpikir, menggambar” dikutip dari laman Aljazeera.

Macron juga mengecam apa yang dia gambarkan sebagai distorsi dari para pemimpin politik, dengan mengatakan bahwa orang sering dituntun untuk percaya bahwa karikatur adalah ciptaan Perancis.

“Saya pikir reaksi itu muncul sebagai akibat dari kebohongan dan distorsi kata-kata saya. Karena orang-orang mengerti bahwa saya mendukung kartun-kartun ini.”

“Karikatur itu bukan proyek pemerintah, tapi muncul dari surat kabar bebas dan independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *